f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keuangan keluarga

Yuk, Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga Kita !

Tulisan ini adalah resensi singkat dari buku “Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga” karangan Drs. Sulastiningsih,MSi. Yang diterbitkan oleh Pro-U Media, Yogyakarta.

Ibarat sebuah perjalanan, maka pernikahan dan pengasuhan adalah perjalanan seumur hidup. Serta  membutuhkan bekal yang banyak sebelum memasuki masing-masing jenjang tersebut. Buku ini membuat reviewer mengalami turning poin kesekian dalam hal perbekalan pernikahan, khususnya pengelolaan keuangan keluarga sakinah.

Bukan hanya soal nominal gaji dan kekayaan, namun buku ini memberikan fondasi dasar dalam mengubah mindset keluarga sakinah, rizki. Perintah bekerja hingga hal teknis dalam mengelola keuangan keluarga baik pendapatan, pengeluaran maupun aset keluarga.

Rekomended Untuk Pasutri : Mewujudkan Keluarga Sakinah

Penulis menggiring pembaca untuk memahami dasar dalam pengelolaan harta. Dengan membangun alur mulai dari ketauhidan atas dasar tugas kekhalifahan seorang Hamba Allah. Dalam hal ini yang artinya memiliki konsekuensi untuk taat atas segala perintah dan larangan-Nya . Termasuk memperhatikan haq dan bathil, halal dan haram maupun kikir dan boros.

Sehingga, buku ini bukan hanya wajib oleh pasangan suami istri (pasutri), namun juga sangat layak untuk dibaca calon pasutri sebelum memasuki dunia pernikahan. Mengapa? Karena dalam buku ini dikupas pula bagaimana membangun keluarga sakinah. Apa dan bagaimana saja hak dan wewenang menjadi suami shalih maupun istri shalihah. Bagaimana keduanya bekerjasama dalam mewujudkan keluarga sakinah.

Hal ini penting untuk diketahui dan dipelajari, karena dalam berumah tangga untuk menjadi keluarga sakinah mmebutuhkan proses. Bukan hasil yang statis dan sifatnya subyektif sesuai kadar ketaqwaan pasutri. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tidak pernah menghadapi persoalan. Termasuk juga bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi kesulitan, khususnya ekonomi.

Maka dinamika dalam berumah tangga menjadi simponi luhur dalam menempa kedua insan bernama suami dan istri. Namun, kata kunci pembeda keluarga sakinah dengan yang lainnya bahwa proses penyelesaian persoalan dalam rumah tangga akan selalu diselesaikan dengan standart Islam oleh pasutri tersebut.

Konsepsi Rezeki dan Pekerjaan

Ada satu hal pokok yang sering disalah tafsirkan oleh masyarakat awam terkait konsepsi rezeki dan pekerjaan. Akibat persepsi yang salah ini telah mendistorsi hingga menyempitkan jalan rezeki. Bagaimana tidak, masyarakat awam masih ngotot dengan persepsi bahwa bekerja itu layaknya pegawai kantoran. Sedangkan berdagang dari rumahan, maupun berwirausaha yang tidak memerlukan kantor dianggap bukan sebuah pekerjaan yang mentereng.

Baca Juga  Mempererat Keluarga selama #DiRumahSaja

Parahnya lagi, bahwa rezeki disamakan dengan gaji. Sehingga tidak aneh jika lulusan sarjana kita masih gagap dalam menciptakan lapangan pekerjaan, karena terperangkap pada mindset besar masyarakat terkait konsepsi bekerja. Fenomena puluhan ribu pelamar CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) masih menjadi trend dalam bursa lowongan pekerjaan adalah bukti nyata dari misskonsepsi tersebut.

