Merdeka Belajar: Jangan Berhenti Belajar Meski Masa Pandemi
Pemerintah Indonesia memutuskan pendidikan adalah sektor yang dibuka paling akhir di era Normal Baru. Berbagai pertimbangan tentu saja telah didiskusikan matang-matang oleh mereka. Dan, pertimbangan paling kuat tidak lain adalah demi keselamatan masyarakat, khususnya para siswa dan guru. Sehingga sampai saat ini, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dicukupkan secara virtual.
Pendidikan merupakan sektor yang paling banyak mendapat perhatian. Respon masyarakat terkait keputusan tersebut bermacam-macam. Setuju dan tidak setuju, adalah hal biasa. Ada masyarakat yang beranggapan jika anak tidak segera kembali ke sekolah maka anak akan kehilangan semangat belajarnya. Tanggapan lain muncul dengan dalih, jika dibuka maka malah membuka klaster baru Covid-19. Tidak mau kalah, ada masyarakat beropini bahwa usaha menyelamatkan anak-anak adalah usaha menyelamatkan masa depan.
Adanya pandemi korona mengingatkan kita, bahwa belajar itu tidak harus di sekolah. Murid dan guru tidak perlu datang ke sekolah untuk melaksanakan kewajiban masing-masing. Di rumah masing-masing, mereka mampu berkomunikasi dan melakukan aktivitas belajar mengajar sebagaimana di sekolah. Semua itu bisa dilakukan saat ini dengan kecanggihan teknologi terbaru.
Keluarga
Jika melihat zaman dahulu kala, sekolah bahkan tidak ada. KBM dilakukan di masjid, salah satunya. Masjid bukan sekadar tempat sembahyang, melainkan tempat belajar masyarakat. Selain itu, rumah adalah sekolah keluarga. Nabi Muhammad SAW pernah melakukan KBM di rumah. Beliau dakwah menggunakan dua metode: sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.
Nabi Muhammad SAW membuka rumahnya sebagai tempat belajar Islam. Awalnya, Nabi Muhammad SAW hanya mengajar sanak famili. Lalu, beliau mengajar orang-orang terdekatnya, seperti para sahabatnya. Baru setelah semakin banyak orang masuk Islam, dan Islam semakin dikenal, beliau mengajarkan Islam secara terang-terangan. Akhirnya, belajar tidak melulu di dalam rumah beliau.
Di Yogyakarta, ada pahlawan pendidikan yang sangat terkenal, yakni Ki Hajar Dewantara. Sebuah ungkapan filosofis beliau yang terkenal hingga sekarang adalah: semua orang murid, semua orang guru, dan semua tempat sekolah. Dalam Tri Pusat Pendidikan, beliau menjelaskan tentang sistem pendidikan. Menurutnya, sistem pendidikan itu melibatkan alam keluarga, alam perguruan, dan alam masyarakat.
Lagi-lagi, pusat pendidikan pertama terdapat pada keluarga. Di mana seorang anak lahir dan dididik oleh orang tuanya. Mulai dari belajar berjalan, makan, berbicara, dan masih banyak lagi. Dalam alam keluarga inilah seseorang bisa belajar selama 24 jam. Bahkan setelah seseorang masuk ke jenjang sekolah atau perguruan, keluarga tetap menjadi tempat pendidikan.
Dalam lingkungan keluarga, seseorang bisa belajar dari pengalaman. Pengalaman orang tua, misalnya, atau dari kakaknya, atau malah langsung dari kakek dan neneknya. Semua orang pasti tahu, bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Belajar dari pengalaman tentu bisa membantu memikirkan solusi dari permasalahan hidup yang sedang dialami. Di samping itu, seseorang tidak perlu pusing-pusing memahami teori, seperti ribetnya rumus Matematika.
Alam Perguruan
Berikutnya, alam kedua pendidikan adalah alam sekolah atau perguruan. Sekarang, adanya pendemik ini membuat para murid tidak bisa belajar di sekolah atau perguruan. Sistem belajar mengajar dilakukan secara virtual. Sistem yang secara mendadak diterapkan di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa sistem ini tidak bisa diterapkan ke seluruh daerah di Indonesia. Sebab, banyak daerah yang masih tergolong pelosok, kesulitan sinyal, dan kurangnya sarana dan prasarana yang memadai.
Sekolah atau perguruan, adalah salah satu tempat paling cocok untuk belajar. Murid fokus belajar. Murid merasa asyik dan tidak bosan belajar karena di sekolah banyak teman, berbeda dengan belajar dari rumah dan masyarakat. Suasana lingkungan sekolah sangat mendukung untuk kegiatan belajar mengajar. Sedangkan di rumah dan di masyarakat, adalah tempat yang enak dan biasa untuk bermain dan bersosial, tidak fokus pada dunia pembelajaran.
Masyarakat
Selain kedua tadi, masyarakat adalah salah satu alam pendidikan seseorang. Tidak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pendidikan seseorang, terutama dalam hal kepribadian. Seseorang akan dibentuk kepribadian atau kebiasaannya sesuai situasi dan kondisi serta norma yang berlaku di masyarakat sekelilingnya. Maka, secara tidak langsung, pola kehidupan sebuah masyarakat telah membantu mewujudkan cita-cita bangsa, yakni mencerdaskan bangsa.
Contoh sederhana, orang Papua merantau ke Yogyakarta untuk mencari ilmu. Lalu, ia masuk ke lingkungan adat istiadat Jawa. Setiap kali bertatap muka dengan orang lain, maka uluk salam. Ketika jalan dan hendak melewati orang sepuh maka bilang “nderek langkung”. Dan masih banyak lagi. Akhirnya, pribadi orang Papua yang umumnya berbicara dengan nada tinggi, setelah lama di Yogyakarta berubah menjadi halus dan rendah.
Dari sini kita tahu, bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi bagaimanapun. Meski sekolah libur, sekalipun orang tua sibuk, masih ada lingkungan masyarakat. Dalam Islam, orang mengenal kalimat, “belajar sejak buaian hingga liang lahat”. Kendala belajar boleh bermacam-macam, tetapi semangat belajar tetap tidak boleh luntur karenanya. Tidak perlu buang-buang waktu untuk mengeluh atas sarana dan prasarana yang serba kurang. Namun, lebih baik memanfaatkan waktu untuk mencari cara agar tetap belajar dan memperbaiki diri.
Lahir di Bantul, 22 tahun yang lalu. Menyelesaikan studi sebagai santri di Pondok Pesantren An Nur Bantul sejak 2009 hingga sekarang. Kuliah di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta. Beberapa tulisan pernah dimuat di media, seperti: bangkitmedia.com, SantriNews.com, rahmad.id dan pernah juga menulis berita di Koran Kedaulatan Rakyat. Sekarang, ia tergabung dalam komunitas online Rumah Membaca Indonesia (RMI) dan komunitas-komunitas online baca-tulis lainnya. Dan tinggal di Pondok Pesantren An Nur.
