Perempuan Marginal di Era Digital

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Menjadi penerima bantuan sosial bukan keinginan dari Ibu Ajirna, kondisi perekonomian keluarga menjadi indikator sehingga Bu Ajirna menerima bantuan pemerintah yang bersifat cash condiotional transfer atau yang lebih di kenal dengan program keluarga harapan (PKH) di kota kami.  Bu Ajirna mempunyai komponen sebagai penerima sehingga mendapatkan bantuan tersebut. Dengan mendapatkan bantuan ini, otomatis beliau telah membantu perekenomian keluarga.

Bantuan sosial yang pemerintah berikan, telah banyak membantu perempuan-perempuan Indonesia dalam menopang perekonomian keluarga. Apalagi bagi perempuan-perempuan marginal yang juga berperan sebagai kepala keluarga baik itu karena statusnya sebagai single parent  atau karena fungsi kepala keluarga tidak terlaksana dengan baik.  Perempuan marjinal ini mempunyai tantangan tersendiri untuk bertahan hidup.

Di era digital seperti saat ini, kemampuan perempuan juga diharapkan untuk dapat meningkat secara digital. Artinya perempuan era digital dituntut untuk bisa menggunakan fasilitas digital dalam mendukung dirinya bahkan keluarganya. Sudah terbukti di masa lalu, bahwa banyak perempuan-perempuan yang hebat di rumah, di sekolah, dan di ruang-ruang public. Sehingga bukan tidak mungkin perempuan-perempuan dengan keterbatasan ini dapat juga eksis di dunia digital.

***

Kesempatan berkembang yang kaum perempuan miliki hari ini, sesungguhnya tidak berbeda dengan kaum laki-laki. Hanya saja, belum semua menyadari potensi dan memanfaatkannya dengan maksimal. Banyak perempuan-perempuan seperti Bu Ajirna, di mana kehidupan menuntut mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Tidak sedikit dari mereka yang harus bekerja keras dalam artian bekerja fisik, karena hanya itu yang bisa mereka  lakukan sehingga bisa mendapatkan penghasilan.

Banyaknya hambatan bagi perempuan-perempuan marginal seperti Bu Ajirna untuk bergerak dalam dunia digital yang bergerak cepat seperti sekarang ini. Hambatan-hambatan ini menjadikan mereka lebih banyak bertahan hidup dalam posisi bergerak di tempat. Mereka baru mampu untuk berjalan di posisi tetap namun tidak bergerak maju (stagnan). Harapan tidak mundur saja merupakan sebuah keberhasilan bagi perempuan pada kelompok ini.

***

Keterbatasan ekonomi adalah faktor pertama hambatan sehingga untuk bergerak lebih cepat dan maju kadangkala hanya menjadi impian mereka. Bagi perempuan seperti ini, bertahan hidup dari hari ke hari adalah perjuangan mereka untuk keluarga. Walapun perjuangan mereka tidak tertulis dan diketahui oleh orang banyak, namun perempuan seperti ini dapat dipastikan akan berbuat yang terbaik bagi keluarganya dan ingin anak keturunan mereka tidak berada dalam situasi yang sama.

Faktor pertama tentunya mempengaruhi faktor kedua, yaitu level pendidikan dari perempuan marginal ini. Biasanya, mereka adalah orang-orang dengan keterbatasan ekonomi yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga jangkauan pengetahuan dan kesempatan akan terbatas. Pendidikan juga mempengaruhi level pemahaman dalam mencari solusi terhadap permasalahan yang mereka hadapi.

Adapun hanya satu dua perempuan yang medapatkan pendidikan yang baik walaupun dengan keterbatasan ekonomi. Biasanya perempuan-perempuan ini adalah yang mempunyai etos kerja, semangat dan mimpi besar untuk sebuah keberhasilan.

***

Keterbatasan pengetahuan akan menimbulkan kesenjangan dalam mengakses dunia digital. Hal ini ditandai dengan pemahaman bahwa dunia digital hanya sebatas hiburan semata, tanpa melihat bahwa dunia digital memberikan akses seluas-luasnya untuk meningkatkan kapasitas diri. Kemampuan menggunakan akses informasi digital berkaitan erat dengan kemampuan memiliki barang untuk mengakses   informasi tersebut.

