f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kumcer

Pergulatan Hantu, Pergulatan Perempuan dari Kumcer ‘Sihir Perempuan’

“Aku memang melihat ibu. Ya, perempuan itu …. Hantu perempuan yang memendam cinta, rindu, sakit, nafsu, amarah-pemintal gairah pekat tanpa henti, tanpa selesai.”

Judul               : Sihir Perempuan

Pengarang   : Intan Paramaditha

Jenis Buku   : Kumpulan Cerita (kumcer) Pendek

Penerbit       : Gramedia Pusaka Utama

Tahun            : 2017

Hidup Mara tidak tenang setelah rapat di tempat bekerjanya, sedang merencanakan pembuatan iklan pembalut. Bosnya berusia tiga puluhan meminta Mara dan kolega kerja untuk mengusulkan tema iklan, orang lain berseru bahwa menstruasi sebagai momok! Monster! Kotor! Bau! Hal yang tidak nyaman! Tanpa pembalut buatan perusahaannya.

Sejak itulah, hidup Mara terombang-ambing antara fantasi dan kenyataan. Mulai dari mimpi aneh tentang sebuah kejaran gelombang air yang ingin menerkam dirinya. Dengan susah payah, air keringat membasahi bajunya, ia terus berlari dari gulungan ombak itu, walaupun sekuat tenaga menghindar, tetap ditelannya.

Ingatannya kembali pada masa kecil selepas ibunya wafat, ketika ia mengalami menstruasi pertama kali. Seorang ustadzah, guru mengajinya datang ke rumah mengatakan bahwa dosanya akan mulai dihitung, harus menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis, perempuan harus punya malu, jika berbicara tidak boleh keras-keras, maka tak seharusnya bercita-cita jadi penyanyi. Suara perempuan mengundang godaan.

Mara menanggapi dengan banyak pertanyaan, mengapa? Sampai ustadzah tersebut menceritakan, suatu hari seorang gadis mengganti pembalut di WC umum. Ia begitu terburu-buru sehingga lupa mencuci pembalutnya dan langsung membuang ke tempat sampah. Sesampainya di luar ia kembali dan membuka pintu WC, alangkah terkejutnya ketika ia melihat perempuan berambut panjang sedang berjongkok, saat perempuan itu memalingkan wajahnya yang pucat dan bibirnya merah. Perempuan itu tengah menjilati pembalutnya yang masih ada darah. Mara pun berhenti mengucapkan mengapa, sejak cerita itu diceritakan padanya.

Baca Juga  Penghardikan
*

Di atas adalah sekilas cerpen dari kumcer dengan judul Darah berpusat pada masyarakat yang masih menganggap menstruasi sebagai hal yang tabu dari pada hal alamiah. Apa yang datang dari tubuh perempuan masih dianggap aneh sehingga perlu ditutupi, jangan sampai diumbar ke khalayak. Intan Paramaditha banyak membahas persoalan kehidupan yang dialami perempuan lantas diramu dengan cerita-cerita dongeng, horor, mimpi, juga sering kali adegan kekerasan.

Pada akhir cerpen Darah, terdapat plot twist. Ketika Mara memutuskan untuk keluar dari perusahaannya, sebelum ke luar kantor, ia ke toilet dan melihat seorang perempuan berambut panjang seperti yang diceritakan oleh guru mengajinya, sedang membungkuk dan mengaduk-aduk tempat sampah. Mara terkejut akan tetapi dapat menguasai dirinya, lantas bertanya pada perempuan itu, “Mengapa kau begitu menyukai darah?”. Perempuan itu menjawab dengan mulut dipenuhi warna merah segar “Karena darah adalah hidup”.

Cerita horor cerpen ini dijadikan motif untuk menggambarkan bagaimana dan seharusnya pengalaman perempuan terjadi. Sehingga beberapa aura kehadiran hantu dalam kumcer ini kadang dalam posisi sentral, kadang samar, atau hanya memberi efek kejut atau tengangan. Tidak seperti cerita-cerita horor umumnya di mana posisi hantu atau dunia supranatural diposisikan dominan atas manusia yang menjadi pusat cerita. Hal ini menjadi manarik, karena Intan Paramaditha seolah-olah selalu bermain-main dengan dunia magis di banyak kisahnya.

