Pengalaman bekerja sebagai dokter yang mengharuskan bertemu orang dari berbagai tingkatan usia, tak terkecuali anak seringkali memberikan refleksi tersendiri. Seperti berikut ini, suatu ketika ada konsul dari bangsal perawatan anak.
Waktu saya temui saat visite ruangan, saya mendapati anak laki-laki yang berusia kurang lebih 5 tahun tersebut hanya ditemani kakek dan pamannya. Sang kakek bercerita bahwa orang tua pasien sudah berpisah. Sang ayah sudah menikah lagi sementara sang ibu harus bekerja di luar pulau.
Awalnya, keluarga mengeluhkan bahwa sang anak sering terjatuh tiba-tiba sejak beberapa waktu sebelumnya. Walaupun keluarga menyangkal bahwa tidak ada riwayat seperti itu dari pihak kedua orang tuanya (untuk melacak ada tidaknya riwayat genetik). Dari pemeriksaan memang anak mengalami kelemahan kedua tungkai dan mengalami kesulitan saat hendak berdiri karena harus memegangi betis dan paha hingga mencapai posisi setegak mungkin. Dan dibutuhkan pemeriksaan penunjang tertentu untuk itu.
****
Selanjutnya, ada sepotong kisah lain yang kiranya bisa kita renungkan bersama:
Seorang ibu pasien (dari anak yang berusia 3 tahunan dengan kasus Cerebral Palsy) bercerita dengan nada sedih yang berjejal dengan rasa kesal bahwa semenjak sang anak lahir dengan “keterbatasan”, sang ayah meninggalkan keluarga mereka. Dari cerita ibu itu, sang ayah sepertinya tidak siap menerima kondisi dan memilih bersikap seperti itu. Akhirnya si ibu dan keluarga lainnyalah yang turut merawat sang anak.
Nah, dari kasus tersebut, kita bisa menilai bahwa bukan hanya masalah keterbatasan fisik, namun masalah mental dan sosialpun menjadi hal yang patut kita waspadai. Salah satunya adalah masalah perisakan (bullying) yang kerap kita dapati dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam praktiknya, kasus perisakan memang menyisakan efek traumatik yang tidak pernah kita tahu jangka waktunya. Bisa jadi akan terus membekas dalam benak korban. Seperti kisah pasien lainnya yang datang ke poliklinik tempat saya bekerja.
***
Seorang remaja lelaki tanggung berusia 13 tahun (sebut saja X) masuk ke ruang periksa. Ditemani sang ibu, dia mengeluhkan kelemahan tangan kiri. Sekilas, fisiknya sehat, badan terlihat lumayan tegap. Setelah periksa ini itu, saya coba menggali informasi tentang riwayat sosial dan menguji kemampuan kognitifnya.
Saya bertanya, “Sekarang masih sekolah ya, Dik?”
“Ehm, enggak, Dok,” jawab anak itu.
“Ow.. tapi dulu pernah skolah kan?” saya lanjutkan bertanya. Kali ini yang menjawab ibunya. “Pernah, Dok, sampai kelas 3 SD.” Lalu, spontan X berujar, “Abis, teman-teman saya pada ngejek. Mabuk kuda kepang…! Mabuk kuda kepang…!”
Berdasarkan penuturan ibu remaja tersebut, ejekan dari teman-temannya tersebut karena sang anak pernah mengalami kejang di sekolah hingga dalam perkembangannya menyebabkan kekakuan, gangguan kelemahan dan koordinasi otot. Patut disayangkan, sang anak belum pernah mendapat intervensi terapi dan rehabilitasi.
Hingga saat pemeriksaan dilakukan, otot tangan dan tungkai sisi kiri mengalami atrofi otot (ukuran yang lebih kecil) dibanding sisi sebelahnya. Tak berapa lama setelah peristiwa itu, X sudah merasa kapok masuk sekolah dan memilih meninggalkan demi mendapatkan rasa nyaman baginya.
***
Ironisnya, kasus serupa masih ada saja terjadi, seperti kasus di daerah Purworejo yang pernah viral beberapa waktu lalu. Parahnya, itu terjadi di bangku sekolah.
Berangkat dari ketiga contoh kasus tersebut, saya melihat bahwasannya problem mental yang dialami seorang anak dalam keluarga bisa bersumber dari berbagai faktor baik internal dalam keluarga sendiri maupun eksternal. Masih sering kita temui entah secara langsung atau dari media. Bentuknyapun bermacam-macam seperti penelantaran, perisakan dan hal lain yang tentu saja memilik daya rusak yang tak kalah besarnya.
Dari ilustrasi kasus di atas, kita bisa belajar betapa dukungan sosial atau support system merupakan kunci dalam menapaki kehidupan bersama anak dengan berbagai masalah yang dialami seperti masalah fisik, mental dan sosial lainnya.
Salah satu yang harus terus kita tanamkan sejak dini adalah penguatan pondasi keluarga sebagai basis nilai bahwa dalam kondisi sepelik apapun, anggota keluarga akan selalu ada bagi seseorang yang berada dalam suatu masalah atau yang berada di titik terendah dalam hidupnya sekalipun. Selain itu, kesadaran akan keberagaman identitas dalam bentuk apapun harus disemai dan ditumbuhkan. Bibit-bibit perisakan harus dihapus dan tentu saja, lagi-lagi dimulai dari lingkup terkecil demi kesehatan mental yang tetap stabil.
***
Tentu saja, menjawab permasalahan yang kompleks seperti ini menuntut solusi yeng terbangun dari hulu ke hilir. Termasuk pemetaan akar masalah dari lingkup terkecil dan paling konkret yang bisa kita lakukan sampai pada ruang lingkup yang lebih luas. Dan, kita semua punya pekerjaan rumah yang besar untuk itu.
Hari ini, kisah sang kakek dan si ibu dari mengingatkan kita tentang pekerjaan merawat kehidupan adalah aksi yang tiada henti dan tidak mengenal putus asa. Banyak hak anak di sekitar kita yang terpinggirkan. Mungkin oleh gengsi, dominasi atau persoalan relasi kuasa mulai dari lingkungan keluarga, negara hingga tatanan global.
Tentu saja kita sudah sangat hafal dengan jargon bahwasanya anak adalah aset dan investasi paling berharga yang dikirim Tuhan. Semoga menjadi alarm pengingat untuk kita semua
