Tips untuk Pasangan yang Sulit Beradaptasi ala Pak Irud
Dalam hidup manusia diciptakan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan, baik dalam kondisi sama-sama pandai, baik, ganteng, dan cantik., baik dalam kondisi sama-sama pandai, baik, ganteng, dan cantik. Secara individu manusia mampu mengendalikan dirinya sendiri namun berbeda lagi jika kedua insan ini bersatu atau berpasangan. Tentunya banyak hal dan banyak kemungkinan yang mungkin kita tidak bisa menduganya. Ketika manusia sudah berpasangan apalagi sudah menjalin sebuah hubungan yang terikat seperti suami istri tentunya bakal ada banyak halangan dan rintangan yang harus mereka hadapi.
Bukan melulu kebahagiaan yang dirasakan akan tetapi problema dalam rumah tangga pasti akan selalu berdatangan. Baik masalah itu kecil maupun besar mereka harus menghadapinya bersama-sama. Dalam hal ini apakah kita berfikir tentang sifat, kelebihan, dan kekurangan yang dimiliki oleh pasangan? Tentunya dari awal kita harus sudah mengetahui itu dari sejak pertama berani mengikat hubungan, karena itu adalah sebagai wujud dasar pengenalan kita buat pasangan.
Hal-Hal yang Membuat Sulit Adaptasi
Dengan latar belakang sifat dan kondisi yang berbeda pastinya perlu usaha dan dorongan untuk saling beradaptasi, nah apakah kita juga berfikir terkait mungkinkah seseorang yang sudah berpasangan dan berumah tangga mempunyai kesulitan dalam beradaptasi? Kebanyakan orang memang menjawab dengan kata “iya sulit”. Faktor utama yang menyulitkan untuk beradaptasi adalah tingginya rasa ego, di sini ego terkadang bersemayam lebih tinggi dari pengetahuan. Ada beberapa faktor yang terkadang membuat sulitnya adaptasi terhadap pasangan, yang pertama adalah ego.
Pasangan yang memiliki ego tinggi tentunya akan besar kepala dan menganggap dirinya tau segalanya. tanpa mau tau pendapat bahkan pengetahuan orang lain. Berbicara tentang ego memanglah sulit untuk mengendalikan kecuali kesadaran diri muncul dalam diri masing-masing individu. Sebenarnya dalam sebuah hubungan rumah tangga alangkah baiknya saling menerima pendapat dan masukkan agar tercipta sebuah kebersamaan dalam hubungan, namun jika sebaliknya hal itu terjadi dan masih saling mementingkan diri sendiri maka kebersamaan dan keharmonisan tidak akan tumbuh dalam rumah tangga.
***
Lalu faktor kedua adalah perilaku berprasangka. Di sini biasanya terjadi di kedua pasangan yang saling berbeda pendapat dan pandangan, salah satu dari mereka bisa saja melakukan prasangka buruk dan menuduh yang tidak-tidak, seperti mengungkit masa lalu yang malah membuat permasalahan semakin rumit hingga timbul rasa canggung untuk sekedar menyapa dan sampai perpecahan dan perceraian.
Faktor yang ketiga adalah berbeda latar belakang. Setiap insan pastinya memiliki latar belakang yang berbeda baik itu menyenangkan maupun yang menyedihkan. Terlepas dari itu pasangan adalah gabungan dari manusia individu yang kemudian menyatu dan perlu pengadaptasian serta saling memahami karakternya masing-masing. Sehingga nanti aku timbul fleksibilitas yang mana bisa membuat rasa nyaman dan tenang. Semua perubahan dan tantangan harus bisa menghadapinya dengan cara yang fleksibel tanpa menimbulkan perpecahan agar tetap saling melengkapi.
Belajar dari Adaptasi Hedonik
Dalam hal beradaptasi ini ada sebutan yang bernama Adaptasi Hedonik, yang mana adaptasi ini dilakukan secara terus menerus, dalam hal yang yang menimbulkan kebahagiaan dan keasyikan terkesan monoton sehingga setiap hari tidak ada perubahan dan begitu-begitu saja. Terkadang hal ini yang sering terjadi dalam kenyataanya. Namun untuk mengatasi adaptasi hedonik yang hanya begitu-begitu aja, yang biasa-biasa aja sehingga timbul kebosanan bisa memakai langkah-langkah berikut:
- Saling memberi kejutan, coba perhatikan pasangan mana yang diberi kejutan tidak senang. Tentunya semua pasangan jika diberi kejutan akan senang dan bahagia. Dengan gaya kehidupan yang monoton bisa diselipkan kejutan-kejutan agar hubungan semakin harmonis. Pasangan yang harmonis akan bisa berjalan dengan beriringan dan saling melengkapi kekurangan yang dimiliki, dan akan saling belajar satu sama lain.
