f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dakwah muhammadiyah

Dakwah Muhammadiyah Kekinian

Identitas Gerakan Dakwah Muhammadiyah

Sebagai organisasi masyarakat Islam, Muhammadiyah memiliki misi untuk menyebarkan kebaikan Islam ke seluruh penjuru negeri, rahmatan lil alamin. Oleh karena itu Muhammadiyah paham betul kondisi sosial dan demografi negara archipelago yang diberi nama Indonesia ini. Kebaikan Islam itu ditransformasikan ke dalam kehidupan Indonesia yang majemuk atas suku, bangsa dan agama tanpa terkecuali. Siapapun, di manapun berhak atas rahmat yang dititipkan Tuhan.

Identitas organisasi sesuai hitungan hijriah lahir 111 tahun lalu  ini tertulis secara jelas dalam Anggaran Dasar AD bab II pasal 4 ayat 1, bahwa “Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah”. Dua kata kunci penting; amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid dalam gerakan dakwah islam ini secara berkelanjutan diamalkan Muhammadiyah dari masa ke masa.

Sejak kelahirannya organisasi modern ini telah dikenal dengan amalnya. Spirit welas asih dan pembaruan selalu dipraktikkan dalam wujud yang nyata tidak sekedar gimmick dan slogan. Di bidang pendidikan misalnya, sampai hari ini telah ada 30.000 satuan pendidikan milik Muhammadiyah berhikmat mencerdaskan anak bangsa di seluruh tanah air.

Prof. Haedar Nashir dalam bukunya “Memahami Ideologi Muhammadiyah” menulis, sebagian dari kalangan sendiri kerap menjelaskan Muhammadiyah hanya sebagai gerakan dakwah, jarang yang menyebut gerakan tajdid (pembaruan). Ungkapan ini perlu dipahami, tajdid adalah identitas yang secara tertulis ada dalam anggaran dasar Muhammadiyah. Maka, sesungguhnya tiada Muhammadiyah tanpa pembaruan, apalagi di bidang muamalah.

Hemat saya, gerakan dakwah tanpa pembaharuan akan berdampak pada kejumudan, akhirnya Islam dan Muhammadiyah akan ketinggalan zaman. Oleh sebab itu, Muhammadiyah tidak boleh minim inovasi, kebaruan-kebaruan gerakan harus selalu dimunculkan.

Strategi dan Pendekatan Dakwah Muhammadiyah

Dalam esainya yang diterbitkan majalah Suara Muhammadiyah  edisi 13 tahun 2015, Haedar menjelaskan, dakwah Muhammadiyah saat ini, baik billisan (perkataan, tulisan, media) maupun bil-hal (perbuatan, amaliah) sungguh memerlukan perbaikan dan pembaruan strategi seiring dengan masalah, tantangan dan perkembangan sasaran dakwah yang dihadapi. 

Pertanyaannya, sejauh mana saat ini tajdid strategi dakwah itu dilakukan? Apakah sudah sesuai dengan sasaran dakwah? Tentu untuk menjawab dua pertanyaan itu, perlu riset akademik yang kuat dan data yang mendalam. Namun, di artikel ini saya berupaya menguraikan hasil bacaan dan  pengamatan saya, kiranya Muhammadiyah sangat unggul dalam dakwah bilhal, boleh di-crosscheck tindakan dan amalan Muhammadiyah di segala sektor, misalnya; pendidikan, kesehatan, sosial filantropi sungguh tak terkalahkan. Muhammadiyah telah berbuat banyak di wilayah ini.  

Menurut Haedar dalam esai yang sama, Muhammadiyah menggunakan tiga pendekatan dalam menjalankan dakwah, yaitu secara hikmah (bilhikmah), edukasi (wa al-mauidat al-hasanah) dan dialog (wa jadil-hum bilaty hiya ahsan). Ketiganya terkandung dalam AL-Qur’an surah An-Nahl: 125. 

Aktivitas dan Dinamika Dakwah Muhammadiyah Kekinian

Tolok ukur keunggulan Muhammadiyah pada wilayah amal bisa kita lihat dari inovasi berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Yang kekinian dan tren baru-baru ini bisa kita sebut; Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Muhammadiyah Command Covid Center (MCCC). Peran tiga lembaga sayap dakwah Muhammadiyah ini sangat luar biasa. 

Spirit filantropi dan kerelawanan tiga komunitas amal itu senafas dengan karakter umum yang dimiliki kaum muda (milenial). Basis penggerak komunitas itu dimotori oleh milenial. Sesungguhnya ini amal yang besar. Para milenial walaupun sebagian bukan dari kalangan Muhammadiyah, merasa cocok dengan lembaga semacam itu sebab cenderung praktis dan tidak terikat.

Untuk penanganan Covid misalnya, per Mei 2020 dilaporkan, Muhammadiyah telah kerahkan 60.000 Relawa dan donasi Rp. 130 Milyar. Ini jumlah yang tidak sedikit, tentu saja. Pantas jika Lembaga Kajian Strategis dan Pembanguanan (LKSP) ketika melakukan survei tentang kepedulian Ormas atas bencana covid-19, Muhammadiyah ditemukan berada di peringkat satu dengan persentase 17, 26 %. Kemudian diurutan kedua ada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 16,51%.

Peran Muhammadiyah Dalam Konteks Kebangsaan

Di sampai itu, peran Muhammadiyah dalam Konteks Kebangsaan dalam arti bagaimana menyiapkan kemerdekaan, memerdekakan, hingga megawal kemerdekaan bukan sekedar isapan jempol. Hari ini misalnya, di tengan gempuran ideologi, gerakan separatis dan radikalis yang luar biasa, Muhammadiyah terus berkomitmen untuk mempertahankan Negara Pancasila sebagian “Darul Ahdi Wa Syahadah”. Komitmen ini dipertegas dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 3-7 Agustus 2015 sebagai keputusan resmi organisasi.

Kala itu Prof. Haedar menjelaskan, “Darul Ahdi” berarti negara tempat kita melakukan konsensus. Dan Negara kita berdiri karena seluruh kemajemukan bangsa, golongan, daerah, kekuatan politik sepakat untuk mendirikan Indonesia. Sedangkan “Darul Syahadah” artinya negara tempat kita mengisi. Menurutnya, jadi setelah kita punya Indonesia yang merdeka, maka seluruh elemen bangsa harus mengisi bangsa ini menjadi negara yang maju, makmur, adil bermartabat.

Dalam rangka mengawal, mengisi kemerdekaan itu Muhammadiyah bersikap sebagai partner kritis pemerintah.   Apabila pemerintah itu benar maka mendukung sepenuhnya. Di satu sisi jika pemerintah berbuat salah maka tanpa pandang bulu Muhammadiyah akan mengingatkan itu, meluruskan kekeliruan yang dilakukan penguasa.

Misalnya, yang kini terus dikawal yaitu berkaitan dengan RUU Omnibus Law, Minerba, HIP dan lain sebagainya. Juga kebijakan Program Organisasi Penggerak (POP) rintisan Kemdikbud yang dinilai hanya menguntungkan segolongan kelompok saja. Komitmen dan semua amal baik itu adalah wujud dari gerakan dakwah Muhammadiyah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid. 

Sebuah Kritik

Kiranya kritik untuk Muhammadiyah saat ini ada pada dakwah perkataan, tulisan dan medianya (bil lisan). Di satu sisi saya sepakat dengan jargon Muhammadiyah bahwa “sedikit bicara banyak bekerja”. Ini punya makna baik, namun pada era sekarang,  bil lisan ini nampaknya menjadi kelemahan Muhammadiyah. Apakah mungkin tradisi baca, tulis dan bicara organisasi modern ini buruk? Saya pikir memang betul di bidang media, konten kreator Muhammadiyah bisa  dikatan lemah, jika tidak mau dibilang tak berdaya.

IBTimes.ID pada April 2020 merilis peringkat 100 situs-situs islam Indonesia versi Alexa. Di situ terlihat media resmi NU, nu.or.id berada di posisi pertama dengan peringkat Indonesia 122 dan peringkat dunia 3,242. Sedangkan milik Muhammadiyah, Muhammadiyah.or.id berada di posisi 19 dengan peringkat Indonesia 2,404 dan peringkat dunia 15,.449. Padahal, di bidang jurnalistik offline, Muhammadiyah sudah eksis sejak tahun 1915 Masehi, dengan nama Soeara Moehammadijah.

Pun di media sosial, sejauh penulusuran saya per 25 Juli 2020, akun Instagram Muhammadiyah kalah jauh dengan milik NU. Di medsos yang sedang tren di kalangan milenial ini terlihat followers @Lensamu hanya 149k dan @nuonline_id mencapai 730k followers. Ke mana jutaan pelajar dan mahasiswa (generasi milenial) Muhammadiyah?

Di samping itu hasil penelitian Said Romadlan, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Hamka dengan judul “Rekayasa Sosial (Social Engineering) Adopsi Teknologi Komunikasi (internet) Di Kalangan Pondok Pesantren Muhammadiyah” pada tahun 2013 menunjukkan, ada tiga masalah yang berkenaan dengan implementasi teknologi informasi di Pondok Pesantren Muhammadiyah. Ia menulis, first of all, some students and teachers both still assume that internet is just for fun or playing games, and more complex. Second, the infrastructures that support this adoption are still limited. Finally, human resources and their knowledge about it are still limited too. Jadi apa betul Muhammadiyah itu organisasi moderen dan berkemajuan?

Pendek kata, jika ingin memajukan pendekatan dakwah An-Nahl: 125 maka media digital Muhammadiyah ini perlu diseriusi. Okelah, di laut, Muhammadiyah berjaya dengan sekolah apung di kepualauan Wakatobi dan Klinik Apung Said Tuhulele. Di darat tak dapat dikalahkan dengan ribuan AUM. Namun di udara, media digital Muhammadiyah perlu bekerja keras. Tiga medan itu menjadi lahan dakwah yang harus disentuh Muhammadiyah secara maksimal.

Bagikan
Post a Comment