f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kurban daring

Fikih Idul Kurban Saat Pandemi: Daring atau Luring?

Pandemi Covid-19 saat ini masih menjadi situasi yang perlu diwaspadai. Pada tahun ajaran baru sekolah kali ini, berdasarkan rilis newsdetik.com menyebutkan Solo sebagai zona hitam. Hal tersebut dijelaskan oleh Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Solo, Ahyani pada 12 Juli 2020; sekaligus dibenarkan oleh walikotanya, FX Hadi Rudyatmo. Disebutkan bahwa analisa tersebut didasarkan pada kenaikan jumlah kasus yang biasanya 1 s.d. 2 kasus dalam sehari, meningkat menjadi 18 kasus. Karenanya, sebagai warga masyarakat mesti meresponsnya dengan positif thinking, yaitu tetap disiplin dalam melakukan protokol kesehatan ketika beraktivitas di luar rumah dan tidak panik berlebihan.

Pandemi menuntun berbagai pihak untuk merumuskan aturan dan prosedur dalam menjalankan aktivitas baru. Sebut saja di dunia pendidikan, semua pihak, baik pengampu kebijakan,pelaku kebijakan, dan objek kebijakan, bekerja sama untuk mewujudkan sistem pembelajaran jarak jauh. Tentu yang demikian tidak semudah membalikkan tangan. Begitupun acara-acara workshop, seminar, penyuluhan, tertuntut dengan menggunakan media teknologi online, sehingga bermunculan banyak webinar di sana sini. Ada hikmah di balik musibah pandemi Covid-19, terciptanya kemudahan dan integrasi keilmuan dan teknologi komunikasi yang sangat pesat.

Tidak hanya aspek pendidikan yang mengalami perubahan, perayaan Iduladha bagi umat muslim juga mengalami perubahan teknis pelaksanaanya dari tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, sebagian kaum muslim melaksanakan wukuf Arafah pada tanggal 9 Zulhijah menunaikan salah satu rukun haji, sedangkan selainnya maka melaksanakan puasa sunah Arafah. Lain halnya pada tahun ini, semua warga yang terdaftar berangkat haji, tertunda pemberangkatanya. Iduladha atau Idul kurban, yaitu hari raya kaum muslim yang diperingati pada tanggal 10 Zulhijah. Pada hari tersebut kaum muslim melaksanakan salat sunah Id dan dilanjutkan memotong hewan kurban secara bersama-sama di lokasi masing-masing.

Pertanyaan pun mulai muncul ketika hari Iduladha berada dalam kondisi pandemi, seperti tahun ini. Pasalnya, pemerintah menginstruksikan untuk tidak melakukan perkumpulan dan menjaga jarak selama pandemi covid 19 demi mencegah penularan virus, namun di sisi lain kaum muslim ingin melaksanakan syariat kurban di hari Iduladha.

Baca Juga  Penarik Rezeki di Era Pandemi
Bagaimana Hukum Kurban Daring?

Adalah salah satu pertanyaan yang barangkali muncul karena banyaknya aktivitas luring yang diubah menjadi daring. Tentu saja pertanyaan tersebut diniatkan untuk tetap menjaga aturan sosial/pysichal distancing sehingga menjadi bagian dari pencegahan penyebaran Covid-19. Menyikapi pertanyaan tersebut, penulis perlu memperjelas maksud dari pertanyaan ‘ kurban daring’ ini. Penulis mengategorikan dalam dua kemungkinan.

Pertama: bisa jadi yang dimaksud adalah berkurban dengan mentrasfer sejumlah uang kepada pihak yang dipercayai untuk menguruskan segala aktivitas yang berkaitan dengannya, seperti pembelian hewan kurban, penyembelihan, dan pembagiannya. Jika demikian, maka kita bisa melihat Sirah Nabawiyah yang disebutkan dalam hadis Nabi saw.

Dalam hadis Sahih riwayat Bukhari-Muslim dari Ali ra, Rasulullah saw. memerintahkannya untuk mengurus unta kurbannya dan membagi-bagikanya seluruhnya: dagingnya, kulitnya, da nisi perutnya, serta tidak diberikan kepada tukang potongnya sedikit pun.

Berdasarkan hadis tersebut dapat diambil hukum kebolehan untuk mewakilkan pengurusan hewan yang akan dikurbankna pada hari Iduladha. Tentu pada waktu itu tidak mengenal istilah daring, namun dalam hal ini semakna, yaitu tidak memungkinkan untuk mengurusnya sendiri atau melaksanakannya di lokasi terdekat dari tempat tinggal dikarenakan kondisi daerah yang rawan penyebaran covid-19. Memang secara zahir hadisnya, kedudukan unta Nabi Saw. adalah milik pribadi, maksudnya tidak mewakilkan dalam hal pembeliannya. Namun demikian, dengan kebolehan mewakilkan penyembelihan dan pembagianya, mengindikasikan kebolehan mewakilkan pembelian juga. Karena akad wakalah berlaku luas, sah dilakukan selama rukun-syaratnya terpenuhi.

Penting menjadi perhatian, dalam perwakilannya, shahibul kurban harus memastikan wakilnya (orang yang ditunjuk sebagai wakil) betul-betul memahami tentang syariat pembelian dan penyembelihan hewan kurban serta pembagian dagingnya. Dalam hadis tersebut juga ditegaskan, harus dibagikan secara keseluruhan dari bagian hewan kurban, tidak boleh menjual dari bagian dari hewan kurban atau menjadikan bagiannya sebagai upah wakil atau ahli jagal. Dalam hal upah, sebaiknya sahibul kurban menganggarkannya secara tersendiri (uang jasa) di luar harga hewan kurban. Adapun menghadiahkan bagian dari kurban disampaikan di akhir, tidak diperjanjikan dalam akad.

