f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
fachruddin

AR. Fachruddin : Pemimpin yang Bersahaja

Keberadaan organisasi-organisasi Islam di Indonesia, banyak melahirkan tokoh-tokoh yang dihormati, dicintai dan dikenang oleh umat. Muhammadiyah misalnya, pernah melahirkan seorang tokoh yaitu AR Fachruddin. Dikenal sebagai tokoh agama dan mubaligh yang luwes dan disukai banyak orang, serta seorang pribadi yang zuhud, bersahaja dan penuh kasih sayang.

Biografi A.R. Fachruddin

K.H. AR. Fachruddin pria dengan nama lengkap K.H.Abdul Rozak Fachruddin atau pak AR, lahir di Pakualaman, Yogyakarta pada tanggal 14 Febuari 1916. Ayahnya adalah K.H.Fachruddin adalah seorang lurah naib atau penghulu di Puro Pakualaman yang diangkat oleh kakek Sri Paduka Paku Alam VIII, berasal dari Kulonprogo. Sementara ibunya adalah Siti Maimunah binti K.H.Idris atau Nyai Fachruddin adalah anak dari seorang penghulu di Pakualaman.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa K.H. Fachruddin berasal dari keluarga muslim yang terpandang . Oleh karena itu, kedua orang tua AR Fachruddin sangat memperhatikan pendidikan putranya. Hal ini dibuktikan dengan cara menyekolahkan anaknya tersebut ke berbagai sekolah muslim Muhammadiyah yang ada di Yogyakarta.

Latar Belakang Pendidikan Muhammadiyah

Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R. Fachruddin bersekolah formal di Standard School Muhammadiyah Bausasran. Setelah ayahnya tidak lagi menjadi penghulu dan usaha dagang batiknya juga jatuh; mengharuskan ia untuk pindah sekolah dan pulang ke Bleberan. Pada tahun 1925, ia pindah ke Sekolah Dasar Muhammadiyah Kotagede dan setelah tamat dari sana tahun 1928, ia masuk ke Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah belajar di Mualimin, dia pulang untuk belajar kepada beberapa Kyai seperti K.H.Abdullah Rosad ,K.H.Abu Amar dan K.H.Fachruddin, yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

Tahun 1930 merupakan tahun yang berat bagi A.R.Fachruddin karena ia harus kehilangan ayah sekaligus guru tercintanya. Ayahnya meninggal di Bleberan dalam usia 72 tahun. Tiga tahun kemudian, A.R.Fachruddin kembali menuntut ilmu di Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur yang didirikan orang tua senior yang juga sahabatnya M.Dawam Rozie.

Baca Juga  Nawal el-Saadawi: Seorang Pejuang Hak-Hak Perempuan Arab
Mengajar dan Mengabdi pada Muhammadiyah

Dua tahun berselang A.R.Fachruddin pindah ke Sumatera Selatan untuk menemani sahabatnya itu mengajar di Madrasah Muhammadiyah Talang Balai. Setelah sepuluh tahun mengajar dan berpindah-pindah di daerah Sumatera Selatan; pada tahun 1944 AR Fachruddin yang telah menikah kembali ke Kulon Progo. Ia mengajar di Darul Ulum dan menjadi pengurus Muhammadiyah Sewugalur.

Kemudian pada tahun 1950 ketika menjabat jawatan agama provinsi DIY, AR Fachruddin menyewa sebuah rumah di kawasan Kauman, Yogyakarta. Meski tinggal disebuah rumah di gang sempit, tidak jarang ada tokoh nasional mengunjunginya untuk berdiskusi atau sekedar bertemu. Pada masa ini A.R.Fachruddin telah menjelma menjadi kyai muda yang kerap diundang memberi ceramah oleh berbagai kalangan.

