f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
taksonomi bloom

Ranah Taksonomi Bloom dalam Pendidikan

Sejak lama kiranya masyarakat terjebak pada pemikiran bahwa suksesnya pendidikan dibuktikan dengan melahirkan siswa-siswa yang cerdas secara intelektual. Begitupun orang tua, ketika mendapati anaknya tidak dalam target nilai yang diinginkan akan marah dan menghakimi bahwa anaknya itu bodoh. Artinya pemahaman ini menjadikan indikator bahwa siswa yang berprestasi adalah siswa yang rangkingnya di atas sepuluh atau nilai matematikanya sempurna. Pemahaman semacam ini harus dirubah dan diganti bahwa setiap anak mempunyai potensi dalam dirinya yang tidak hanya terpaku pada tingkat kecerdasan dalam berpikir.

Dalam dunia pendidikan, proses pembelajaran adalah unsur yang penting dan tidak bisa dipisahkan. Ia bermakna adanya kegiatan mengajar dan belajar, dengan guru sebagai pengajar yang berorientasi pada pemberian materi, pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa sebagai target pembelajaran. Maka pembelajaran akan meliputi proses membangun kemampuan berpikir, membentuk karakter dan melatih keterampilan siswa. Tiga proses tersebut dalam pendidikan dikenal dengan taksonomi.

Taksonomi adalah sebuah klasifikasi pada tujuan dan penilaian pembelajaran. John W. Santrock menjelaskan bahwa taksonomi sebagai sebuah sistem. Istilah taksonomi kemudian dipakai oleh seorang psikolog bidang pendidikan bernama Benjamin Samuel Bloom. Ia melakukan penelitian dan pengembangan tentang kemampuan siswa dalam proses pembelajaran.

Perumusan Ranah Taksonomi Bloom

Benjamin S. Bloom merupakan seorang doktor di bidang pendidikan dari The University of Chicago. Ia dikenal sebagai konsultan dan aktivis internasional pada bidang pendidikan yang telah berhasil membuat perubahan besar dalam sistem pendidikan di India. Ia juga mendirikan The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) dan mengembangkan The Measrurement, Evaliation, and Statistical Analysis (MESA) program pada University of Chicago.

Tahun 1956, Benjamin S. Bloom bersama teman-temannya merumuskan tiga kerangka domain yang menghasilkan karya berjudul “Taxonomy of Educational Objective Cognitive Domain”, dan selang delapan tahun kemudian terbit karya “Taxonomy of Educational Objective Affective Domain”. Kemudian di tahun 1971 terbit karya yang berjudul “Handbook on Formative and Summative Evaluation of Student Learning”.

Bloom bersama keempat rekannya yaitu Engleheart, Furst, Hill, dan Krathwohl merumuskan Taksonomi menjadi tiga ranah dalam klasifikasinya. Pertama adalah ranah kognitif, yang meliputi kemampuan dalam berpikir mencakup ingatan atau pengenalan terhadap fakta-fakta tertentu, pola prosedural, dan konsep-konsep yang memungkinkan berkembangnya kemampuan dan skill intelektual. Kedua adalah ranah afektif, ranah yang berhubungan dengan perkembangan perasaan, sikap, nilai, emosi dan karakter. Ketiga adalah ranah psikomotor, ranah yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan menipulatif atau keterampilan motorik.

Baca Juga  Perlakuan Orang Tua dan Guru di Era New Normal

Dalam setiap ranah pada Taksonomi Bloom mempunyai klasifikasi atau dibagi kembali menjadi pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Ranah kognitif diklasifikasikan menjadi enam bagian yang berhubungan dengan kemampuan berpikir dan skill intelektual. Dalam pendidikan dikenal dengan istilah C1 sampai C6. Dimulai dari tingkat paling dasar yaitu mengingat, memahami, mengimplementasi, menganalisis, mengevaluasi, hingga tingkat tertinggi yaitu mencipta.

Ranah afektif yang pembagiannya disusun oleh Benjamin S. Bloom bersama David Kratwohl, dirincikan menjadi lima tingkatan. Lima tingkatan ini akan diperoleh oleh siswa melalui proses yang berkelanjutan. Dimulai dari menerima, menanggapi, menghargai, mengorganisasikan sampai pada tahap karakterisasi satuan nilai. Hasil belajar afekrif tampak pada tingkah laku atau sikap siswa dalam kehidupan sosial, seperti perhatiannyapada setiap mata pelajaran yang diberikan, memiliki kedisiplinan tinggi dalam mengikuti pelajaran di kelas, memiliki motivasi dan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai pelajaran yang diterima, dan lain sebagainya.

Ranah ketiga, ranah psikomotor tidak dirumuskan langsung oleh Bloom, tapi dibuat oleh ahli lain berdasar pada ranah yang dibuat Bloom; yang di dalamnya meliputi persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan yang kompleks, penyesuaian pola gerak dan kreativitas. Pendapat lain mengungkapkan ada lima klasifikasi dalam penilaian belajar ranah psikomotor yaitu imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi. Ranah ini berkaitan dengan mata pelajaran yang berorientasi terhadap gerakan dan fokus pada keterampilan tangan dan berbagai macam reaksi fisik.

Implementasi Taksonomi Bloom dalam IPTEK

Pertanyaan yang terlintas sekarang mengenai Taksonomi Bloom dalam pendidikan adalah, bagaimana caranya teori tersebut dapat diimplementasikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, agaknya penting terlebih dahulu kita mereformasi isi pedidikan yang sering dikeluhkan tidak sesuai dengan tuntutan kehidupan. Seorang peneliti Bernama Tony Wagner menuangkan risetnya dalam sebuah buku berjudul The Global Achievment Gap. Ia menjelaskan dalam bukunya betapa penting The Survival Skill. Saat isi dunia pendidikan sudah berubah, tahap berikutnya model pembelajaran dan kompetensi juga harus ada perubahan.

Baca Juga  Narsis vs Narsisme : Fenomena Sosial Masyarakat Bias

Alasanya karena model dan metode pembelajaran tidak hanya menggunakan metode ceramah dan berpusat pada guru, sedangkan siswa sudah terbiasa dengan dunia gawai atau teknologi informasi. Pembelajaran tidak hanya fokus pada materi pelajaran yang diampu, tapi bisa menjadi inter-disiplin bahkan multi-disiplin mata pelajaran. Ungkapan yang mengatakan “Bad teacher tells, good teacher shows, great teacher inspires” bukan sebatas idiom belaka, tapi menjadi kewajiban guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengajar. Untuk menjawab kegalauan tentang Taksonomi Bloom pada era digital saat ini, maka pendekatan dalam pendidikan dengan prinsip-prinsip dan metodenya harus mampu menyesuaikan dengan perubahan teknologi digital.

Bagikan
Post a Comment