f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
adab

Gen Z Wajib Melek Keuangan dan Digital

Di zaman fast growing technology ini, banyak sekali tantangan yang harus diikuti dengan sangat cepat oleh semua generasi agar tidak mudah terbawa arus yang kurang tepat dalam mengenal suatu perkembangan teknologi yang baru. Terlebih lagi, teman-teman gen z sudah lahir di masa penuh serba serbi digital. Untuk itu memahami bagaimana menjadi seseorang yang bijak dalam menangani masalah finansial juga digital adalah hal yang sangat penting loh!

Maka, pada tanggal 28 – 30 Desember kemarin, teman-teman dari PDNA Kota Yogyakarta, gerakan Jam Main Kita. Dan l Birru Organizer mengadakan 3 rangkaian acara webinar yang dikhususkan untuk remaja salah satunya dengan tema “Gen Z Wajib Melek Keuangan dan Digital”.

Webinar ini menghadirkan narasumber yang sangat memahami bidang masing-masing; yaitu kak Badai selaku advisor dari @nabungkids mengajak teman-teman untuk mulai memahami pentingnya menjadi pribadi yang bijak dalam mengatur keuangan. Dan juga kak Eric sebagai founder dari @anakpanah.id dengan sangat inspiratif mengajak kawula muda lebih berhati-hati dalam penggunaan digital.

Mengenal Literasi Finansial

Menurut kemendikbud, “Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.”

Seseorang yang sudah melek keuangan sudah memahami konsep keuangan dasar; yaitu tau cara menghasilkan uang, tahu cara mengelola uang, dan tahu cara menginvestasikannya. Tapi orang yang sudah melek finansial belum tentu sudah memiliki skhill dalam mengontrol keuangan mereka. Jadi memahami ilmunya juga harus diseimbangkan dengan skill mengontrol finansial masing-masing. Karena uang memiliki nilai waktu, maka kita harus paham cara mengelolanya. Sebab nilai mata uang ini bisa saja terus turun menurun dari waktu ke waktu, atau disebut dengan inflasi mata uang.

Beberapa hal sebenarnya sangat dekat dengan kita di kehidupan sehari-hari adalah kontribusi kita dalam kemajuan fintech di Indonesia. Contohnya penggunaan Gopay, OVO, dan lainnya dalam pembayaran adalah salah satu inflasi keuangan, tapi tidak sedikit penggunanya kurang literate dalam mengelolanya.

Baca Juga  Kepemimpinan Generasi Masa Depan di Era Milenial
Mulai Membedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan

Jadi, teman-teman generasi z yang akan menghadapi berbagai perkembangan teknologi ini harus mulai bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, karena sesungguhnya sesuatu yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan loh! Biasanya kebutuhan itu bersifat ekonomis, sedangkan yang keinginan itu lebih mahal.

Misalnya kalau kita sedang lapar yang kita butuhkan adalah makanan. Dan banyak sekali cara untuk membeli makanan dengan harga yang terjangkau misal nasi padang, dan lainnya. Akan tetapi kita ingin juga untuk makan burger, pizza sedangkan tujuan akhirnya sama saja, yaitu sama-sama kenyang.

Tetapi hal di atas bukan berarti melarang kita untuk tidak memiliki keinginan kok! Semua orang pasti memiliki suatu keinginan yang biasanya sudah direncanakan. Oleh sebab itu kita bisa dengan bijak  mengatur keuangan kita untuk keinginan tersebut dengan mengelola keinginan tersebut pada pos “tujuan keuangan”; sehingga pemenuhan dan pembelanjaan keinginan dilakukan secara sadar (conscious consumption).

Merancang Tujuan Keuangan

Memiliki dan menghasilkan uang saja tidak cukup. Maka kita harus mulai untuk memetakkan setiap rezeki yang kita miliki dengan tujuan-tujuan yang akan kita capai dengan uang. Tujuan keuangan adalah suatu hal yang ingin dicapai dalam masa yang akan datang di mana dalam proses pencapaiannya mempergunakan alat yang disebut uang. Contohnya :

  • Bisa memiliki handphone impian, memiliki sepeda impian,
  • Bisa naik haji/umroh di usia muda,
  • Memberangkatkan orang tua untuk pergi haji, dsb.

Hal ini tergantung dengan kemampuan setiap orang masing-masing yaa! Tapi tidak semua keinginan itu harus menggunakan uang. Misalnya apabila kita ingin memiliki badan yang sehat, kita bisa milih untuk berolahraga secara gratis seperti jogging. Dan tujuan utama untuk sehat juga tercapai, iya bukan?

Alasan Pentingnya Mampu Mengelola dan Menabung Keuangan

Alasan kenapa kita harus megelola keuangan dengan baik salah satunya yaitu karena uang yang merupakan rezeki titipan dari Allah SWT yang akan diminta pertanggungjawaban dalam penggunaannya. Selain itu karena menabung juga bentuk dari usaha/ikhtiar kita sebagai manusia untuk mendapatkan keinginan kita. Selain itu kita bukanlah pemegang kuasa atas kehidupan yang apa saja bisa terjadi sewaktu waktu di masa yang akan datang. Jadi mengelola keuangan itu bukan hanya memberi manfaat untuk kehidupan kita yang sementara di dunia saja, namun bisa menjadi penolong kita di alam akhirat kelak loh!