Tahun 1959 saat diangkat menjadi kepala Kantor Penerangan Agama provinsi Jawa Tengah, A.R.Fachruddin pindah ke Semarang sendirian. Lima tahun kemudian ia kembali ke Yogyakarta dan bertugas sebagai kepala Kantor Penerangan Agama provinsi DIY hingga periode pensiun pada tahun 1972. Pada tahun 1968 saat kyai A.R.Fachruddin menjabat kepala Kantor Penerangan Agama provinsi DIY, ia terpilih menjadi ketua umum pimpinan pusat Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah ke-37. Namun A.R.Fachruddin menolak dan memilih menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada kyai Fakih Usman. Tetapi satu minggu setelah pengangkatannya, Kyai Fakih Usman meninggal dan A.R.Fachruddin dipilih warga Muhammadiyah untuk menjadi pengganti Kyai Fakih Usman sebagai ketua Umum PP Muhammadiyah.

Menolak Pemberian Rumah dan Mobil

Setelah terpilih menjadi ketua Umum PP Muhammadiyah sesuai keputusan sidang Tanwir di Ponorogo tahun 1969; Pak AR menempati rumah di jalan Cik Di Tiro Nomor 19A Yogyakarta yang dipinjamkan PP Muhammadiyah. Selain sebagai tempat tinggal keluarganya, Pak AR kemudian juga menyewakan beberapa ruangan kosong di rumah yang ia huni sebagai kos-kosan untuk mahasiswa.

Baca Juga  Seri Belajar dari Tokoh Filsafat: Filter Diri ala Socrates

Banyak orang yang ingin membangunkan rumah untuk pak A.R tetapi beliau menolak dan ia juga pernah ditawari satu buah mobil gratis oleh salah satu perusahaan besar tetapi pak A.R juga menolak. Hal inilah yang membuat pak A.R dikenal sebagai pribadi yang zuhud yaitu meninggalkan kecintaannya pada dunia. Meskipun ia adalah seorang tokoh besar, tetapi beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana oleh para mahasiswa yang tinggal disana.

Selama menjadi ketua umum PP Muhammadiyah, keteladananPak AR. Fachruddin yang selalu hidup sederhana kian diketahui banyak orang. Untuk mendukung mobilitas dakwah yang ia lakukan misalnya, AR. Fachruddin hanya menggunakan sepeda motor tua pemberian Prawiro Puyono, seorang saudagar kaya dari Jogja. Pak AR juga sempat berjualan bensin eceran di rumahnya untuk mendapat tambahan sedikit uang untuk membiayai hidup keluarganya.

Berperan Besar dalam Membangun Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Meskipun beliau merupakan pimpinan dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, KH AR.Fachruddin tetap aktif berdakwah. Ia berdakwah dimana saja tanpa membeda-bedakan undangan yang datang kepadanya. Ia juga kerap diminta mengisi ceramah di radio dan televisi. Selama memimpin Muhammadiyah AR. Fachruddin dikenal sebagai pribadi yang luwes; ia juga memiliki gaya komunikasi yang santun sehingga siapapun akan segan dan menaruh hormat padanya.

Pak A.R diketahui juga dekat dengan presiden Soeharto, berkat kedekatan ini pak A.R bisa mengajak Soeharto untuk ikut pembelian tanah senilai 500 juta Rupiah yang kini menjadi lahan kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY.

Dari riwayat perjalanan hidup AR .Fachruddin yang penuh perjuangan dan pengabdian, serta pada sosok pribadinya yang sederhana, humoris dan ramah, kita bisa menemukan banyak warisan keteladanan-keteladanan yang sudah sepantasnya selalu kita hidupkan untuk menjalani dan mengupayakan kehidupan bersama dalam kedamaian dan limpahan rahmat Allah Yang Mahakuasa.

Baca Juga  Louise Gluck: Peraih Nobel Bidang Sastra

Beliau juga sering berpesan untuk tidak terikat kepada dunia, sebab dalam hati manusia ada dua hal yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada dunia. Jika kita mencintai dunia maka Allah akan cemburu, karena sesungguhnya Allah itu sangat cemburu kepada hambanya yang mencintai dunia melebihi kecintaannya kepada Allah.  

Bagikan
Post a Comment