*

Cerpen Pemintal Kegelapan dimulai dengan cerita dari ibu narator bahwa di loteng rumahnya konon ada hantu perempuan berambut panjang terurai selalu duduk di depan alat pemintal. Cerita beralih ke kehidupan ibu narator, pada umur 13 tahun, ibunya berpisah dengan ayahnya. Praktis hanya ibunya yang membesarkan dirinya dan membuat kehidupan mereka “seperti semula”, mengantar sekolah, menyiapkan sarapan, atau mencium pipinya sebelum tidur. Ibu mulai sering pulang malam dan dongeng tentang hantu di loteng rumah berangsur hilang. Ketika narator beranjak dewasa sang ibu memiliki seorang kekasih, namun beberapa waktu kemudian laki-laki lain datang silih berganti ke rumah.

Baca Juga  Cinta Ifah untuk Ibu

Suatu saat ibu memberitahukan kepada narator bahwa dirinya telah mengidap penyakit kanker ganas, belum rampung perasaan campur aduk si narator antara sedih dan marah, ibunya mengajak ke loteng yang selama ini dilarang untuk memasukinya. Ibu dan ia berdiri di depan cermin sambil berkata “Lihatlah, itulah pemintal kegelapan”, seiring hilang kebingungan, dia menyadari “Aku melihat ibu”. Ya perempuan itu, rambutnya terurai, wajahnya penuh dengan guratan sedih, matanya nyalang seperti bola api yang menari-nari melumatkan siapa pun yang menatap. Hantu perempuan yang memendam cinta, rindu, sakit, nafsu, amarah-memintal gairah pekat tanpa henti, tanpa selesai”.

Menurut saya, hantu dalam cerpen itu sebuah alegori dari kehidupan seorang perempuan yang penuh dengan pergulatan hidup, melewati berbagai hal kesedihan, kebahagiaan, kesakitan, kemarahan. Cerpen ini mengingatkan apa yang terjadi pada cerita atau film horor, sering kali hantu-hantu perempuan seperti kuntilanak, sundel bolong, suster ngesot, dan lain-lain sebagai arwah gentanyangan menuntut balas karena saat mereka masih hidup mereka dilecehkan, dipinggirkan, dijadikan tumbal, menjadi korban kekerasan, sehingga roh mereka tidak tenang dan kembali ke dunia menghantui siapapun yang jadi pelaku.

*

Tidak hanya tema perhantuan, di cerpen Perempuan Buta Tanpa Jari Ibu, Intan Paramaditha merekontruksi cerita dongeng Cinderella. Namun cerpen ini, dengan sudut pandang saudara tirinya, karena iri hati dengan tokoh baik dalam cerpen ini yang bernama cinderalas, dua saudara tirinya terobsesi mengalahkannya. Saat sepatu kaca cinderalas lepas di waktu pesta dengan pangeran, keesokan harinya pihak kerajaan mencari siapa pemilik sepatu kaca ini. Dengan niat tipu muslihat, dengan ekstrim saudara tiri cinderalas ini memotong bagian kakinya agar cocok dengan ukuran sepatu kaca, walaupun usaha mereka pupus karena ada bantuan ibu bidadari dan gagak ajaib yang membocorkan kecurangan mereka.

Baca Juga  Sayap-Sayap Malaikat (1)

Di sini terlihat isu yang ingin diangkat adalah masalah tubuh perempuan, jika kita melihat masalah hari ini, tubuh perempuan selalu berada kungkungan nilai budaya, agama, gaya hidup, yang sering perempuan sendiri tidak merdeka memilikinya.

Ada sebelas cerpen dalam buku ini yang awalnya terpisah terbit di berbagai koran nasional, kemudian disatukan dalam kumcer. Tema-tema dalam buku kumcer ini related dengan masalah-masalah kemanusiaan terutama perempuan, tentang tubuh, keterpinggiran, ketabuan, dominasi, atau kekerasan, sehingga cocok bagi siapapun yang ingin memiliki bacaan sastra tentang tema tersebut.

Bagikan
Post a Comment