Mengembangkan Akhlak Bukan Sebatas Formalitas
Kata akhlaq bukanlah hal yang tak asing lagi untuk didengar. Tak jarang, seseorang memaknai sebuah akhlaq sebagai pengembang kejiwaan diri sendiri, akan tetapi dari satu hingga seluruh manusia memaknai sebuah akhlaq sebagai formalitas semata. Artinya, akhlaq yang selama kita kembangkan hanya sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam akal kita. Bukan sebagai penerap yang merubah jiwa seseorang dari yang buruk hingga yang baik.
Akan tetapi, apakah menjadi suatu kebenaran terhadap akhlaq yang hanya termaknai sebagai pengembang formalitas pengetahuan seseorang. Lantas bagaimana jika pengetahuan mengenai akhlaq merupakan sebuah ketiadaan? Apakah semua yang seseorang lakukan selama ini tidak disebut akhlaq, dengan alasan tidak ada pengetahuan yang merujuk kepada akhlaq? Jika memang bukan seperti itu, lalu seperti apakah akhlak yang katanya sebagai pengembang jiwa?
Memahami Akhlaq Sebagai Pengembang Jiwa
Dari bahasa kata akhlaq adalah berasal dari bahasa arab jama’ dari bentuk mufradatnya khuluqun yang berarti perilaku, budi pekerti, perangai, tingkah laku, dan tabi’at. Akhlaq sendiri ada dua macam, yaitu akhlaq mahmudah dan akhlaq madzmumah. Sebenarnya tanpa adanya pengetahuan tentang akhlaq, pada dasarnya manusia terciptakan sudah memiliki satu kesatuan akhlaq yang melekat pada diri. Karena sebagai pengetahuan, maka pengetahuan tentang akhlaq menjadi sebuah refrensi akan pengembang sebuah perilaku yang semulanya buruk menjadi sebuah kebaikan.
Sejatinya, persoalan tentang akhlaq sebagai pengembang jiwa bukan perkara mampu ataupun tidak dalam mengembangkannya. Melainkan kemauan diri seseorang yang memang terbentuk sejak awal dengan niat. Tugas adanya sebuah pengetahuan tentang akhlaq, tak lain sebagai pengatur hidup seseorang menuju kebaikan. Dengan adanya pengetahuan ini, sebagai pelajar bukan hanya memahami sebatas pengetahuan saja, melainkan menjadi kewajiban dalam mengamalkannya dalam sehari-hari.
Dalam berencana membuat sebuah roti, banyak kemustahilan bisa jika memang berencana tanpa mengadakan sebuah kemauan dengan praktek. Artinya, hanya sebatas pengetahuan membuat roti saja yang didapat, akan tetapi dalam mengamalkan sebuah pengetahuan membuat roti diremehkan, bahkan diabaikan. Hal ini sama sekali bukan pengaruh dari mampu tidaknya seseorang. Jika memang seperti itu, lantas kemauan yang tertanam pada diri masing-masing merupakan sebuah ketidakmanfaatan semata. Jadi, pengetahuan sama sekali tidak mengalami nilai kehidupan yang seharusnya diterapkan dalam sehari-hari.
Begitu pula bagi mereka yang memahami akhlaq sebagai pengembang jiwa, tidak masalah kamu mampu ataupun tidak dalam mengembangkan sebuah akhlaq dalam jiwa. Selagi kamu mengerti bagaimana mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari itu sudah merupakan prestasi tersendiri dalam mengembangkannya. Sehingga, pengetahuan tentang akhlaq yang di dapat bukan lagi sebuah wacana, melainkan sebuah penerap dalam kehidupan sehari-hari.
Mengembangkan Akhlaq itu Bukan untuk Dipertontonkan
Banyak pelajar ataupun dari kita di luar sana yang mengembangkan akhlaq hanya untuk mendapat sanjungan dan tontonan oleh banyak orang. Padahal, kita tahu bahwa dalam rangka mengembangkan sebuah akhlaq itu bukan untuk hal-hal tersebut, melainkan berupaya belajar memperbaiki diri dari yang semulanya buruk menjadi yang lebih baik. Sering kali tidak kita sadari, biasanya penyebab daripada timbulnya akhlaq untuk tontonan dalam rangka pengembangan karena dengan adanya iri hati seseorang atau keterpaksaan diri untuk menjadi baik.
Memperbaiki diri tak lain adalah kewajiban seorang untuk menjadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Berpikirlah yang jernih, bahwa hidup yang selalu beriringan dengan kejelekan merupakan sebuah momen di mana ketidaknyamanan selalu mengiringinya pula. Baik dari ocehan orang lain yang berupa ghibah, dsb. Tetapi jika memang kita tidak bisa berpikir jernih, hukum adanya interopeksi diri sendiri sama sekali tidak berlaku.
Karena sifat ketidakdewasaan masih melekat pada diri mereka, yang ada justru iri hati dan keterpaksaan diri untuk menjadi baik. Yang mana hakikat di belakang itu semua mengandung unsur kejelekan yang orang tidak ketahui. Sehingga karena iri dan terpaksa, justru mengundang niat diri sendiri hanya untuk ditonton atau dipuji oleh masyarakat sekitar, bukan malah untuk menjadi suri tauladan yang baik.
Tidak Ada Kata Minder dalam Mengembangkan Akhlaq
Sejak SD bahkan hingga bergelut di ajang perkuliahan, membahas perkara minder sama sekali tidak ada habisnya, baik dari segi materi bahkan hingga tempat tinggal hidup. Justru semakin kita dewasa semakin menyadari pula bahwa perkara minder inilah yang menghalangi kita berbuat apapun. Dari kesadaran ini pula malah membawa kita bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Banyak di luar sana dari lantaran dewasa, sebenarnya mereka tau apa yang mereka lakukan itu mengandung unsur kebaikan, yang membuat mereka minder sebenarnya tidak ada rasa percaya diri. Mereka dengan sengaja mengikuti teman-temannya karena takut mendapat cap sok alim atau sok baik.
Rasa kurang percaya diri banyak sekali menimbulkan diri sendiri sulit untuk melangkah maju, dan banyak sekali pula kesulitan dalam merubah akhlaq yang sebenarnya menjadi cita-cita sejak awal. Memang ada kalanya, di saat proses dalam pengembangan diri untuk menjadi yang lebih baik, ada saja niat seseorang yang ingin merusak niat baik kita. Maka, mereka akan menghalalkan segala cara agar yang kita niatkan menjadi semakin minder. Jika memang posisi kita seperti itu, solusi yang tepat adalah jangan hiraukan mereka yang berusaha menjatuhkan niat kita.
Percaya pada diri sendiri saja, selagi tujuan yang kita tempuh baik, lakukanlah! Jangan khawatir dengan ocehan dan ejekan orang lain yang berusaha menjatuhkan niat kita, karena sebuah ocehan dan ejekan muncul ketika mereka iri terhadap apa yang kita niatkan. Konsisten dan fokus terhadap niat dan tujuan kita yang berkeinginan mengubah akhlaq kita, insyaallah, apa yang kita inginkan terwujud dengan sendirinya.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah
