Semerbak Harum Jalinan Keluarga yang Utuh dan Harmonis
Memaknai Arti Keluarga
Kata “keluarga” menurut bahasa Arab disebut ahlun. Kata ahlun berasal dari kata ahila yang memiliki arti ramah, suka, atau senang. Dari sudut pendapat lain, kata ahlun berasal dari ahala yang artinya menikah. Atau dengan kata lain kita dapat menyebutnya bahwa keluarga merupakan rumah kesenangan dan ramah hidup dalam sebuah pernikahan.
Menurut pakar antropologi, keluarga ialah salah satu unit kesatuan sosial yang manusia miliki sebagai makhluk sosial dalam lingkup paling kecil. Hal ini berlandaskan pada kenyataan bahwa keluarga adalah satuan kerabat yang beratap sama dan didasarkan oleh adanya kerjasama ekonomi, memiliki nilai guna untuk berkembang biak, mensosialisasikan atau sekolah pertama bagi anak, melindungi yang lemah, menolong antarsesama, khususnya merawat orang tua yang sudah jompo atau anak yang masih kecil.
Keluarga hadir dalam ruang lingkup kebersamaan, buktinya adalah serangkaian adat: akad dan prosesnya. Itu artinya, keluarga adalah bukti kongkret bahwa antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri) adalah satu-kesatuan yang utuh. Keluarga identik dengan hubungan itu tadi, yang pada gilirannya keluarga akan menghasilkan keturunan: anak.
Sedangkan menurut konsep Islam, keluarga adalah satu kesatuan hubungan antara laki-laki dan perempuan melalui akad nikah menurut ajaran Islam. Dengan adanya ikatan akad pernikahan tersebut dimaksudkan anak dan keturunan yang dihasilkan menjadi sah secara hukum agama (Aunur Rahim Faqih, 2001: 70).
Firman Allah dalam Q.S. At-Tahrim ayat 6 tentang keluarga:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Ayat tersebut memperlihatkan kepada kita, bahwasanya Allah tidak main-main tatkala berbicara keluarga. Begitu pentingnya keluarga dalam mengambil peran dalam kehidupan untuk menjadi bekal kehidupan yang lebih kekal nanti. Sebagai orang yang beriman perlulah kita menjaga dan memelihara keluarga kita, yaitu dengan menjalin ukhuwah yang baik, utuh, dan harmonis.
Harumnya Keluarga Utuh Harmonis
Bertemu, bersua, dan saling berbagi kasih setiap hari, tak elok bilamana dalam lingkungan keluarga tidak memberikan afeksi antar anggota keluarga. Baik sosok Ayah, Ibu, atau annak semuanya memiliki peranan penting dalam memadu kasih hidup di keluarga. Keluarga menjadi pengaruh paling dominan dalam diri setiap orang.
Keutuhan dan keharmonisan keluarga menjadi aspek penting dalam beranjak ke lingkungan luar, baik masyarakat atau bangsa.
Berikut manfaat jalinan keluarga yang utuh dan harmonis:
- Membangun suasana keluarga yang nyaman.
Berkeluarga yang berhasil adalah keluarga yang utuh dan harmonis. Ayah, Ibu, dan Anak akan betah tinggal di rumah. Mereka akan menjadikan keluarga adalah tempat ternyaman, mereka juga akan membuat keluarga adalah rumah atau tempat pulang yang paling nyaman.
- Bahagia dan selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan.
Siapa yang nyaman dengan keluarganya mungkin sekali 90 persen dalam hidupnya akan dilakukan dengan penuh semangat. Berinteraksi dengan orang lain dengan baik dan penuh tata krama, berperilaku sesuai norma, serta selalu senang dalam menjalani aktivitasnya.
- Keluarga sebagai sekolah pertama anak, sehingga anak tumbuh siap bermasyarakat.
Bagi anak yang bersemangat dalam hidupnya, setelah mendapat kenyamanan di dalam keluarga, tidak menutup kemungkinan jika anak akan tumbuh dengan cerdas dan tanggap guna siap bermasyarakat. Bahkan, masyarakat akan mudah menerima kehadiran anak yang mendapat afeksi yang baik di sekolah pertamanya, karena yakin anak itu tumbuh optimis dan semangat dalam menjalani hidupnya.
- Anak merasakan kasih sayang dari orang tua, sehingga menambah rasa keyakinannya.
Tentu sesaat sebelum terjun bermasyarakat, anak yang sudah merasakan afeksi atau kasih sayang dari orang tuanya, akan menjadikan anak lebih percaya diri. Anak akan lebih mudah mengekspresikan siapa dirinya, bagaimana dirinya bertindak dengan baik, dan kontribusi yang maslahat akan dengan gampang disalurkan kepada masyarakat tempat anak itu tumbuh dan berkembang.
- Mengurangi fenomena perceraian, sehingga keluarga bisa turut serta membangun bangsa.
Setelah mencakup keluarga yang utuh dan harmonis, tentu fenomena perceraian akan turun drastis. Tidak hanya untuk anak, tapi ayah, ibu, yang terlingkup dalam keluarga juga akan merasakan impact yang baik pula. Mereka hidup dengan aman, nyaman, damai dalam memadu kasih, memberikan perhatian dan kasih sayang satu dan yang lain. Sudah barang tentu, hal itu akan membangun kehidupan yang maslahat; penuh memberikan kebermanfaatan, sehingga siapapun dalam keluarga akan ikut serta membangun bangsa dengan kontribusi yang luar biasa penuh dan berwarna.
Let’s make our family is full of happiness in order to make the world collorful

Rezza Fahlevi berkelahiran Pekalongan, Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta.Ketua PW IPM Jawa Tengah Bidang PIP.