Baca Juga  Part 2: Benarkah Surat an-Nisa’ Ayat 34 Melegitimasi Ketidakadilan Gender?
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 36 Tahun 2020 tentang Shalat Iduladha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19.

Kedua, bisa jadi, yang dimaksud dalam pertanyaan ‘kurban daring’ adalah mengganti kurbannya dengan pemberian atau transfer sejumlah uang atau bentuk lain yang senilai dengan hewan kurban saat ini dan memberikan nilai hewan kurban dengan hal tersebut. Mengingat, pihak yang terdampak pandemi, tidak hanya membutuhkan daging semata tapi juga wujud lainnya. Jika demikian, MUI menetapkan dengan tidak mengkategorikannya sebagai orang yang berkurban, melainkan orang yang bersedekah. Selengkapnya dapat dilihat dalam fatwa nomor: 36Tahun 2020.

Namun demikian, Majelis Tarjih Muhammadiyah juga mengeluarkan fatwa, yang senada tapi tidak sama dengan fatwa MUI, yaitu menganjurkan bagi yang memiliki kemampuan untuk tetap berkurban (sebagaimana disebutkan dalam fatwa MUI) sekaligus mengeluarkan infak/sedekah bagi masyarakat terdampak covid-19.

Jika tidak dimungkinkan keduanya maka dianjurkan untuk mengutamakan yang bersedekah senilai atau tidak senilai (karena kelebihan harta masing-masing orang berbeda-beda). Pertimbangannya, secara prinsip bahwa ajaran Islam menganjurkan untuk saling berta’awun. Sedangkan, ta’awun dalam kondisi pandemi,dirasa lebih tepat untuk menyalurkan bantuan dana dan lainnya yang dapat mempercepat tertanganinya/tercegahnya virus covid-19. Momentum Iduladha adalah waktu yang tepat untuk berlomba-lomba mengentaskannya.

Selain kedua kemungkinan maksud dari pertanyaan ‘hukum kurban online (daring)’ tersebut, penting dipahami tentang fikih penyembelihan hewan kurban. Mengutip dari Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam kitab Shahih Fiqh as-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Mazahib al-Ammah, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam penyembelihan hewan kurban, antara lain:

1) Tidak boleh menjual sesuatu dari anggota badan hewan kurban, termasuk kulit, wol, bulu, daging, tulang, dan lainnya.

Ketenntuan tersebut sesuai dengan pendapat mazhab Syafi’i dan Hanafi. Adapun dalil yang menyatakannya adalah hadis Nabi saw. riwayat Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudri, Janganlah kamu jual daging sembelihan (dam) dan kurbanmu. Makanlah, sedekahkanlah, dan manfaatkanlah kulitnya,serta jangan menjualnya. Dalam hal ini penulis berhikmah, bahwa bagian yang sulit dibagikan atau dikonsumsi maka dimanfaatkan dengan akad hibah (pemberian) bukan jual beli, seperti kulit hewan dimanfaatkan membuat bedug.

Baca Juga  Yang Harus Dirawat Jika Pandemi Telah Lewat
2) Faedah syariat kurban menunjukkan perbedaan antara keutaan bersedekah dan penyembelihan kurban.

Selain hukumnya yang sunah muakad (ditekankan), juga menjadi syiar Islam yang nyata.

3) Tidak ada larangan menyimpan atau mengemasnya dan didistribusikan ke suatu daerah yang lebih membutuhkan.

Dalam konteks kondisi pandemi saat ini, mengemas daging atau mendistribusikan daging daera zona merah (tidak dimungkinkan melakukan penyembelihan di wilayahnya) dapat menjadi pilihan dan lebih maslahat.

Menyimpan daging kurban untuk persediaan (bekal) meskipun melebihi hari Tasyrik (11,12,13 Zulhijah) diperbolehkan, berdasarkan hadis riwayat Bukhari dari Jabir bin Abdillah ketika mengabarkan tidak memakan daging kurban lebih dari tiga hari di Mina, Nabi bersabda, Silakan memakannya dan jadikanlah sebagai perbekalan. Juga sabda Nabi saw. dalam riwayat Bukhari dari Salamah bin al-Ukwa’ Makanlah, beri makanlah, dan simpanlah. Karena sesungguhnya tahun itu (saat di larang menyimpan lebih dari tiga hari) adalah tahun yang sulit bagi manusia maka aku ingin kalian saling membantu di dalamnya. Hadis tersebut juga mengisyaratkan keutamaan membgikan daging kurban kepada yang membutuhkan daripada menyimpannya lebih dari hari Tasyrik.

Penulis menyimpulkan, bahwa argumentasi hukum untuk dijadikan pedoman adalah pilihan masyarakat. Situasi dan kondisi tentu menjadi faktor penentuan argumentasi yang dipilih. Berpedoman kepada fatwa ulama tentu bukan hal yang salah. Sebab, fatwa yang diputuskan suatu lembaga didasarkan pada ilmu para alim ulama yang terorganisir. Wallahu a’llam bi shawab.

Bagikan
Post a Comment