f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ulil albab

Mengenal Ulul Albab, Sebutan Para Ilmuan dalam Al-Qur’an

Istilah Ulul Albab tidaklah asing. Ia biasanya digunakan sebagai nama-nama masjid, lembaga pendidikan, juga nama seseorang. Ulul Albab merupakan istilah yang terdapat dalam beberapa ayat di Al Qur’an, salah satunya pada QS.Al Imran  190:_“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, adalah tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (Ulul Albab)”_.

Secara bahasa Ulul Albab berasal dari dua kosa kata, yaitu “Ulu dan al albab”. Ulu memiliki arti “mempunyai”, sedangkan al albab memiliki beragam arti. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, “albab” diartikan akal. Karenanya Ulul Albab berbentuk jamak dan berasal dari al-lubb. Bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa Ulul Albab adalah orang yang memiliki otak yang berlapis-lapis atau memiliki ketajaman dalam berpikir.

Dalam penelusuran terjemahan bahasa inggris, ditemukan makna Ulul Albab yang lebih beragam. Ulul Albab berkaitan dengan pikiran (mind), perasaan (heart), daya pikir (intellect), pemahaman (understanding), dan kebijaksanaan (wisdom).

Istilah Ulul Albab pada QS.Ali Imran 191 yang mengindikasikan siapakah Ulul Albab :

”(yaitu) yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan senantiasa mengingat penciptaan langit dan bumi, (lalu ia berdoa), “Ya, Allah, tiadalah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau , maka lindungilah kami dari siksa api neraka”.

Dari ayat tersebut dapat kita lihat bahwa ada dua ciri khusus yang mengacu pada istilah Ulul Albab, yaitu : berpikir dan berdzikir. Dua hal ini tidak terpisahkan. Berpikir adalah kerja akal, dan berdzikir adalah kerja hati. Dua hal berbeda yang mengasah dua bentuk kecerdasan. Kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.

Ulul Albab sebagai aktivitas  berdzikir, atau mengingat Allah dalam situasi apapun, ketika berdiri, duduk, maupun berbaring (Ali Imran 191), sebagai salah satu upaya membangun hubungan vertikal transedental dengan Allah Swt, juga hubungan sosial  seperti melalui pengamalan zakat, infaq, dan sedekah.

Baca Juga  Memaksakan Diri Membaca

Sedangkan Ulul Albab sebagai aktivitas  berpikir melibatkan beragam obyek fenomena alam, seperti pergantian malam dan siang, penciptaan langit dan bumi, siklus kehidupan tanaman, turunnya air hujan, juga fenomena sosial seperti sejarah dan kisah-kisah orang terdahulu. Sebagai sebuah konsep yang harus dibumikan.

Orang yang Senantiasa Berpikir dan Berdzikir

Ulul Albab sebagai makna orang-orang yang berpikir maupun berdzikir, meneliti, melakukan berbagai pengamatan maupun riset, maupun menemukan suatu teknologi untuk memudahkan kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhannya,dan melakukan perenungan-perenungan serta  mengupayakan kesadaran bertuhan,  memiliki banyak manfaat dan hikmah, antara lain ;

  1. Meningkatkan Integrasi
    Seorang Ulul Albab akan selalu mengintegrasikan kegiatan berpikir dan berdzikir. Hal tersebut dapat terwujud dalam mengislamisasi diri, menjadi pribadi yang saleh secara ritual sekaligus saleh sosial.  Menyeimbangkan dan menyinergikan ilmu dan iman.
  2. Mengasah sensitivitas
    Sensitifitas bagi seorang Ulul Albab adalah kepekaannya dalam melakukan pengamatan di sekitarnya . Dengan memaksimalkannya secara mendalam, diiringi dengan perenungan, serta senantiasa memuliayakan Dzat Yang Maha Mencipta.
  3. Memastikan adanya suatu relevansi
    Proses berpikir harus menghasilkan manfaat. Di sini, isu relevansi menjadi penting. Bisa jadi, kemampuan berpikir manusia belum sanggup membuka tabir dan memahaminya dengan baik alias berpikir fungsional. Tapi bagi Ulul Albab, semuanya dikembalikan pada kepercayaan bahwa Allah menciptakan semuanya dengan tujuan, tidak sia-sia (Q.S. Ali Imran 3:192
  4. Mengembangkan imajinasi
    Paduan aktivitas pikir dan zikir seharusnya menghasilkan imajinasi masyarakat dan umat Islam untuk lebih maju (Q.S. Al-Hashr 59:18; An-Nisa 4:9). Untuk bergerak dan maju, kita perlu mempunyai imajinasi masa depan dan tidak terjebak dalam sikap reaktif yang menyita energi. 