Perkawinan di usia dini merupakan faktor ketiga hambatan seorang perempuan. Budaya menuntut seorang perempuan yang telah menikah untuk fokus pada keluarga. Terdapat pula budaya yang menutup jalan perempuan untuk mengakses kesempatan melakukan hal-hal yang dapat laki-laki laukan meskipun laki-laki tersebut telah menikah.

Perkawinan usia dini juga menjadi sebuah indikator bahwa pendidikan; ekonomi; aktualisasi diri; bukan hak perempuan dalam kehidupan ini. Dalam kasus ini, seorang perempuan seakan-akan hanya mempunyai peran sebagai istri maupun ibu, dan tidak mendapat kesempatan yang luas sebagai perempuan.

Namun demikian, bukan berarti perempuan marginal tidak dapat menggapai kesempatan di dalam dunia yang serba cepat ini. Banyaknya hambatan yang mereka hadapi dapat menjadi batu loncatan bagi mereka yang menginginkan kehidupan lebih baik.

***

Menjadi perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga seperti Bu Ajirna, banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Pertama, mereka harus mampu memberi pemahaman kepada kepala keluarga, bahwa dalam memenuhi kebutuhan harus ada kerja sama antara suami; istri; anak sehingga kebutuhan keluarga tetap tercukupi.

Pemahaman ini diperlukan sebagai peta dalam menentukan prioritas kebutuhan keluarga. Apalagi setiap keluarga tentunya memiliki prioritas kebutuhan yang harus menjadi kesepakatan bersama. Dalam memberikan pemahaman pun sangat tergantung pada bentuk komunikasi, karena akan banyak kendala yang muncul saat saat terjadi perbedaan pemahaman.

Kedua, perempuan seperti Bu Ajirna harus memiliki kemampuan mengelola keuangan yang baik. Pengetahuan tentang pengelolaan keuangan ini dapat di akses secara mudah sehingga mampu menjadi referensi agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya bahkan dapat berinvestasi untuk masa depan.

Pengetahuan ini dapat perempuan pelajari melalui diskusi-diskusi sesama kelompok mereka. Artinya, dengan berbagi pengalaman sesama mereka, dapat kemudian meniru pengalaman orang lain yang disesuaikan saat mereka terapkan pada keluarga sendiri. Diskusi yang mereka lakukan tidak harus di tempat-tempat bergengsi seperti ruang seminar. Diskusi ini sendiri dapat dilakukan saat berbelanja ataupun pada aktifitas lainnya. Mengurangi pembicaraan tentang keburukan orang lain dan mengganti topik bahasan tentunya akan lebih bermanfaat.

Jika harapannya adalah hanya melalui gadget untuk mendapatkan sebuah informasi atau pengetahuan, maka memerlukan modal besar dengan segala keterbatasan mereka sebagai perempuan marginal.

***

Mempunyai kemampuan untuk meningkatkan income merupakan tantangan perempuan yang ketiga. Dalam fase ini, perempuan perlu memiliki pemahaman yang lebih luas dan berwawasan ke depan. Artinya sebagai pengelola keuangan keluarga bersama dengan suami, perlu dan wajib memikirkan bahwa kebutuhan di masa depan lebih besar daripada saat ini.

Misalkan, bantuan yang diterima saat ini hanya kebutuhan anak yang bersekolah di tingkat dasar, namun beberapa tahun berikutnya harus menyediakan kebutuhan saat anak masuk ke jenjang perguruan tinggi. Sehingga dengan kemampuan berinvestasi yang mereka pelajari, harapannya kebutuhan mengakses pendidikan bagi anggota keluarga terpenuhi.

Tidak mudah menjadi perempuan yang harus mempunyai kemampuan di era digital ini dengan segala keterbatasan yang dimilik.  Walaupun perempuan telah di anugrahi kemampuan multitasking, namun perlu dukungan keluarga terutama suami untuk dapat melakukan banyak hal.

Perempuan adalah orang yang segala harapan kehidupan diletakkan dipundaknya. Siap tidak siap perempuan tetap harus menjadi kuat.

Bagikan:
Penulis 23 Tulisan

Risnawati Ridwan

Bekerja sebagai ASN. Suka menulis karena ingin melepaskan kepenatan dalam pikiran yang bersiliweran dan berharap tulisan bermanfaat bagi orang lain.

Leave a Comment