f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Tasbih

Hati yang Berkurban

Karini menatap kalender. Jarinya menunjuk dan menghitung. Sepekan lagi hari raya Iduladha. Hatinya yang hangat memandunya masuk ke kamarnya yang sempit. Tangannya meraih sesuatu di kolong tempat tidur tuanya. Sebuah kaleng biskuit persegi berwarna merah.

Setelah dibuka, menyembullah tumpukan uang kertas beragam pecahan. Hati-hati dikeluarkan dan dihitungnya satu persatu. Semuanya ada tiga juta lima ratus ribu rupiah. Karini tersenyum. Ah, akhirnya, ia dapat mewujudkan niatnya. Membeli kambing kurban.

Karini bukan orang mampu yang dapat berkurban setiap Iduladha. Seumur hidupnya, belum pernah dia beribadah kurban. Justru ia dan keluarganya selalu menjadi target golongan keluarga miskin yang berhak menerima daging kurban.

Namun, Karini sangat ingin bisa beribadah kurban. Apalagi setelah mendengarkan ceramah Ustaz kampung yang menjelaskan tentang istimewanya pahala berkurban. Dua tahun lalu, kuatnya niat itu menggetarkan keresahan yang menghantuinya. Karini pun menyampaikan keinginannya kepada suaminya, Sobarudin.

“Kurban?… Jiaahhh, duit darimana?! Buat makan sama bayar kontrakan aja susah,” begitu respon Sobarudin. Ketus terdengar.

Suami Karini hanya pengemudi ojek yang penghasilannya tak tentu. Untuk memenuhi biaya sehari-hari, kontrakan rumah, dan kebutuhan sekolah tiga anak laki-lakinya saja terkadang kurang.

“Kamu ga usah mikir yang macam-macam. Sudah untunglah kita sehari-hari bisa makan, anak bisa sekolah. Kalau mau makan daging kurban, tiap lebaran haji kita juga dapat daging dari masjid,” Sobarudin berusaha meredam cita-cita isterinya.

Karini terdiam mendapat tuduhan seolah tidak bersyukur dengan keadaan rumah tangganya. Ia kecewa suaminya tidak memahami hasratnya melaksanakan ibadah yang tidak biasa baginya walaupun bersifat sunnah. Karini hanya ingin meningkatkan keimanannya di luar kewajiban yang telah biasa dilakukannya.

“Kurban itu kalau kita mampu,” kata Sobarudin lagi. “Sekarang, kamu kurban perasaan aja dulu ya,” Sobarudin tertawa. Entah bermaksud menghibur atau malah mengejek isterinya.

*

Karini tidak merespon. Ia terluka akibat kata-kata terakhir suaminya. Kalau berbicara tentang mengurbankan perasaan, ia telah melakukan hal itu selama tujuh belas tahun pernikahannya. Ia sudah banyak mengalah dan memendam berbagai keinginannya sebagai perempuan demi megutamakan kebutuhan suami dan anak-anaknya.

Sobarudin sebenarnya kepala keluarga yang bertanggung jawab. Tapi sayangnya dia tidak berambisi tinggi memberikan kebahagiaan lebih kepada istri dan anak-anaknya. Asalkan keperluan normatifnya sudah terpenuhi, cukuplah baginya. Sementara Karini justeru sebaliknya. Dia sesungguhnya memiliki banyak angan-angan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, seluruhnya harus dihapus dari benaknya, karena ketika Karini menyampaikan impiannya, ia dianggap tidak mensyukuri rezeki suaminya.

Seperti harapannya untuk bisa berkurban. Namun, kali ini ia berjanji tidak akan menguburkan mimpinya tersebut.

Baca Juga  Semerbak Harum Jalinan Keluarga yang Utuh dan Harmonis

Sebulan kemudian, Karini menemukan jalan mewujudkan mimpinya. Ia ditawari bekerja menjadi asisten rumah tangga Bu Sophie, penghuni komplek perumahan, yang terletak di sebelah kampungnya. Bu Sophie membutuhkan tenaga harian. Karini harus sudah datang jam 7.30 dan boleh pulang jam 5. Karini langsung menyambut gembira tawaran itu. Yang ada di pikirannya adalah, ia bisa menabung untuk membeli kambing kurban.

Awalnya, Sobarudin keberatan dengan niat Karini bekerja. Namun, dengan alasan untuk membantu perekonomian keluarga, Sobarudin mengijinkannya bekerja, dengan perjanjian Karini tidak menelantarkan pekerjaan rumah tangganya sendiri.

Ketika menerima gaji pertamanya, Karini langsung menyimpan sebagian uangnya ke dalam kaleng biskuit kosong yang bertuliskan tabungan kurban, dan menyembunyikannya di kolong tempat tidurnya.

***

Dua hari sebelum lebaran. Karini meminta suaminya menemaninya membeli kambing. Sobarudin tidak berkomentar setelah mengetahui bagaimana isterinya mengumpulkan uang, walaupun ia sempat tertegun mendengar jumlahnya. Sejujurnya ia jarang sekali memegang uang sebanyak itu.

Mereka pun berjanji. Hari ini, Sobarudin akan mengojek sampai menjelang Zuhur. Kemudian menjemput Karini di rumah Bu Sophie setelah sholat. Karini pun sudah meminta izin majikannya untuk bekerja setengah hari saja.

Sepanjang pagi, senyum Karini tak henti mengembang tersulut gairah akibat impiannya akan segera terwujud. Berkurban di hari raya Iduladha. Bahagianya terasa luas tak berbatas. Syukur Alhamdulillah berkali-kali meluncur pelan dari bibirnya.

Jam 12.30, Karini sudah siap menunggu Sobarudin datang. Bu Sophie meledeknya karena raut mukanya tampak berbunga-bunga seperti anak gadis menunggu pacar mau datang. Karini tertawa malu. Sesungguhnya ia sedang menahan gugup.

Sejam kemudian, Sobarudin belum juga tiba. Rasa gugup Karini mulai berubah jadi kesal. Rekahan senyumnya mulai memudar. Tanda tanya tak berjawab memenuhi hatinya.

Tepat pukul 14.00, suaminya tak juga muncul. Karini menjadi gelisah. Terlebih saat Bu Sophie mencoba membantu dengan menelefonnya, nomor ponsel Sobarudin tidak aktif.

“Mungkin dia mendapat penumpang yang jauh, jadi terlambat menjemputmu. Atau baterai hapenya habis” kata Bu Sophie mencoba menenangkan. “Kamu pulang saja. Misalkan dia kesini nanti, akan kukatakan kamu menunggu di rumah.” Bu Sophie tersenyum bijak.

Karini pun bergegas pulang. Langkahnya lebar-lebar berkejaran demi sampai di rumah lebih cepat, untuk mengetahui alasan suaminya mengingkari janjinya. Kecurigaan bahwa Sobarudin sebenarnya tidak setuju ia membeli kambing kurban menguasainya. Ia masih ingat ucapan suaminya dulu yang menentang niatnya, dan mengaitkan dengan sikap suaminya yang datar saja tanpa antusias berarti tadi pagi. Dihantui prasangka begitu, Karini pun mendekap erat tas kecil berisi uang tabungan kurbannya.

Baca Juga  Mencari Bu Guru Sastri
*

Sesampainya di rumah, Karini tidak menemukan suaminya. Si bungsu dan si tengah yang sedang bermain hanya menggeleng ketika Karini bertanya keberadaan ayahnya. Ia baru hendak menyuruh anak sulungnya menghubungi ponsel ayahnya waktu tiba-tiba terdengar kegaduhan di luar rumah. Ia pun tergopoh keluar.

“Astaghfirullah!” Karini menjerit melihat Sobarudin datang dengan dipapah sesorang. Kedua telapak kakinya dibebat perban. Kening dan pipinya lecet. Sesaat Karini hanya bisa mematung menyaksikan ketiga anaknya sigap dan cekatan membawa ayahnya masuk, dan membaringkannya di atas kasur tipis di ruang tamu merangkap ruang segala macam itu. Mulut ketiganya bergantian menanyakan penyebab ayahnya pulang dengan kondisi demikian.

Sesudah meminum air hangat dan menarik nafas beberapa kali, Sobarudin pun menceritakan kejadian yang menimpanya.

Jam 11 tadi ia mendapatkan penumpang dengan tujuan cukup jauh hingga ke perbatasan kota. Supaya tidak terlambat menjemput Karini, ia pun mencari jalan pintas yang tak biasa dilaluinya dan ternyata melewati jalan sepi. Di jalan itulah tiba-tiba ia diserang oleh kelompok begal motor yang tega mendorong Sobarudin jatuh hingga tersuruk ke aspal dan memukulinya saat ia  berusaha melawan, dan setelahnya membawa kabur motornya. Ponsel nya ikut terempas dan pecah. Itulah mengapa Sobarudin tidak bisa dihubungi.

Beruntung tak lama lewat rekan pengojek yang kemudian menolong Sobarudin mengobati lukanya dan mengantar Sobarudin pulang.