Runtutan dari misskonsepsi atas pekerjaan tersebut, maka penulis buku ini memberikan pemahaman dan penjelasan secara gambling tentang harta. Bahwa sejatinya harta bagi seorang Muslim merupakan sarana (washilah) dalam mencari ridho Allah SWT, bukan tujuan. Harta berfungsi sebagai media untuk memperoleh keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, konsekuensi harta yang dimiliki oleh seorang Muslim harus dibelanjakan secara proporsional sesuai tuntunan Al-Qur’an. Yakni tidak boleh berlebih-lebihan dan menimbulkan keburukan, namun tetap mempertahankan keseimbangan antara sikap kikir dan boros. Sebagaimana termaktub dalam QS Al-Furqan (26) ayat 67. Sehingga Mengelola Keuangan Keluarga adalah ikhtiar dalam mempertahankan keseimbangan tersebut.

Ekonomi Keluarga Harus Dikelola dengan Benar

Aktifitas ekonomi keluarga harus dikelola secara benar dan professional, agar kualitas iman, ilmu dan amal shalih dari hari ke hari terus meningkat.

Secara “BENAR” di sini bermakna bahwa pengelolaan ekonomi dan keuangan keluarga adalah God Oriented melalui senantiasa Dzikrullah (QS at-Takatsur : 1-2, al-Munafiqun : 9, mencari harta dengan melupakan shalat dan zakat QS an-Nur:37), patuh pada larangan usaha-usaha haram (larangan judi dan jual beli barang-barang haram QS al-Maidah:90-91, larangan mencuri merampok dan korupsi QS al-Maidah:38, mengurangi takaran QS al-Muthaffifin : 1-6, larangan melalui cara-cara batil dan merugikan QS al-Baqarah :188) dan larangan memusatkan kekayaan pada segolongan orang (mendistribusikan harta untuk di jalan-Nya) yang terdapat dalam QS al-Hasyr : 7.

Sehingga Islam telah memberikan beberapa alternative pilihan pekerjaan yang dapat dipilih oleh setiap muslim; diantaranya kepegawaian atau perburuhan, wiraswasta (pengusaha) baik manufaktur, perdagangan dan jasa. Selanjutnya bidang pertanian perikanan dan peternakan, pendidikan, pengobatan, pertambangan, investasi halal.

Dari kesemua sektor tersebut pertimbangan utamanya adalah halal haram, didasarkan pada keahlian (skill) yang dimiliki maupun hobi (passion), sabar dan konsisten dengan sektor pekerjaan yang telah dipilih, tidak mengganggu aktivitas ibadah mahdhiyah dan aktivitas dakwah. Selain benar ekonomi keluargapu  harus dikeola secara professional.

Baca Juga  Membangun Visi Misi Keluarga di Tengah Pandemi (1)
Lantas Bagaimana Mengelola Keuangan Secara Professional?

Adapun pengelolaan ekonomi dan keuangan keluarga secara PROFESIONAL ini sebagai bentuk penjiwaan atas iman melalui ilmu. Untuk menambah kualitas keluarga sakinah dalam mendayagunakan harta yang dimiliki oleh sebuah keluarga atau pasutri. Profesional yang dimaksud di sini merupakan upaya pengelolaan keuangan keluarga secara sistematis dan terukur, Proposional yakni menyeimbangkan posisi antara tidak mubadzir dan tidak kikir.

Sehingga mampu dengan lugas dan tepat dalam mempraktekkan apa yang diperintahkan oleh al-qur’an dan sunnah dalam mengelola keuangan keluarga. Maka buku ini menekankan pada proses planning, doing, evaluating dan tawakkal kepada Allah SWT melalui pencatatan yang rapi.

Sehingga, dalam buku ini dijelaskan secara detail tentang pengelolaan keuangan keluarga secara professional. Diawali dengan perencanaan pemasukan keluarga, yang mana sejalan dnegan QS al-Hasyr ayat 18 tentang perintah Allah untuk merencanakan masa depan. Hal tersebut diqiyaskan oleh penulis sebagai landasan bahwa perencanaan pemasukan menjadi konsekuensi lagis atas kondisi ekonomi yang setiap waktu semakin bertambah bebannya.

