Makna Yang Tertimbun Sepi
Serangkaian emosi bercerita
Mereka merangsek ruang bawah sadar
Di antaranya terselip ada sukacita
Selebihnya tersisa emosi yang tertampar
Kehidupan tak selalu satu warna
Kepada dunia, kubergumam
“Tak kan kubiarkan kau menjamah rumahku,”
Diriku adalah rumahNya
Jiwaku dalam genggamanNya
Menawan diriku pada ego adalah semu
Dalam keheningan tertatih aku merengkuhNya
Pada kebisingan aku menggeliat akan kehadiranNya
Dalam apa kucari ketiadaanNya?
Bahkan DIA dekat sangat dekat
Lebih dekat dari urat leherku sendiri
Pada lukisan kehidupan aku torehkan
Semua warna menjadi satu
Kadang kelabu kadang ceria
Kuintip warna lalu kupetik kebahagiaan
Mengapa bersedih ketika ruhku adalah ruhNya?
Terseok-seok aku pintal jiwa yang robek-robek
Porak-poranda diteror pongahnya pikiran
Tersesat aku mencariMu di belantara
Luasnya hutan nafsu yang mencegahku pulang
Dengan lantang aku teriaki diri, “Siapa kamu melupakanNya?”
Dalam kegelapan ada cahaya
Di dalam diam ada suara
Dalam bahagia ada duka
Di dalam suka ada nestapa
Begitulah IA jadikan semua tertata
Kemana kau tambatkan pilihan?
Pada dualitas atau monolitas?
Siapa kamu dengan segumpal sombong di tangan
Meninju jiwa hingga berdarah
Lalu menjauhlah kamu dari berkah
Wahai diri, apa kabar?
Wahai pikiran, sedang apa?
Halo jiwa, sedang di mana?
Mendekatlah, merapatlah
Bersatulah dengan DIA Maha Segalanya
Hampir saja hatiku pecah berkeping-keping
Nyaris jiwaku ditabrak jalan yang sepi
Pikiran hampir runtuh karena angkara ego
Aku berlarian ke sana kemari mencari
Menemukan makna yang tertimbun sepi
Founder Excellent in House Training, penyedia guru bahasa Inggris untuk karyawan kantor.
Instagram @ratu_masrana
