Tips Menyambung Silaturahim dengan Teman Lama
Beberapa bulan yang lalu saya mendapat kabar bahwa teman saya di asrama saat SMA meninggal dunia. Saya dan teman-teman lain sangat kaget dan terpukul mendengar kabar tersebut. Seakan ada sesuatu yang mengganjal, betapa dekatnya kami dahulu, dan ia pergi begitu cepat saat usia 27 tahun. Saya menyesal karena sejak lulus saya tak banyak berkomunikasi dengannya.
Alasannya tentu saja seringkali canggung dan awkward saat chat, meski saya yakin kalau kami bertemu akan mencair seperti dulu. Berkali saya mencoba mengawali obrolan, namun berakhir dengan kegaringan. Pernah sekali kami video call tapi juga tak seakrab saat kami masih SMA. Berawal dari penyesalan itu kami lantas mulai membuka komunikasi dengan yang lain. Kami tak ingin menyesal lagi. Nah berikut tips dari saya.
Hindari Overthinking
Salah satu alasan kita jarang komunikasi dengan teman lama adalah kita sering takut akan respon teman kita. Kita takut ia tak nyaman, takut ia sibuk, takut menganggu, takut dia tak suka, takut bosan, dll. Padahal teman kita juga merasakan hal yang sama, akhirnya jadi canggung. Maka lebih baik hilangkan pikiran-pikiran itu, ingatlah ia saat bersama, dan sapalah seperti saat dulu masih bersama. Meski kita terus bertambah usia, tapi kita tetap akan menjadi anak-anak ketika bertemu teman lama.
Saya kadang berpikir, dia sudah berbeda. Apa dia mau berhubungan lagi dengan saya? Apa dia sudah berbeda lingkaran pertemanannya? Sepertinya dia sudah sukses dan keren, sedangkan saya masih begini-begini saja. Dia malu gak ya berteman sama saya. Ah, dia sudah berbeda. Ah, kita berbeda pandangan.
Ini adalah pikiran-pikiran yang muncul saat saya melihat teman saya di media sosial. Mereka sering menampakkan hal-hal menyenangkan yang sepertinya tidak sebahagia ketika kami bersama. Padahal teman saya pun berpikir demikian tentang saya. Mereka masih sama seperti dulu ketika kami bersama. Mereka orang yang sama, yang selalu menyayangi kita apa adanya. Jangan tunda lagi, waktu kita tidak banyak!
Berhenti Insecure
Ketika sudah lama tak bertemu, lalu kini kita sudah dewasa tentu kita berpikir teman kita sudah sukses. Misal kita sering melihat media sosialnya yang memiliki banyak teman dan pekerjaan yang keren. Kadang saya sering insecure kalau bertemu teman, sehingga saya memilih tidak berkomunikasi dengan mereka. Padahal dalam pertemanan yang tulus tidak pernah ada perbandingan. Teman-teman kita begitu tulus dan menghargai kita sebagaimana adanya. Percayalah, teman-teman kita juga merasakan hal yang sama, maka harus ada yang memulainya.
Saya sering berpikir betapa kerennya teman saya, dan betapa tidak kerennya saya. Saya sering tidak sanggup bertemu mereka, apalagi jika ditanya kegiatanmu apa? Bagai petir di siang bolong. Saya kebingungan menjawabnya. Padahal ketika sudah berkomunikasi, hubungan kami mengalir seperti dahulul. Kami bahkan telepon berjam-jam menceritakan kehidupan masing-masing. Tentunya, tidak ada merendahkan dan direndahkan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Justru kami menceritakan kekurangan kami masing-masing.
Lebih Baik Telpon daripada Chat
Sudah berkali-kali saya chat teman lama saya, tapi selalu garing alias gak ada obrolan lagi. Saya merasa teman saya orang lain karena hanya membaca pesan, bukan mendengar suaranya. Ekspresi dan intonasi pun tak bisa terbaca melalui chat. Kita bisa telpon dan bertanya apakah teman kita sedang senggang karena kita ingin mengobrol panjang. Jika ia bersedia maka mulailah mengobrol lagi, dan saya yakin tidak akan garing.
Ketika obrolan sudah terjadi akan selalu ada yang dibahas. Misalnya nostalgia masa lalu, atau menceritakan kehidupan saat ini. Kita bisa mendengar nada dan intonasi suara, bisa juga melihat ekspresinya jika video call. Percayalah mereka pun ingin sekali mendengar dan melihat kita.
Mulai dengan Nostalgia dan Curhat
Jika masih canggung maka mulailah dengan nostalgia masa lalu. Ingatlah masa-masa kebersamaan dan betapa rindunya kalian. Kita bisa membahas kejadian-kejadian masa lalu yang lucu dan konyol lalu menertawakan bersama.
Jika sudah kehabisan ide, kita bisa mulai menceritakan kehidupan yang kita jalani saat ini. Saling bertanya tentang kondisi masing-masing serta keresahan-keresahan yang dirasakan. Saya yakin kebanyakan orang memiliki keresahan yang sama, apalagi dulu pernah bersama. Keresahan yang diceritakan membuat kita saling menyemangati dan lebih menghargai diri.
Ajak Teman yang Lain
Jika kita rasa obrolan akan canggung maka tidak ada salahnya kita mengajak telpon bersama, saya biasa melakukan video call bersama atau menggunakan google meet. Jika kita tipe yang sulit mencari pembahasan, maka kita bisa ajak teman yang asik saat ngobrol. Percayalah, obrolan akan mengalir dengan sendirinya.
Dari beberapa lingkaran pertemanan, pasti ada teman yang paling mudah mengambil tema obrolan. Ia bisa mencari ide dengan cepat untuk ngobrol, nah orang ini akan selalu mencairkan suasana yang canggung. Ada baiknya kita melakukan video conference untuk mengurangi kecanggungan.
Lanjutkan Komunikasi
Tentu momen bersama teman tak ingin kita lewatkan begitu saja. Kita tak ingin hanya nostalgia sehari dua hari. Maka komunikasi perlu dilanjutkan untuk mempererat tali silaturahim. Kita bisa mengajak teman untuk rutin video call. Bisa juga kita saling sapa ketika teman kita membuat status di media sosial. Kita bisa sharing tentang hal-hal yang kita hadapi sehari-hari.
Hal ini yang saya lakukan bersama teman-teman saya. Setiap update baru dari teman selalu kami komentari. Berawal dari komentar diikuti dengan obrolan panjang. Bahkan kami kadang membahas drama korea dan kasus yang terjadi. Mungkin receh, tapi percayalah, kami hanya ingin ikatan kekeluargaan ini terus terjalin.

Seorang mompreneur, founder and teacher tahsinonlinebenome.