Karenanya, Ulul Albab harus mengikhtiarkan pikiran yang kritis, kreatif, dan kontemplatif untuk menguji, merenung, mempertanyakan, meneorisasi, mengkritik, dan mengimajinasi. Ciri kritis karakter zikir muncul ketika berhadapan dengan masalah konkret. Berzikir berarti mengingat atau mendapat peringatan. Karenanya, watak orang yang berzikir adalah mengingatkan.

Baca Juga  Menjadi Muslim di Singapura: Dari Sosio-Kultural, Religiusitas hingga Kebijakan Negara (2)
***

Mengutip buku Studi Ulumul Quran dari  Manna Khalil  Qathan , asbabun nuzul Surat Ali Imran ayat 190-191 diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Atha ia bercerita bahwa: Aku pergi bersama Ibnu Umar dan Ubaid Bin Umar waktu mengunjungi Aisyah r.a., yang menerima dan menemui kami di balik tirai. Beliau bertanya kepada kami, “Hai Ubaid! Apakah yang menghalangimu mengunjungi kami?” Ubaid menjawab dengan pepatah yang berbunyi: “Berkunjunglah jarang-jarang agar bertambah kasih dan sayang.”

Lalu Ibnu Umar bertanya kepada Aisyah, “Ceritakanlah kepada kami apa yang engkau lihat yang paling menakjubkan tentang perilaku Rasulullah SAW?” Aisyah menjawab, “Semua tingkah lakunya menakjubkan. Pada suatu malam beliau menghampiriku sehingga bersentuh tubuhku dengan tubuhnya.

Lalu beliau bersabda kepadaku,”Biarlah aku beribadah kepada Tuhanku “. Aku menjawab, “Demi Allah! Bahwa aku suka engkau berada di sampingku, tetapi aku juga suka engkau beribadah kepada Tuhanmu”.

Usai shalat beliau duduk sambil menangis tersedu-sedu sampai janggutnya basah oleh air matanya, kemudian ia bersujud dalam keadaan menangis hingga air matanya membasahi lantai. Ketika Bilal datang untuk panggilan shalat subuh, ia menemui beliau masih dalam keadaan tersedu-sedu dalam keadaan berbaring.

Bilal bertanya kepadanya, “Apakah yang menyababkan engkau menangis ya Rasulullah padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang akan datang?” Rasulullah menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis hai Bilal, setelah Allah menurunkan ayat ini, celakalah hai Bilal orang yang membaca ayat ini tanpa merenungkan dalam-dalam isinya.”

Adapun ayat yang dimaksud Rasulullah yakni Surat Ali-Imran ayat 190-191 yang berbunyi:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

Baca Juga  Harapan untuk Kawasan Pesisir Pantai

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka,”

Surat Ali Imran ayat 190-191 secara umum menjelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang semestinya direnungi oleh umat Muslim. Berikut beberapa poin khusus isi kandungan Surat Ali Imran ayat 190-191:

Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda kekuasaan Allah. Tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini hanya diketahui oleh Ulul Albab. Ulul Albab adalah orang yang berdzikir dan berpikir. Ia selalu ingat kepada Allah dalam segala kondisi dan ia juga mempergunakan akalnya untuk memikirkan penciptaan alam semesta.

Tafakkur atau berpikir yang benar akan mengantarkan pada kesimpulan bahwa Allah menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia. Semuanya benar, semuanya bemanfaat. Tafakkur atau berpikir yang benar juga melahirkan kedekatan kepada Allah dan memperbanyak doa kepada-Nya.Wallahu A’lam.***

Bagikan
Post a Comment