Tips Penerapan Budaya Hidup Halal ala UMKM
Polemik beberapa bulan lalu tentang restoran mie terkenal yang gagal mendapatkan sertifikat halal MUI karena persoalan nama produk sedikit banyak ikut menggugah kesadaran beragama kita. Sudah sejauh mana kita sadar akan kehalalan apa-apa yang kita konsumsi dalam keseharian. Kehalalan tentu tak cuma berkutat soal apakah suatu produk telah memiliki sertifikat halal atau tidak, tak cuma membahas dari segi zat. Akan tapi juga cara memperoleh bahan makanan sampai dengan cara pengolahannya.
Perempuan dan laki-laki berperan penting dalam menjaga kehalalan dapur keluarga. Karena apa yang keluarga konsumsi akan membentuk perilaku, karakter, dan pola pikir terutama untuk anak-anak. Dalam upaya menggerakkan roda ekonomi, mendukung UMKM, dan simbiosis mutualisme, saya menjadi salah satu ibu yang sering berbelanja makanan di UMKM langganan.
Budaya hidup halal adalah cara seseorang menjalani hidupnya sehari-hari dengan standar, nilai, dan prinsip yang diperbolehkan secara agama, tentunya dalam hal ini Islam. Budaya hidup halal tentu tak cuma monopoli perusahaan atau restoran besar. Meskipun belum mempunyai sertifikat halal, bukan berarti UMKM tak bisa menerapkan budaya hidup halal. Ada banyak upaya yang bisa UMKM lakukan untuk menerapkan budaya hidup halal. Mari kita simak beberapa tips budaya hidup halal yang bisa UMKM terapkan :
- Yang Dijual = Yang Dikonsumi Penjual
Produk yang dijual kualitasnya sama dengan makanan yang dikonsumsi penjual. Ibarat memberi makan untuk keluarga, pasti yang diberikan adalah makanan yang terbaik, yang seperti itu juga yang disajikan ke pelanggan.
- Perhatikan Kehalalan Bahan
Ini pastinya jadi syarat mutlak untuk penerapan budaya hidup halal. Untuk daging, pastikan punya supplier yang memotong sendiri ayamnya secara syar’i, minimal penjualnya muslim. Kedepankan kualitas daging yang segar & baik. Untuk bahan-bahan kemasan pabrik seperti tepung, saus, keju pilih yang ada logo halal.
- Pastikan menggunakan bahankondisinya baik dan segar
Kuncinya adalah belanja seperlunya, tidak perlu terlalu banyak sehingga tidak perlu menyimpannya lama dengan begitu bahan-bahannya akan selalu segar. Akan lebih baik lagi jika lokasi tempat tinggal dekat dengan pasar, sehingga jika sewaktu-waktu habis tinggal berbelanja ke pasar.
- Jaga Kualitas Bahan
Pemilihan bahan yang baik akan mempengaruhi kualitas rasa dari makanan dan minuman yang dijual. ‘Ada harga ada rupa’, hal ini juga berlaku pada makanan. Makanan dengan kualitas baik mungkin akan sedikit lebih mahal dari makanan sejenis. Tapi akan tetap ada pangsa pasar tersendiri dan pembeli yang loyal untuk jenis makanan ini.
Penggunaan bahan-bahan berkualitas biasanya berhubungan erat dengan kesehatan. Makanan berkualitas tinggi aman dan sehat untuk dikonsumsi. Contoh penggunaan beberapa bahan untuk masakan yang lebih sehat misalnya untuk penyedap atau penguat rasa, dapat menggunakan kaldu kaldu ayam organik dan kaldu jamur non MSG.
Bila perlu, untuk bahan tertentu seperti garam pilih garam himalaya yang murni tanpa campuran sintetik dan kandungan mineralnya tinggi yang tentunya sangat baik untuk kesehatan tubuh. Sementara untuk bahan-bahan kemasan pabrik, pilih yang kualitasnya baik dari grade sedang sampai tinggi.
Untuk minuman pun juga sebaiknya diperhatikan untuk menggunakan es batu dari air matang, bila memungkinkan bisa dibuat sendiri agar kebersihannya terjaga. Gunakan juga gula asli pada minuman manis, bahkan untuk produk minuman tertentu seperti jamu akan lebih baik jika menggunakan bahan gula kelapa.
- Jaga Kebersihan Bahan dan Peralatan Memasak
Pastikan semua peralatan dicuci setelah digunakan. Gunakan alat/sikat khusus untuk membersihkan bagian-bagian yang sempit/kecil dan susah dijangkau oleh spons atau sikat yang besar sehingga semua bagian bisa dibersihkan. Akan lebih baik jika memiliki peralatan terpisah untuk mengolah daging, sayuran, buah, rimpang, dan roti-rotian untuk mencegah kontaminasi silang.
- Pilih Kemasan yang Aman
Penyajian dan pengemasan yang baik akan berpengaruh pada tampilan yang baik dari produk. Untuk pengemasan, usahakan menggunakan bahan yang lebih sedikit mudharatnya. Contohnya dengan menghindari styrofoam, kertas minyak, juga bahan-bahan lain yang membawa efek buruk untuk kesehatan.
Dalam penerapan budaya hidup halal, perhatian pada kehalalan, kebersihan, dan kebaikan mulai dari proses awal belanja bahan, mengolah, menyajikan, mengemas, sampai dengan menjual. Pengusaha muslim yang menerapkan budaya hidup halal tentu berorientasi tak hanya sekedar mencari keuntungan material belaka. Namun yang terpenting dari itu semua adalah mencari keberkahan Allah. Yuk Rahmania budayakan hidup halal!
Seorang ibu yang senang bercerita lewat tulisan, ASN di Pemkab Magetan.
