f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pemilihan pasangan

Musim Nikah, Bagaimana Pemilihan Pasangan dalam Psikologi ?

Akhir tahun dan awal tahun merupakan waktu yang cukup digandrungi pasangan untuk melangsungkan pernikahan. Sekalipun bersamaan dengan situasi pandemi Covid-19, selebrasi pernikahan tampak tidak surut. Kondisi ini dapat sama-sama kita lihat dari berbagai fenomena seperti adanya panduan resepsi pernikahan di masa pandemi, style busana pengantin dengan masker, resepsi virtual, sampai resepsi dengan sistem drive thru. Itu semua dilakukan demi tercapainya pernikahan.

Kehidupan pernikahan adalah pintu awal pasangan untuk beradaptasi dan saling memahami. Adanya perbedaan latar belakang, usia, dan tingkat pendidikan menjadi tidak berarti ketika mulainya siklus kehidupan berkeluarga ini dapat diterima dan dipahami dengan baik (Saidiyah & Julianto, 2016).

Menikah juga dapat dikatakan sebagai puncak kehidupan seseorang. Sehingga tidak heran apabila pasangan yang menikah juga harus menghadapi berbagai penyesuaian. Empat penyesuaian yang paling umum dan penting untuk mencapai kebahagiaan pernikahan menurut Hurlock (1980) adalah penyesuaian dengan pasangan, penyesuaian keuangan, penyesuaian dengan keluarga masing-masing serta penyesuaian seksual.

Dari keempat penyesuaian tersebut, penyesuaian yang paling pokok dan pertama kali dihadapi oleh keluarga baru adalah penyesuaian terhadap pasangannya. Baik suami kepada istri maupun istri kepada suami. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian terhadap pasangan adalah konsep pasangan yang ideal dalam pemilihan pasangan.

Memilih atau menentukan pasangan itu sendiri bukanlah hal yang mudah. Sampai pada titik di mana seseorang merasa mantap untuk berkomitmen dalam ikatan pernikahan, ada serangkaian proses yang harus dilalui. Proses tersebut dinamakan seleksi pasangan. Dalam psikologi, terdapat tiga teori seleksi pasangan dalam Olson, DeFrain & Skogrand (2011).

Homogamy vs Complementarity.

Homogamy adalah kecenderungan untuk memilih pasangan berdasarkan kesamaan seperti kesamaan etnis/ suku, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, agama, dan nilai-nilai tertentu. Contohnya ketika seseorang menetapkan kriteria pasangannya adalah dia yang sama-sama sudah harus sarjana, sama-sama orang kaya, atau dia harus sama-sama kader ortom, dan sebagainya. Namun demikian, jarang terjadi homogamy yang sederhana. Pemilihan pasangan seringkali melibatkan berbagai proses yang kompleks.

Sebaliknya, complementarity mengacu pada kecenderungan pemilihan pasangan berdasarkan karakteristik kepribadian yang berbeda. Seseorang tertarik pada orang lain yang memiliki kepribadian berbeda dengan dirinya, sehingga perbedaan tersebut dapat melengkapi kepribadiannya. Teori complementarity diungkapkan oleh Robert Winch (1958) dengan proposisi bahwa seseorang tertarik dengan orang lain yang memiliki kepribadian sangat berbeda dari dirinya. Menurut Winch, berlawanan itu menarik.

Baca Juga  Tipe Istri Idaman Kamu Seperti Apa?

Situasi ini terjadi misalnya pada seseorang yang memiliki kecenderungan kepribadian dominan akan tertarik dengan orang yang memiliki kepribadian penurut, individu yang cenderung introvert akan tertarik pada orang yang memiliki kepribadian ekstrovert, dan berbagai karakteristik lainnya yang berlawanan. Tujuan dari mencari pasangan dengan karakteristik berlawanan adalah untuk melengkapi karakteristik yang tidak dimiliki oleh diri sendiri.

Meski begitu, secara umum orang cenderung tertarik pada orang lain yang memiliki karakteristik serupa. Apabila pasangan adalah dua orang yang memiliki karakteristik jauh berbeda, maka khawatirnya justru dapat memunculkan ketidakcocokan yang selanjutnya dapat menyebabkan konflik dalam hubungan.

