f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mama

Mamaku Pergi sebelum Aku Tiba (1)

Pagi hari dengan hiruk pikuk kesibukan anak kos menandakan semua kembali beraktivitas seperti biasanya. Ada yang bergegas kekamar mandi, memasak makanan, minum kopi, berangkat kerja dan tak ketinggalan ada yang ke kampus. Aku pun mengalami hal yang sama, pagi itu sekitar jam 06.30, aku sudah bersiap diri untuk berangkat kerja disalah satu proyek di Kota Medan. Semua keperluan yang harus dibawa dilengkapi sebelum berangkat. Namun, aku merasa sedikit istimewa karena tidak sesibuk teman-teman yang lain dalam mengurus keperluan pribadi. Mengapa? Aku memiliki kakak perempuan yang mengurus kebutuhan kami selama dalam perantauan.

Hal ini juga sebenarnya seperti tak adil bukan? Seperti ada ketidakadilan yang tercipta, anggap saja begitu walau kakak perempuanku ikhlas tentang itu. Aku laki-laki dan dia perempuan yang sama-sama punya tanggung jawab serta tuntutan yang sama. Namun, namanya kakak harus mengambil risiko besar memiliki adik laki-laki seperti aku. Bagaimana tidak, aku begitu malas mengerjakan jika disuruh melakukan apapun apalagi jika berhubungan dengan urusan dapur. Aku sedikit enggan.

Matahari pagi itu bersinar dengan terang dari barat seperti memberi ultimatum bahwa hari itu adalah hari bahagia, damai, dan penuh dengan canda tawa, sambil melebarkan gigi dan pelan-pelan merayu kakak agar ongkos angkot yang diberikan bisa ditambahkan sedikit dari biasanya. Namanya  anak kos, hidup serba irit dan hemat.

***

Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, aku pun pamit dengan kakak dan berangkat kerja. Di angkot seperti biasa orang serba sibuk mencari tempat duduk yang nyaman. Sesekali ada suara penumpang, “Bang, bisa cepat gak?! Sudah telat ini.”

Dan sopir angkot menganggukkan kepala saja sambil berkata, “Iya sabar ya. Buk! Kursi belakang belum padat itu.”

Aku mengambil tempat duduk di depan tepat di samping bapak sopir. Sambil menikmati perjalanan ini aku sedikit bertanya-tanya kepada bapak itu tentang berapa jumlah setoran per hari, atau bahkan bagaimana semisal tidak terpenuhi setorannya, itu kira-kira ada denda atau diikhlaskan saja?

Baca Juga  Hiduplah Sesuai Kemampuan: Nasihat Berarti yang Disalahpahami

“Kalau tidak dapat target, itu sudah risiko, Dik. Terpaksa di tutupi pakai uang pribadi atau ngutang sama bos pemilik angkotnya.” Jawab bapak itu menatap lurus ke depan.

“Oh gitu ya, Pak.” Balasku menimpali. Dalam hati kasihan juga ini bapak, huft. Hidup memang harus demikian, hidup di kota besar nomor tiga di Indonesia ini pastinya sangat susah. “Tak kerja tak makan”, begitulah istilahnya yang sering aku dengar. Setahu aku juga di Medan begitu banyak angkot namun penumpang sangatlah menipis.

***

Jalanan di depan kami sangat macet, dan hal ini tidak mengherankan. Pagi-pagi sudah ramai mengejar deadline waktu masuk kerja. Namanya juga kota, kalau mau tidak macet berangkatlah pagi-pagi buta. Kurang lebih 20 menit di angkot, akhirnya aku tiba di tempat kerja dengan selamat.

Seperti biasa kalau sudah di tempat kerja sebelum mandor datang. Aku memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang akan diserahkan hari itu. Maklum, aku berasal dan lahir dari keluarga petani dengan ekonomi serba kekurangan. Jadi, satu-satunya pilihan untuk aku adalah harus kuliah sambil kerja. Miris ya? Tapi itulah faktanya selama aku mengenyam pendidikan di Kota Medan.

“Fider….!!!” Suara mandor memecah konsentrasiku.

“Iya, Pak!” Balasku sambil melihat ke arahnya. Aku yang sedang asyik mengerjakan tugas langsung berhenti dan bergegas menghampirinya. Aku dan beberapa teman pekerja lainnya tiba bersamaan di depan mandor.

“Hari ini kalian mengerjakan pekerjaan yang tertunda kemarin dan segera menyelesaikannya dengan standar kualitas kerja yang baik.” Kata beliau sambil memberikan daftar hadir kepada kami.

Tanpa basa-basi aku langsung mengerjakan pekerjaan masing-masing sesuai perintah mandor. Hampir dua jam kami mengerjakan pekerjaan tersebut, hasilnya dari segi fisik yang kami kerjakan sudah mulai terlihat.

Baca Juga  Gulana
***

Kira-kira pukul 10.15 pagi itu, handphone milik aku berdering. Namun, hal itu aku abaikan dikarenakan posisi masih sedang bekerja sehingga tidak berani mengangkat telepon tersebut. Kemudian, beberapa saat telepon aku berdering untuk kedua kalinya hingga dering ketiga aku menjawab telepon tersebut dengan terpaksa. Tentu saja, aku meminta izin kepada mandor yang tengah mengawasi pekerjaan kami. Ternyata yang menelepon adalah kakak perempuan aku.

“Halo, kenapa kak?” Tanyaku di telepon yang sudah terhubung.

“Ini bukan kakakmu, Dek. Tapi ini bapak pemilik toko, tempat kakakmu kerja.” Balasan di seberang sana membuat aku sedikit terkejut dan diliputi dengan berbagai macam pertanyaan.

“Oh, iya Pak. Kenapa ya, Pak?”

“Kamu lagi kerja ini, Dek?”

“Iya, Pak. Aku sedang kerja.”  

“Kamu duduk dulu, tenangkan hatimu, jangan gegabah dan kamu harus kuat mendengarkannya ya, Dek.” Imbuh Bapak itu dengan nada penuh kekhawatiran.

***

Pikiran dan hati aku mulai tidak terkontrol dan memiliki rasa was-was karena dipikiran aku hanya satu, kakak aku pasti sedang sakit dan tidak tertolong lagi. Kemudian dengan nafas terburu-buru, aku bertanya balik.

“Ada apa, Pak. Apakah, Kakak aku sedang sakit?”

“Kakakmu sehat, kok.”

“Lalu, kenapa, Pak?”

Bapak itu tidak menjawab seperti menghela napas panjang. Lalu, sayup-sayup aku mendengar orang yang sedang menangis. Ternyata suara tangisan itu adalah suara kakak aku. Sambil menyebut, “Mama……Mama….Mama.” Kekhawatiran yang cukup mendalam pun memuncak. Wajah mama terbayang seperti apa keadaannya sekarang. Doa seketika aku lantunkan agar mama dalam keadaan sehat. Akhirnya, bapak itu dengan pelan menjelaskan kalau ibu aku dalam keadaan sakit parah.

“Kamu harus balik ke kos sekarang, dek.” Katanya sedikit memerintah.

Bagikan
Post a Comment