Seketika, Karini merasa kejam tadi telah sempat mencurigai suaminya tidak mengijinkannya berkurban. Nyatanya, suaminya sudah berupaya memenuhi janjinya walaupun ternyata Allah berkehendak lain. Sesal menyertai pandangan Karini kepada suaminya yang tertidur malam itu.

Sobarudin terbangun di bawah  tatapan isterinya. Penyesalan di bola mata Karini diartikan sebagai kekecewaan. Ia merasa menjadi suami yang gagal membahagiakan isterinya.

*

“Kar, Maaf ya. Saya tadi siang sudah berusaha secepatnya jemput… Tapi…” Sobarudin tak mampu meneruskan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca.

Lembut Karini meraih  tangan berwarna tembaga suaminya. Dikecupnya penuh sayang.

“Tidak usahlah dipikirkan. Yang penting Mas selamat kembali ke rumah.”

“Tapi motorku ga selamat Kar. Hapeku juga. Gimana aku bisa ngojek lagi?” Sobarudin menggelengkan kepala.

Karini menunduk. Hatinya berkecamuk. Ya Allah, ujiankah ini? Atau musibah buat kami? Hati kecil Karini mendadak menjadi sempit oleh potongan-potongan situasi dan masalah yang ada. Sobarudin yang sakit, motor yang hilang, besok ia harus bekerja, Sobarudin tidak bisa bekerja, 5 hari lagi jadwal bayar kontrakan, berapa harga motor bekas, besok masak apa… dan rencana berkurban.

Baca Juga  Komunikasi Pasangan dalam Bayangan Kesetaraan Gender

Pening kepala Karini.

Besok lebaran kurban. Setelah membereskan rumah dan menyiapkan makanan untuk Sobarudin, Karini bersiap berangkat ke rumah Bu Sophie. Ya, Karini harus tetap giat berkerja apalagi kondisi Sobarudin belum memungkinkan untuk mencari nafkah lagi.

“Saya berangkat dulu Mas.” Karini berpamitan mencium tangan suaminya.

Tak biasanya, Sobarudin menggenggam jemari Karini sembari menatap wajah isterinya haru.

“Kamu kerja setengah hari aja. Nanti siang Jumadi akan menjemput dan mengantar kamu  ke pasar kambing. Masih ada waktu kalau mau berkurban.”

Ucapan Sobarudin bagai angin menjelang hujan yang menghalau panas kegalauan yang melanda hati Karini sejak kemarin malam. Tiba-tiba saja penyebab utama kegelisahan yaitu rencananya berkurban dan kondisi Sobarudin langsung menemukan pintu keluarnya. Cukup sedetik, Karini meyakinkan diri. Hatinya pun terasa lapang sudah.

“Terima kasih Mas,” ujar Karini. Senyumnya kepada suaminya mengembang sejuk.

Saat sore hari Karini kembali ke rumah. Sobarudin langsung menghadangnya.

*

“Kar, Jumari tadi siang ke sini. Katanya kamu ga jadi beli kambing? Kenapa? Besok kan lebaran kurban?”  Sobarudin bertanya tidak sabar.

Karini tidak menjawab. Ia malah masuk ke kamar dan kembali menemui suaminya bersama dompet kain cukup tebal. Diserahkannya dompet itu ke suaminya.

“Saya ga jadi beli kambing Mas,” ucap Karini tenang.

“Kenapa?” Sobarudin penasaran.

“Uangnya dipakai saja untuk uang muka cicil motor dan beli hape. Biar Mas bisa ngojek lagi kalau sudah sehat nanti.”

“Tapi ini uangmu Kar. Tabungan kamu untuk berkurban. Kalau untuk cicil beli motor, biar nanti aku cari jalan lain.” Sobarudin keberatan. “Jangan mengorbankan cita-cita kamu Kar.”

“Ga apa Mas. Saya ikhlas lahir batin. Yang penting bagi saya, Mas menghargai saya. Maafkan kalau saya kurang menghargai Mas sebagai suami. Pengorbanan Mas untuk saya lebih besar, sampai harus kena ujian seperti ini. Cita-cita beli kambing kurban Insyaallah nanti bisa di lain waktu.”

Bibir Sobarudin bergetar, tetapi tak ada kata yang meluncur. Ia meraih jemari Karini. Isterinya pun membalas dengan enggaman erat.

Azan maghrib mengumandang.

Selesai sholat. Karini membuka amplop uang yang diberikan Bu Sophie sebagai upah kerjanya minggu ini. Dicabutnya selembar, dimasukkanya ke dalam kaleng biskuit bertuliskan tabungan kurban, lalu disimpannya di kolong tempat tidurnya.

“Ya Allah, semoga tahun depan kami bisa berkurban,” doanya.

——-

Bagikan
Post a Comment