Narsis vs Narsisme : Fenomena Sosial Masyarakat Bias
Saya pernah berdiskusi dengan seseorang dan kami menemukan fakta bahwa Instagram itu memikat sampai mengikat diri kami. Awalnya pengin lihat Instagram lima menit saja. Ehh, kebablasan hingga berjam-jam. Daya tariknya mampu mencuri waktu produktif kita bahkan waktu istirahat kita.
Instagram memang punya banyak manfaat, tapi ingat: Instagram juga banyak bermudarat. Kalau kita tidak pandai membagi waktu, Instagram bisa jadi seperti “narkoba” jenis baru. Ia memikat kita sampai akhirnya kita terikat. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Darurat Mudarat Bagi Para Pengguna Instagram”
Instagram, sebagai jejaring sosial populer banyak di manfaatkan oleh anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Beragam layanan yang di tawarkan Instagram. Mulai dari berbagi foto, video, hingga kegiatan yang sedang di lakukan atau biasa di sebut dengan Live. Di sisi lain, pengguna bisa aling bertukar pendapat terkait suatu hal di kolom komentar.
***
Bermacam-macam cara di lakukan oleh para pengguna untuk meningkatkan penampilan dalam setiap unggahan mereka. Mulai dari menambahkan filter pada foto, angle serta gaya yang menarik merupakan beberapa hal yang dapat meningkatkan penampilan seseorang pada unggahan foto Instagram mereka. Beberapa hal tersebut meningkatkan jumlah unggahan selfie atau swafoto para pengguna Instagram.
Bagi kaum muda yang tumbuh dengan platform seperti ini membuat mereka memiliki pandangan bahwa berpose lalu mengunggahnya ke Instagram merupakan sesuatu yang “normal”. Karena Instagram sangat mengedepankan visual, maka para penggunanya bisa memilih variasi dalam mempresentasikan dirinya di jejaring sosial. Di mana seseorang sangat mengharapkan respons yang positif sehingga dapat meningkatkan harga dirinya.
***
Banyaknya unggahan yang dibagikan seseorang di Instagram terkait dengan narsisme dan harga diri. Harga diri bergantung pada persahabatan merupakan faktor penting bagaimana seseorang mempresentasikan diri dalam hubungan personal.
Apabila harga diri seseorang di lihat dari seberapa baik hubungan seseorang tersebut dengan orang lain, mereka akan lebih termotivasi untuk meluangkan waktu dan tenaga untuk presentasi dirinya. Serta menjaga pandangan positif orang lain terhadap mereka.
Individu cenderung akan berusaha terus menampilkan presentasi diri secara online yang sifatnya positif untuk mempertahankan dan menambah temannya di jejaring sosial. Kemudian, individu dapat merasa berharga karena adanya dukungan teman.
Seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi cenderung meningkatkan diri, sedangkan seseorang yang memiliki harga diri yang rendah cenderung memproteksikan diri sendiri dalam perilaku presentasi diri.
Mereka akan menurunkan rating diri mereka di depan umum atau di saat situasi yang mengancam. Jika sumber harga diri sangat bergantung pada relasi persahabatan, maka akan berkembang kecenderungan yang kurang baik. Karena sejatinya, seseorang tidak dapat memandang dirinya sebagai figur yang berharga tanpa keberadaan dan pengaruh dari teman yang dianggap penting.
***
Jejaring sosial menjadi wadah yang menjembatani relasi pertemanan beda waktu dan lokasi geografis, dan menyediakan dukungan sosial kepada individu. Kondisi seperti ini mendorong individu untuk mengalami kecemasan ketinggalan informasi di jejaring sosial yang lebih tinggi karena besarnya ketergantungan dengan individu lain yang di anggap penting di dalam jejaring sosial. Fenomena kecemasan ketinggalan informasi di jejaring sosial dapat dipahami sebagai situasi yang timbul akibat buruknya regulasi diri (self-regulatory) dan kepuasan psikologis seseorang.
Selain itu, fenomena tersebut cukup membantu menjelaskan kepada para pengguna jejaring sosial yang bersifat eksesif oleh masyarakat. Itu artinya, bahwa relasi sosial yang di bangun dengan sifat menguntungkan sekaligus memuaskan akan selalu di pertahankan. Individu yang bermasalah dalam relasi dengan orang lain menjadi agak berlebihan saat menggunakan jejaring sosial untuk berinteraksi dengan orang lain.
Individu memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih cemas, mudah marah, merasa lebih memadai dan memiliki perasaan rendah diri yang bersifat sementara setelah melihat jejaring sosial. Dengan hubungan secara terus-menerus ke teman-teman mereka yang update jejaring sosial, hampir tidak mungkin mereka tidak mengetahui apa yang orang lain lakukan dan katakan setiap saat. Lalu, apakah Anda termasuk orang yang takut ketinggalan informasi ketika telepon seluler Anda mati?
Editor; Iefone Shiflana Habiba
Penulis dari Sidoarjo
Instagram @wahyuprihartanto6284