The Stimulus-Value-Role (SVR) Theory.

Murstein (1987) mempopulerkan SVR. Menurut perspektif ini, seseorang cenderung tertarik pada orang lain karena adanya stimulus awal, kemudian menguji kesesuaian/kecocokan mereka untuk membangun hubungan yang lebih serius dengan cara membandingkan orientasi nilai dan kesepakatan mengenai peran dalam hubungan.

Pada mulanya, seseorang tertarik pada orang lain karena adanya stimulus tertentu yang dimiliki orang lain, seperti ketertarikan fisik (physical attractiveness), popularitas seseorang, dan berbagai stimulus lainnya. Mungkin ada orang yang tertarik kepada seseorang karena ada yang melihatnya sebagai sosok yang cerdas secara intelektual. Tetapi ada juga yang lebih cenderung tertarik kepada seseorang dengan melihat dari segi ketataan dalam menjalankan agama, memiliki empati dan kepedulian sosial yang tinggi, tertarik karena kecantikan/ ketampanan fisiknya dan lain-lain.

Jadi, stimulus yang menarik bagi satu orang bisa jadi tidak menarik menurut orang lain. Stimulus bersifat subjektif dan bertindak sebagai daya tarik yang dapat menyatukan pasangan. Bagaimana cara kita mengetahuinya? Ketika merasakan cinta pada pandangan pertama atau merasa kagum dan tergila-gila pada seseorang, itu berarti stimulus sedang bekerja dalam diri kita.

Nilai Saling Melengkapi

Stimulus yang berhasil akan meningkat menuju nilai saling melengkapi satu sama lain. Sehingga, seseorang bisa mengarah ke hubungan yang serius atau tidak, bisa melihatnya dari tahap ini. Tidak hanya berhenti pada daya tarik tertentu. Di sini pasangan mulai menilai kesesuaian keyakinan dan nilai dasar masing-masing. Misalnya dengan mencari tahu bagaimana sikap pasangan terkait keuangan dan pekerjaan, preferensi gaya hidup, filosofi dalam beragama, dan sebagainya untuk disesuaikan apakah keyakinan dan nilai dasar pasangan cocok atau bisa kita terima atau tidak. Nilai saling melengkapi menjadi lebih penting dari ketertarikan fisik dalam memilih seseorang untuk hubungan yang langgeng atau menuju ke jenjang pernikahan.

Baca Juga  Laki-Laki dan Perempuan Bisa Mengalami Puber Kedua

Bersamaan dengan tahap di atas, seseorang juga mulai menilai komplementaritas peran yang dapat dilakukan antara dirinya dan pasangan. Dengan kata lain, mereka mulai mengidentifikasi dan membangun hubungan peran yang kooperatif. Misalnya dengan mengidentifikasi siapa di antara keduanya yang lebih dominan dalam mengambil keputusan terkait hubungan, pembagian peran kerja, dan juga harapan masing-masing terkait hubungan. Ketiga komponen dalam teori SVR ini dapat membantu mengidentifikasi apakah interaksi yang sudah terjalin akan berlanjut menuju tahap komitmen membangun keluarga atau justru akan berakhir.

Reiss’s Wheel Theory of Love atau Teori Roda Cinta Reiss.

Sebagaimana namanya, teori ini dipelopori oleh Ira L. Reiss (Reiss & Lee, 1988). Menurut teori ini, pemilihan pasangan terdiri atas empat tahap yaitu kepercayaan atau rapport, pengungkapan diri atau self revelation, ketergantungan timbal balik dan pemenuhan kebutuhan keintiman. Pertama, agar dua orang yang saling mengenal dapat memiliki hubungan yang baik, maka perlu adanya building rapport atau saling membangun kepercayaan. Dengan kata lain, rapport mengacu pada ada atau tidaknya chemistry antara keduanya. Jika terdapat chemistry, maka interaksi akan berlanjut ke tahap saling mengungkapkan diri atau self revelation.

