f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
healing isra miraj

Healing Ala Rasulullah: Menilik Kembali Peristiwa Isra Miraj

Umat Islam memperingati momentum Isra Miraj setiap tahun, tahun ini bertepatan dengan tanggal 18 Februari 2023 M/ 27 Rajab 1444 H. Peristiwa Isra Miraj menjadi hal menarik untuk diperbincangkan, pasalnya pada momen inilah umat Islam mendapat perintah kewajiban salat lima waktu. Maka, menjadi hal yang wajar jika peristiwa ini menjadi salah satu peristiwa besar di antara perjalanan kerasulan Nabi Muhammad Saw. 

Isra Miraj terdiri dari dua peristiwa, yakni Isra yang menunjukkan perjalanan Rasulullah saw. dari masjid al-Aqsa menuju masjid al-Haram, dan Miraj yakni perjalanan Rasulullah naik ke langit hingga Sidratul Muntaha.

Dari peristiwa ini, menarik untuk ditilik kembali, peristiwa apa yang terjadi di balik Isra Miraj. Perjalanan penting ini terjadi tepat setelah beberapa hal yang menimpa nabi Muhammad Saw. di antaranya, meninggalnya paman tercinta kemudian menyusul istri beliau Khadijah ra. Hingga tahun itu disebut dengan Amul Huzni yakni tahun duka cita atau tahun kesedihan bagi Rasulullah Saw.  

Sebab musibah yang bertubi-tubi ini lah, Allah Swt, menghadiahkan Perjalanan Isra Miraj sebagai healing Rasulullah Saw.. Dikutip dari  tempo.co, healing dalam psikologi diartikan sebagai pemulihan emosional untuk memperkuat diri.  Healing yang Rasulullah lakukan adalah menuju puncak kenikmatan spiritual yakni Rasulullah dipanggil menghadap ke Sidratul Muntaha dan bertemu langsung di hadapan Allah Swt.

Dalam hal ini, patut menjadi sebuah refleksi bagaimana cara Allah menawarkan healing bagi Rasulullah saw. Ternyata healing terbaik yang Rasulullah lakukan adalah kembali kepada Tuhannya, menghadap langsung dengan kekasih-Nya. Maka, duka apa yang akan dirasakan lagi jika kekasih-Nya sendiri yang menghibur hati. Sehingga, menjadi hal yang wajar, tatkala kesedihan menimpa Rasul dan keletihan yang bertindih-tindih beliau berseru, ‘Wahai Bilal, Istirahatkan kami dengan salat’ (HR. Ahmad, no. 23088)

Salat menjadi momen miraj kembali dan healingnya Rasulullah saw. Umat Islam yang dewasa ini mengeluhkan berbagai persoalan hidup, bertumpuknya masalah hingga berbagai problem yang akhirnya menyebabkan stress, mental disorder, anxiety, dan sebagainya bisa menjadikan peristiwa ini sebagai ibrah. Umat Islam sangat beruntung telah mendapatkan penawaran healing terbaik jika ingin menikmati sebagaimana yang Rasulullah Saw. alami. Salat sebagai hadiah Isra Miraj tersebut selayaknya menjadi healing terbaik dan utama sebelum mencari alternatif lainnya.     

Baca Juga  Serupa Bilik yang Rapuh di Beberapa Bagiannya

Maka, momen Isra Miraj ini bukan hanya mengingatkan akan pentingnya salat sebagai kewajiban semata. Namun apa yang bisa kita dapatkan dari ibadah salat tersebut. Sudah menjadi tabi’at manusia jika melakukan sesuatu sangat bersenang hati jika mendapat imbalan dari yang ia kerjakan. Selain dari gembar-gembor pahala yang tak kasat mata, maka salat menawarkan pula solusi masalah. Bukankah permasalahan yang bertumpuk itu akan memberatkan dan menggusarkan hati? Maka, salat menjadi penawar sebagai penenang hati.

Barangkali solusi tidak kita dapati saat itu juga, namun setidaknya hati kitalah yang dikondisikan terlebih dahulu. Ketenangan menjadikan masalah yang menimpa tidak terasa begitu berat adanya. Sebab sebenarnya, saat kita kembali menghadap-Nya dalam salat kita. Sesungguhnya masalah itu telah kita serahkan pada pemilik semesta, maka tersisalah ringan di kita.  

Namun, salat di sini perlu untuk benar-benar dihayati pula sebab yang sekedar saja bisa jadi kita hanya akan menyalahkan salatnya yang tak mampu memberikan ketenangan pada kita. Sebab salat utamanya untuk mengingat Allah, menghadap pada-Nya dengan memperhatikan persiapan dari fisik terlebih ruhani. Yang utama adalah bagaimana kita mampu menghadirkan Allah, sadar apa yang sedang kita lakukan dan pada siapa kita menghadap. Sehingga kita mampu merendahkan diri dan hati di hadapan-Nya.

Seseorang yang datang dengan keadaan demikian sungguh lebih mungkin akan menyerahkan dan memasrahkan segala keadaan dan kondisinya kepada pencipta-Nya, menceritakan dan mencurahkan isi hatinya yang membebaninya sehingga ia mampu mendapatkan dan merasakan ketenangan, setidaknya bebannya telah tertumpahkan dengan mengadukannya kepada pemiliknya.

Maka, bukan sesuatu yang tidak mungkin jika setelahnya Allah mengangkat beban itu seketika. Kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan yang Maha Segalanya menjadi fondasi utama sebab Allah juga berdasarkan prasangka hamba-Nya.

Baca Juga  Self Love dari Filosofi Burung Elang

Sebagai akhir, penulis merasa penting untuk menyampaikan bahwa patut kita ingat pula, setelah proses mengecas kembali ruhaninya, Rasulullah saw. tidak serta merta larut dalam kenikmatan tersebut. Beliau memilih untuk turun kembali ke dunia untuk menuntaskan misi kerasulannya, bermua’amalah dengan manusia. Hal ini menjadi penanda bahwa Nabi Muhammad Saw. tetap mendahulukan kepentingan umatnya, misi kemanusiaan daripada hanya larut dalam puncak spiritualnya sendiri.

Maka, hal ini menjadi underline bagi kita, bahwa kenikmatan ibadah personal tidak menjadikan kita mengesampingkan mu’malah dengan manusia lainnya. Hubungan vertikal selayaknya harus diintegrasikan pula dengan hubungan horizontal. Karena tujuan untuk mengecas ruhani adalah bagaimana setelahnya diri bisa berdaya di tengah manusia.

Wallahu a’lam bi al-Shawab

Bagikan
Comments
  • peringatan isra miraj merupakan ritual islam yang sakral dilaksanakan, walau masih ada juga orang non muslim yang tidak mempercayainya peristiwa itu pernah terjadi karena di dasari argumen bahwa bangunan mesjid aqsa itu baru didirikan tahun 715 masehi dan nabi sendiri wafat di tahun 632 masehi. bagaimana menjawab tuduhan ini ?

    September 22, 2024
Post a Comment