Hal ini juga berhubungan dengan Q.S Al Hujurat ayat 13 yang memiliki makna sebagai berikut “ Allah Swt telah menciptakan seorang laki-laki dan perempuan lalu menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal”. Pada dasarnya di sini seorang pasangan belum mengenal sehingga perlu adaptasi untuk mencapai tingkat berbangsa dan bersuku.
2. Ada kalanya tertib dan tidak tertib. Maksud dari kata ini adalah seorang pasangan baik laki-laki maupun perempuan boleh tertib atas larangan yang diberikan oleh pasangan, namun di sisi lain tidak tertib itu juga diperlukan oleh setiap pasangan. Di sini kita harus memahami konteks yang ada dan menyesuaikan keadaan ketika seperti apa kita harus tertib dan ketika keadaan seperti apa kita harus tidak tertib. Tidak melulu harus tertib yang nantinya malah membuat sakit pasangan.
3. Dalam Q.S Al Baqoroh ayat 187 tentang laki-laki merupakan pakaian bagi perempuan begitupun perempuan juga pakaian dari laki-laki. Dalam hal ini sifat saling memahami dan melengkapi sangat dianjurkan tanpa menyudutkan satu pihak. Saling menutupi kesalahan dan aib satu sama lain adalah tugas dari seorang pasangan.
Kunci Beradaptasi dengan Pasangan
Dikutip dari sebuah ceramah Ust. Dr. H. Khoirudin Bashori, M.Si, bahwa pasangan yang sulit beradaptasi perlu bimbingan dan kesadaran diri untuk bisa berkomunikasi, rasa canggung dan takut pasti ada. Apalagi jika pernah melakukan hal yang kurang baik sehingga membuat komunikasi antar pasangan semakin jauh. Kita bisa menumbuhkan sikap adaptasi yang baik dengan beberapa cara yaitu, kedua pasangan harus menumbuhkan pengalaman baru dan emosi positif.
Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan sehari-hari lebih ke hal yang positif, lalu diusahakan jangan cepat membuat kesimpulan yang tidak sesuai dengan fakta, karena nanti hasilnya bisa fatal. Yang kedua dengan cara variasi dan kejutan. Di sini disarankan kegiatan tidak dilakukan secara monoton. Antara pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan sehari-hari harus bisa bejalan beriringan agar waktu untuk komunikasi buat pasangan juga ada.
Selain berada dalam pekerjaan dan kegiatan di rumah di sini juga perlu diberikan kejutan-kejutan sebagai tanda apresiasi. Dimulai dengan hal kecil seperti habis membuatkan kopi atau teh, disini bisa diberi sekedar ucapan terima kasih sebagai bentuk perhatian. Apalagi dengan pencapaian yang lebih besar mungkin bisa diajak keluar atau jalan-jaan. Selain memberikan hal-hal yang bersifat surprise kedua pasangan juga harus menghindari hal-hal yang nantinya malah membuat efek negative.
Rumah Tangga Sehat Ala Rasulullah
Seperti kebiasaan saling menyalahkan, di sini memang terjadi interaksi antar pasangan namun timbulnya adalah hal yang buruk. Jadi hal tersebut harus dihindari ya, kita bisa meniru rumah tangga yang sehat ala Rasulullah yang mana ketika itu istrinya yang bernama Aisyah ketiduran sehingga membuat Nabi Muhammad Saw tidak bisa masuk rumah dan tertidur di depan rumah dengan alas sorban yang dipakainya.
Lalu ketika pagi Aisyah membuka pintu ternyata ada Rasulullah di depan rumah. Di sini Nabi Muhammad Saw tidak menyalahkan Aisyah karena tidak membukakan pintu untuknya namun Nabi Muhammad Saw malah meminta maaf karena sudah pulang terlalu malam sehingga membuat Aisyah ketiduran karena menunggu kepulangannya. “Hanya ada 1 matahari dan lainnya sebagai bulan dan bintang. Pasangan serasi pasti mampu beradaptasi dan saling melengkapi”.
Sumber : Khoiruddin Bashori IruTV

Perempuan yang lahir di Bojonegoro sekaligus mahasiswa Pendidikan Matematika UM Surabaya.
