f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
umat moderat

Islam Sumber Kedamaian bagi Kemanusiaan (1)

Islam agama yang Allah takdirkan menjadi agama penyempurna agama-agama lain, dan menjadi umat pertengahan harus memiliki rasa tangung jawab terhadap perdamaian dunia. Pasalnya, Allah menjadikan agama Islam rahmat an lil alamin. Rahmatan lil alamin berarti rahmat bagi semesta alam. Dalam Al-Qur’an “rahmat” diartikan kasih sayang, memberi keamanan dan lain-lain, sedangkan “lil alamin” artinya bagi semesta alam. Umat Islam harus menjadi orang yang mengasihi untuk alam semesta, umat yang menjunjung tinggi rasa keadilan dan toleransi.

Setiap umat Islam, wajib menunjukkan bahwa Islam adalah kasih sayang untuk semua alam, untuk manusia, alam dan hewan. Umat Islam melarang merusak lingkungan, membunuh atas nama agama, dan menyiksa manusia hanya karena berbeda pendapat.

Makna Rahmat

Agus Mustofa dalam bukunya Membonsai Islam menjelaskan, kata rahmat di dalam Al-Qur’an diulang-ulang sebanyak lebih dari 120 kali. Maknanya sangat beragam tetapi intinya adalah pemberian Allah yang berkaitan dengan kenikmatan dunia akhirat, kasih sayang, kesejahteraan, dan ilmu yang bermanfaat.

Pertama, makna ‘rahmat’ adalah pemberian Allah yang berkaitan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-nya (surga) dan limpahan karunianya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-nya.(QS.An-Nisa ayat:175).

Makna kedua kata ‘rahmat’ bisa berarti petunjuk Allah kepada seseorang sehinga mampu bersikap baik, lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap manusia. Bahkan terhadap orang yang tidak seagama pun.

Allah berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadanya .” (QS.Ali-Imran ayat:159).

Yang ketiga, kata ‘rahmat’ juga bisa bermakna pemberian Allah yang membahagiakan dan menyejahterakan karena perbuatan kita yang konstruktif terhadap lingkungan sekitar. Sebab, jika kita melakukan perbuatan sebaliknya merusak lingkungan, yang datang kepada kita bukan rahmat, melainkan bencana. Allah berfiman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat allah amat dekat kepada orang orang yang berbuat baik .” (QS.Al-A’raf ayat 56).

Makna Lil Alamin

Agus Mustofa melanjutkan, kata kunci kedua selain rahmat adalah lil alamin. Bahwa rahmat itu ternyata diberikan kepada seluruh alam, bukan hanya manusia, juga bukan hanya orang-orang muslim, atau orang mukmin dan juga bukan hanya untuk orang muttaqin, tetapi lil alamin, yaitu untuk seluruh alam. Karena itu kalimatnya bukan berbunyi, rahmatan lil muslimin, rahmat lil mu’minun atau rahmatan lil muttaqin. Jadi, Nabi Muhammad benar-benar seorang khalifatu-fil-al-ardh (pemimpin di dunia) yang diutus oleh Allah untuk membenahi kehidupan di muka bumi secara keseluruhan. Bukan sepenggal-penggal, bukan sekelompok-kelompok dan bukan pula sepotong-potong.

Sesuai dengan di atas, bahwa umat Islam harus menjadi umat yang memberikan keamanan bagi umat manusia dan alam, serta membuat perdamaian di dunia dan berguna bagi manusia. Tatkala Nabi Muhammad diutus menjadi rahmatan lil alamin, umat Islam harus bisa melanjutkan apa yang beliau lakukan. Karena itu, umat Islam tidak hanya memahami ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam di teks kitab suci saja atau mendengar ceramah para alim ulama; tetapi menjadikan pandangan atau ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, baik sesama umat Islam dan umat agama lain.

Dengan demikian, umat Islam untuk memberikan kedamaian dan keteduhan di tengah-tengah masyarakat yang mejemuk. Menjadi agama mayoritas yang dapat mengayomi minoritas, apalagi Indonesia diperjuangkan bersama-sama, maka umat islam di indonesia juga harus menghapus diskriminasi terhadap kelompok lain(Hal:174).

Islam yang Menyampaikan Kebaikan Universal

Untuk menerapkan Islam yang rahmatan lil alamin, kita juga harus menyampaikan pesan-pesan kebaikan universal; yaitu pesan kebaikan untuk semua umat manusia. Menurut Agus Mustofa dalam bukunya Membonsai Islam mengatakan; berdasarkan nilai-nilai universal itulah Allah memberikan perintah lewat para Rasul agar membentuk tatanan kehidupan dunia yang adil dan sejahtera, menyenangkan dan membahagiakan bahkan tenteram dan damai.

Untuk itu, agar kita bisa memahami bentuk peradaban yang di perkenalkan Islam itu kita harus memahami pokok-pokoknya. Di antara yang paling mendasar adalah kepehaman terhadap yang disebut bertakwa; karena pada konsep takwa inilah Allah meletakkan nilai-nilai dasar kualitas seorang manusia, suatu komunitas atau bahkan sebuah bangsa.

Mustofa melanjutkan, bahwa orang, komunitas atau bangsa yang tidak bertakwa dikatakan berkualitas jelek. Sebaliknya mereka yang bertakwa adalah yang baik dan kemudian menghasilkan tatanan kehidupan yang membahagiakan. Dimanakan kita bisa memperoleh kepahaman tentang takwa? Ternyata Al-Qur’an memuat informasi itu dalam jumlah yang sangat banyak.

Salah satu firman Allah ini, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhamu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang- orang yang bertakwa (QS.Ali-Imran ayat:133). “Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”(QS.Ali-Imran ayat:134).

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat megampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak merenuskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS.Ali-Imran ayat 135).

Bersambung…

Bagikan
Post a Comment