Baca Juga  Peluang Dakwah Digital di Era New Normal

Selain kak Badai yang berbagi tentang pentingnya literasi finansial, kak Erik juga berbagi tentang permasalahan-permasalahan era digital yang sering terjadi di sekeliling kita. Menurut kak Erik, permasalahan orang Indonesia adalah kebanyakan dari kita masih di level pengguna, bukan di level menciptakan teknologi baru, jadi kita harus sangat bijak dalam menggunakannya.

Mengetahui Jenis-jenis Permasalahan Digital yang Umum di Masyarakat

Pertama, perasaan emosi yang mengalahkan fakta. Ketika rasionalitas membiarkan emosi dan hasrat memihak pada keyakinan masing-masing meskipun fakta menunujukkan hal yang berbeda-beda.

Kedua yaitu hoax yang merupakan berita yang biasanya tentang informasi bohong, tidak utuh, atau bahkan hanya untuk memenuhi hasrat untuk kepentingan tertentu. Jangan sampai kita ikut menyebarkan berita boax tanpa tabayyun karena itu hal yang tidak sesuai dengan apa yang Islam ajarkan.

Ketiga, emosial yang pada sesorang yang mengalami bagian ini biasanya apabila pengguna digital melakukan kesalahan dan ada orang lain yang ingin mengingatkannya, mereka tidak mau menerima masukan karena menganggap apa yang mereka lakukan atau pikirkan itu adalah hal yang benar, tidak perduli itu merugikan orang lain atau tidak.

Jenis yang terakhir adalah apologetik. Seseorang dengan tipe ini adalah mereka yang sangat nyaman dengan circle mereka dan tidak tertarik untuk belajar dari banyak orang dengan banyak topik, alhasil mereka hanya selalu mendapat lingkup pembahasan yang sama. Padahal hal seperti ini akan menyempitkan pengetahuan mereka sendiri.

Menjadi Pribadi Yang Mampu Beradaptasi Terhadap Perubahan

Dalam dunia literasi digital kita dituntut untuk mampu memahami informasi berbasis komputer. Harapannya hal ini akan memudahkan kita dalam beradaptasi dengan segala perkembangan yang ada dari waktu ke waktu.

Beberapa sikap penting yang bisa kita latih agar terus bertahan di dunia digital yaitu:

  1. Critical thinking: kritis, percaya diri, berwawasan luas, membaca buku-buku yang memadai, analistis, klarifikatis, konstruktif, dan komparatif.
  2. Scientific temper: argumenttaif, selalu mencari data dan fakta, terukur dan teruji,  menghargai pendapat orang lain, menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
  3. Global citizenship mentality: pergaulan yang luas, komunikatif, kolaboratif, kompetitif, mampu menghargai orang lain.
  4. High order of thinking skill: daya cipta, kreatif dan inovatif, mengahsilkan karya, dan mampu menghargai karya.
Baca Juga  Geliat Ekonomi Masyarakat Sektor UMKM di Tengah Pandemi Covid-19 (2)

Selain itu teman-teman, sosial media bukanlah lingkungan yang aman dan tentram untuk bersenang-senang saja loh. Di dunia digital ini tidak semua pengguna adalah konsumen, atau pembaca biasa. Ada sekelompok orang yang mengontrol untuk membuat tren baru agar menjadi perhatian oleh khalayak ramai. Dalam stage yang paling tinggi inilah disebut dengan narator. Apapun berita untuk menguntungkan suatu pihak akan mereka buat lalu mendapat banyak komentar dari pengguna lain yang menjadikannya populer. Biasanya di sini korban selalu disudutkan karena tidak bisa mengontrol ramainya pemberitaan yang dibuat oleh narator.

***

Dalam hal ini, kita harus lebih melek digital agar berhati-hati dan tidak mudah menerima berita hoax tanpa mencari data yang akurat. Karena sebagai seorang muslimpun akan menjadi bahaya saat kita ikut terjerumus menyebarkan fitnah. Tanpa kita sadari melalui jari-jari kita sendiri saat kita mengetik di sosial media platform.

Jadi, poin penting yang harus kita terus tingkatkan adalah mampu melek keuangan sejak dini akan yang bisa memudahkan kita mengelolanya sesuai kemampuan dan keinginan kita. Apaalagi hal ini  juga sebagai bekal masa depan di dunia maupun akhirat. Ditambah literasi digital mengajarkan kita sebagai warga dunia yang selalu beradaptasi dengan perubahan dan harusnya menjadikan kita menjadi pribadi yang bijaksana dalam mengikuti arus perkembangan zaman dan mampu mendunia. Ketika zaman berubah, kita tidak bisa lagi membiarkan teknologi mengontrol kita, kita semualah yang harus bisa mengontrolnya.

Bagikan
Post a Comment