Dengan beberapa contoh kasus bisa menjadi referensi pembaca dalam mempraktekkannya secara mandiri di rumah masing-masing secara kondisional. Benang merah dari beberapa contoh kasus yang disebutkan oleh penulis menyiratkan bahwa ikhtiar sekuat tenaga dalam memenuhi kebutuhan keluarga merupakan keniscayaan dengan tetap memegang standart Islam.

Berikutnya dalah perencanaan pengeluaran keluarga. Perencanaan pengeluaran ini terkait dengan bagaimana mengatur aktivitas seluruh anggota keluarga mengonsumsi sumberdaya secara efisien (menggunakan sumber daya secara hemat) dan efektif (sumber daya untuk mencapai tujuan secara tepat). Saking urgentnya pengelolaan pengeluaran keluarga, buku ini menyajikan bab khusus dalam mengelola pengeluaran keluarga.

Self Management : Kunci Pengendalian Keuangan

Di era gempuran informasi yang tanpa permisi, iklan-iklan produk baik melalui televisi maupun sosmed menjadi salah satu pemicu kuat dalam mendongkrak pola konsumsi masyarakat. Terlebih jika apa yang dikonsumsi bukan hanya apa yang dibutuhkan melainkan untuk pemenuhan lifestyle saja.

Baca Juga  Cara Islam Memandang Cinta

Hal tersebut akan sangat mempengaruhi pengeluaran keluarga. Maka dimulai dari keluarga perlu dibuat komitmen dalam mengatur aktivitas anggota keluarga dalam mengkonsumsi sumberdaya sesuai kebutuhan. Karena kunci dari pengendalian keuangan keluarga adalah self management (pengelolaan diri). Baik dalam menentukan skala prioritas, menundukkan nafsu dunia, hingga sadar akan adanya penurunan pendapatan, khususnya di masa pandemic seperti ini.

Untuk menjaga komitmen self management tersebut maka ada beberapa trik jitu yang diberikan penulis dalam mengatus kas keluarga. Diantaranya tidak menyimpan kas di rumah melebihi dari jumlah yang dibutuhkan, jika berbelanja ke pasar atau toko tidak membawa uang lebih untuk fokus pada kebutuhan, selanjutnya rutin mambuat anggaran kas secara rasional pada setiap akhir bulan.

Bukan hanya Cermat, tapi Cerdas juga menjadi skill yang perlu diasah dalam mengelola keuangan keuarga dengan salah satunya mampu menentukan skala prioritas dan perencanaan yang baik. Catatan anggaran pendapatan dan pengeluaran tersebut menjadi alat kendali serta bahan evaluasi supaya ada perbaikan setiap bulannya dalam mengelola keuangan keluarga.

Pengelolaan Keuangan adalah Tugas Semua Anggota Keluarga

Hal menarik lainnya menurut reviewer adalah tentang manajemen asset. Mungkin selama ini yang sering banyak dilewatkan oleh para pengatur rumah keuangan tangga. Buku ini bukan hanya menjelaskan perkara pengadaan asetnya saja, namun juga mencontohkan pentingnya pemeliharaan dan penyimpanan asset. Hingga hal teknis mendaftar asset yang dilengkapi bagaimana dan siapa penanggungjawab pemeliharaan asset tersebut.

Hal penting yang perlu digarisbawahi dalam proses pengelolaan keuangan keluarga bukanlah tanggungjawab orang-perseorang, melainkan tanggungjawab bersama seluruh anggota keluarga. Sehingga tidak salah jika di akhir buku ini pun dilengkapi siapa manajer rumah tangga yang bukan melulu istri atau hanya suami.

Selain itu dilengkapi juga dengan edukasi finansial kepada anak. Mengingat kesemua anggota keluarga merupakan subyek aktif dalam lingkaran perputaran keuangan dalam rumah tangga. Maka Musyawarah (suami, istri dan anak) merupakan sarana mediasi paling jitu dalam upaya penyelesaian setiap persoalan keuangan keluarga. Semoga Bermanfaat!

Bagikan
Post a Comment