Di sini, satu pihak akan memulai untuk membuka tentang hal-hal yang bersifat pribadi dari diri nya. Maka, pihak yang lain akan mengungkapkan hal yang bersifat lebih pribadi. Sebagai contoh self revelation yaitu, ketika seorang laki-laki sudah mulai membicarakan rencana karir masa depannya dengan seorang perempuan, atau ketika seorang perempuan sudah berani bercerita tentang keluarganya kepada seorang laki-laki, ini mengindikasikan sudah adanya pengungkapan diri dari masing-masing.

Pengungkapan diri yang sukses akan berlanjut pada tahap ketergantungan timbal balik. Mungkin kita pernah merasakan sebuah kondisi di mana kita sudah merasa nyaman dengan seseorang sehingga selalu menjaga keberlanjutan komunikasi melalui chatting. Apabila tidak ada chatting dengan seseorang tersebut, kemudian kita merasa hampa. Begitu juga sebaliknya yang terjadi pada partner. Jika partner selalu menanggapi, memberi perhatian-perhatian kecil, bahkan sesekali mengajak bertemu untuk mengobrol, bisa kita katakan situasi ini sudah adanya ketergantungan timbal balik. Apabila dua orang sudah memiliki ketergantungan satu sama lain, tahapan selanjutnya yaitu pemenuhan kebutuhan keintiman.

Baca Juga  Nikah Usia Dini : Solusi Keharmonisan Rumah Tangga?
Pemenuhan Keintiman

Pemenuhan kebutuhan keintiman adalah proses keempat dan terakhir dalam pengembangan cinta. Dengan dipenuhinya kebutuhan keintiman yaitu adanya kepuasan atau perasaan sejahtera yang diterima seseorang karena kebutuhan pribadinya terpenuhi. Artinya, dua orang yang memiliki ketergantungan satu sama lain akan mengarah pada terpenuhinya kebutuhan keintiman/ perasaan semakin dekat antara keduanya. Kebutuhan keintiman yang terpenuhi kemudian mengarah pada jenjang komitmen membangun keluarga.

Empat komponen dalam teori roda cinta ini sama-sama penting, apabila terdapat hambatan dalam salah satu tahap, maka tahap selanjutnya juga akan terhambat. Misalnya, ketika dua orang berada dalam tahap menjalin hubungan yang baik/ rapport kemudian mereka bertengkar, maka proses pengungkapan diri juga akan terganggu. Begitu juga tahapan selanjutnya.

Teori roda cinta menunjukkan kepada kita bahwa pergerakan cinta bisa ke arah positif atau bisa negatif. Cinta itu sendiri bersifat pasang surut, ada masa-masa sulit yang harus dijalani. Namun, dalam hubungan yang sehat, bertahan dan berkembang, pergerakan cinta umumnya ke arah  positif menuju peningkatan keintiman yang lebih besar.

Ketiga teori di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa terdapat beragam alasan mengapa kita memilih seseorang sebagai pasangan kita. Kondisi ini terjadi dalam situasi yang normal. Karena dalam situasi normal, kita memiliki pilihan. Berbeda dengan situasi yang tidak normal, sangat mungkin ada alasan lain yang lebih dominan dalam pernikahan.

Referensi:

Hurlock, E. (1980). Development Psychology, A Life-Span Approach, 5th Edition. New York: McGraw Hill.

Olson, D. H., DeFrain, J., & Skogrand. L. (2011). Marriage and Families, Intimacy, Diversity, and Strength, 7th edition. New York: McGraw Hill.

Saidiyah, S., & Julianto, V. (2016). Problem Pernikahan Dan Strategi Penyelesaiannya: Studi Kasus Pada Pasangan Suami Istri Dengan Usia Perkawinan Di Bawah Sepuluh Tahun. Jurnal Psikologi Undip, Vol.15 No.2 Oktober 2016, 124-133.

Biodata :

Fiya Ma’arifa Ulya. Mahasiswa Magister Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Peminatan Kelompok dan Relasi Sosial. Kader IMM DIY.

Bagikan
Post a Comment