Islam yang Menyayangi Kaum Disabilitas
Langkahnya tertatih-tatih, meraba-raba, walaupun begitu, dia terus mempercepat lajunya. Di dalam dirinya bergejolak ingin menemui sang sumber ilmu. Teramat haus dirinya pada ilmu. Kedua matanya tak dapat melihat, namun mata hatinya sungguh melihat dengan terang.
Wajahnya sumringah, “ya Rasulullah, ajari aku, apa yang telah diajarkan padamu!” Abdullah bin Ummi Maktum yang tuna netra itu menyeru hingga tiga kali, memohon agar dirinya mendapat ilmu.
Rasulullah yang sedang berbicara menyampaikan dakwah pada tokoh-tokoh petinggi Quraish—Uthbah bin Rabi’ah, Amr bin Hisyam (Abu Jahal), dan Abbas bin Abu muthallib (yang ketika itu beliau belum masuk Islam)— merengut tipis.
Mungkin di benak beliau shallahu ‘alaihi wa sallam “tunggulah sejenak, aku sedang berbicara pada para petinggi, para pembesar suku. Barangakali keislaman mereka akan berpengaruh pada para pengikutnya.” Namun sikap Nabi ini mendapat teguran dari langit:
‘abasa wa tawallaa.
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
Ketika datang seorang yang buta.”
Dan seterusnya, (lihat al-Quran surat Abasa bagian awal)
***
Di kalangan kita—adalah wajar, jika misalnya, seorang kiai atau ustadz sedang ceramah, namun tiba-tiba ada seorang santrinya yang mengganggu memotong pembicaraan, lalu sang kiai ‘merengut’ atau bahkan menjewer si santri.
Namun berbeda dengan Rasulullah yang Allah tetapkan: wa innaka la’alaa khuqin ‘adzim, engkau Muhammad sungguh berada di atas akhlak yang agung (Qs. Al-Qalam: 3). Standar akhlak Rasulullah adalah di atasnya akhlak yang terhormat nan terpuji.
Walau Rasulullah yang muka masamnya, kata Ustadz Mokhammd Yahya, pengasuh kajian tafsir tematik Nurul Hayat—hanya menautkan tipis kedua alisnya kepada seorang tuna netra. Bukankah Abdullah Ibn Maktum tak bisa melihat muka masam beliau? Bukankah dia tak akan tersinggung?
Jika ditadabburi, Allah mungkin hendak mengajari kita menyamakan penghormatan kita kepada seluruh manusia, yang termasuk di dalamnya penyandang disabilitas. Perlakuan penghormatan kita pada mereka harus diperhatikan, tak ada bedanya dengan yang lain.
Walau kaum tuna netra yang tak dapat melihat, hendaknya kita tidak berlaku buruk di balik ketidaktahuan mereka. Allah mengapresiasi semangat Abdullah Ibnu Ummi Maktum “dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?” (Qs. Abasa: 3-4)
Di sini Allah, Tuhan Yang Maha Adil, tidak melihat berapa kekayaan orang yang berhak mendapat pengajaran dari Nabi. Jika orang kaya itu abai dan menyombongkan diri, maka tentu tak pantas mendapat ajaran cahayaNya.
Namun jika ada orang yang walau buta lagi miskin, namun bersemangat dan berupaya menyucikan diri, maka ia-lah yang pantas diperhatikan dan diberi ajaran cahayaNya. “Sesekali jangan begitu, (Muhammad), sungguh (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan!” (Qs. Abasa: 6)
Setelah mendapat teguran dari Allah, ketika datang Abdullah Ibnu Ummi Maktum, Rasulullah selalu menyambutnya dengan wajah sumringah dan memeluknya, bahkan dalam suatu riwayat, Rasulullah sampai menggendongnya di punggung beliau, “ahlan wa sahlan, selamat datang, duhai orang yang karenanya aku ditegur dari langit…”
Keadilan bagi Kaum Disabilitas
Sebagai contoh, seorang pebengkel yang disabilitas di Jawa Tengah, tak mempunyai dua kaki, ketika diwawancari tentang semangatnya dalam bekerja dan berkarya—mengatakan bahwa dirinya tak ingin dikasihani. Dirinya hanya ingin dihargai sebagaimana orang biasa dihargai karena usahanya. Dirinya hanya ingin dibantu untuk produktif.
Hingga saat ini, masih banyak orang yang memandang kaum disabilitas dengan sebelah mata. Bahkan tak segan mencemooh dan menjadikan bahan candaan untuk bulliying. Kaum disabilitas seringkali terpinggirkan dan ketika ingin produktif, harus berjuang dengan susah payah. Berkali lipat bebannya.
Keadilan bagi kaum disabilitas adalah dengan disediakannya akses dan fasilitas yang ramah bagi mereka agar mudah melakukan berbagai aktifitas. Di ruang publik, Indonesia sendiri masih minim akses dan fasilitas bagi kaum disabilitas. Trotoar, bus, dan toilet bagi kaum disabilitas hanya ada di kota-kota besar dan masih sangat minim. Di momen Hari Disabilitas atau Disabilitas Internasional pada 3 Desember ini, kita diingatkan kembali tentang kehadiran kita untuk mereka.
Akhirul kalam, kasih sayang dan saling menghargai harusnya kita selimutkan ke tiap-tiap elemen semesta—tak peduli perbedaan fisik hingga batasan geogarafis, tak peduli berapa banyak harta dan tingginya jabatannya, tak peduli perbedaan budaya hingga keimanan.
Islam sendiri memerintahkan untuk mengasihsayangi semua makhluk tanpa terkecuali, termasuk kaum disabilitas. Karena kita telah dititipi misi Rasulullah, yang merupakan ruh Islam itu sendiri, “wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamiin, kami tak megutusmu, tak lain untuk menjadi kasih sayang bagi semesta alam.”
Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabaya
