Cincin Perkawinan Sahabat
Saya bersahabat dengan Widi lebih dari sepuluh tahun. Dalam rentang waktu persahabatan kami itu, saya mengetahui banyak hal terkait dirinya. Situasi buruk yang terjadi dalam rumah tangganya merupakan salah satu rahasia yang dibagikannya kepada saya.
Perhiasan
Meski tengah mengalami masalah yang cukup berat, kami tidak selalu menghabiskan waktu dengan membahas masalah itu. Topik-topik pembicaraan yang beragam membuat kami kerap membahas berbagai topik. Kadang kami membicarakannya secara detail, kerap pula hanya sekadar di permukaan.
Beberapa waktu lalu, kami membicarakan tentang minimnya perhiasan yang kami pakai. Kami memang bukan tipe orang yang suka mengenakan perhiasan berlebihan, tapi sesekali kami mengenakannya atau membahasnya.
Widi memang sudah lama tidak mengenakan cincin pernikahannya. Kebutuhan ekonomi di masa yang sulit beberapa waktu lalu membuatnya menjual dan menggadaikan (tanpa mampu menebus) perhiasan miliknya. Termasuk cincin pernikahan.
Makna Cincin Pernikahan
Dalam pembicaraan itu, kami sempat browsing tentang makna cincin pernikahan. Pada masa kejayaan Romawi, cincin dipandang sebagai tanda kepemilikan. Orang Yunani dan Romawi juga mempercayai bahwa jari manis berisi urat nadi khusus yang mengalir langsung ke jantung. Hal itulah yang menyebabkan cincin pernikahan kemudian disematkan di jari manis.
Kami juga menemukan sumber yang mengatakan bahwa pria Romawi memberikan cincin sebagai simbol kepemilikan, bukan simbol cinta. Dengan demikian, saat seorang wanita mendapatkan cincin, pria Romawi akan mengklaim wanita tersebut menjadi miliknya.
Sedikit berbeda dengan Romawi, Mesir Kuno menganggap bentuk cincin yang berupa lingkaran sebagai simbol tanpa awal atau akhir. Hal tersebut dipandang mewakili persatuan pernikahan yang tak pernah berakhir. Dalam hal ini, pernikahan yang ditandai (salah satunya) dengan penyematan cincin diharapkan menjadi pernikahan yang langgeng.
Sebuah Simbol
Widi tidak sendiri. Ada banyak orang yang tidak lagi mengenakan cincin pernikahan. Ada beragam alasan untuk hal itu.
Seseorang bisa saja tidak lagi mengenakan cincin pernikahan karena cincin itu dijual untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting/ mendesak. Bisa juga karena cincin kawin tidak lagi muat di jari pemiliknya. Dengan demikian, ketiadaan cincin kawin tidak serta merta bermakna bahwa pernikahan yang dijalani sedang bermasalah.
Cincin kawin sesuai dengan filosofinya menjadi simbol dari cita-cita perkawinan itu sendiri. Bentuknya menjadi lambang cinta yang dibangun (diharapkan) terus terjaga dan tidak berakhir. Letaknya di jari manis menunjukkan harapan bahwa perasaan yang membuahkan keputusan untuk menikah itu memang muncul dari hati. Bahannya dipilih dari bahan berkualitas menunjukkan simbol kekuatan cinta yang dibangun dari diri kedua pasangan.
Keputusan dalam Perkawinan
Namun, tidak semua perkawinan berjalan mulus. Kadang pula permasalahan itu justru muncul karena pihak di luar pasangan. Atau, situasi yang mempengaruhi memburuknya hubungan kedua orang yang sudah memutuskan menikah.
Permasalahan yang muncul dalam keluarga yang dibangun bisa saja sangat kompleks. Ada banyak pasangan yang berusaha memperbaiki hubungan, ada juga yang sekadar bertahan, atau memutuskan berpisah.
Saya tidak mengatakan bahwa mereka yang memutuskan berpisah berarti melupakan semua filosofi dan harapan yang diwujudkan dalam bentuk cincin perkawinan. Keputusan dalam perkawinan tentunya didasarkan pada berbagai pertimbangan. Dan semua keputusan yang diambil itu tentu memiliki konsekuensi masing-masing.
Cincin Sahabat
Demikian juga dengan sahabat saya, Widi. Pernikahannya yang memang bermasalah cukup lama itu masih dipertahankannya. Sebagai sahabat, saya memosisikan diri sebagai pendukung baginya. Keputusan terkait pernikahannya mutlak hak Widi dan pasangan.
Namun, membicarakan cincin pernikahan beberapa waktu lalu membuat saya menyadari sesuatu. Sudah saatnya Widi lebih memperhatikan dirinya sendiri. Saya melihat bahwa segala keceriaannya perlahan menghilang bersamaan dengan semakin kompleksnya permasalahan yang tak kunjung ada jalan keluar.
Pembicaraan tentang simbol dalam cincin perkawinan membuat saya melihat bahwa sahabat saya harus bangkit dari situasi ini. Jika perlu, dia harus mewujudkannya dalam simbol yang baru.
Memberi Makna Baru
Cincin serupa dengan cincin pernikahannya menjadi pilihan. Namun, tentu saja ini bukan cincin pernikahan. Ini semacam kado untuk dirinya sendiri. Bentuknya yang melingkar menjadi simbol harapan bahwa dia haruslah lebih dulu mencintai dirinya sendiri: tanpa syarat dan tak berakhir. Hal ini tentunya penting.
Dia harus lebih dulu merasakan cinta tak bersyarat pada dirinya. Hal itu perlu dilakukan sebelum ia mampu menerima dan memberi cinta yang sama pada orang lain.
Bahannya yang terbuat dari logam mulia menandakan kekuatan. Kekuatan yang tidak terpatahkan justru kekuatan yang berasal dari dirinya. Kekuatan itu itu juga digunakan mula-mula untuk dirinya.
Saya memintanya mengenakan cincin di jari manis. Tentu saja itu melambangkan benda cantik yang melingkar di jarinya itu merupakan perwakilan dirinya yang tulus. Sebuah makna baru bahwa dia sangat layak untuk bahagia.
Tentu saya ingin dia terus mengenakan cincin itu. Cincin itu bukan sekadar menjadi simbol tentang kepemilikan atau mempertontonkan kemampuan finansial. Dengan terus mengenakannya, saya berharap Widi terus mengingat betapa berharganya dia.
Cincin yang serupa dengan cincin pernikahan itu menjadi bentuk harapan baru. Keputusan apa pun yang akan diambilnya sebagai solusi konkrit permasalahan yang dihadapinya menjadi keputusan yang didasarkan atas cinta kepada dirinya sendiri.
Tresiana Sari Diah Utami, ibu dua anak dan pengajar di Universitas Katolik Musi Charitas.

Ed
Sebuah pemaknaan yg meski gak filosofis banget, dan sangat praktis selain juga afirmatif, namun ditulis dengan ‘manis’. Tak ada nada berusaha menggurui, dan empati disajikan dengan wajar. Good job mbak Tres, yg kocak tapi ternyata bisa juga ‘seserius’ ini 😁👍