PHK itu Biasa Bukan Aib
Oleh : Cecep Hasanuddin
Siapa yang sudah terkena PHK dari pekerjaan karena dampak corona? Jika sudah, selamat, saya akan menemani Anda. Saya pun sudah kena sejak seminggu lalu. Dengan kata lain, 30 April 2020 adalah hari terakhir saya bekerja. Apa perlu saya mengatakan ‘hore’ atas kejadian ini?
Hore Saya di -PHK
‘Hore’ pada diri sendiri, tentu saja boleh. Dan sah-sah saja. Siapa yang melarang? Wong saya sendiri biasa-biasa saja saat tahu perusahaan tempat saya bekerja memberitahukan saya kena PHK. Benarkah saya biasa-biasa saja? Bukankah saya punya tanggungan anak-istri?
Iya, saya biasa saja. Dan, iya saya punya anak satu, juga istri. Memang kenapa kalau saya kena PHK? Apakah lantas langit runtuh? Apakah itu aib? Ya sudah, terima saja apa adanya. Keadaannya memang begitu. Faktanya memang demikian.
Daripada saya larut dalam kesedihan dan khawatir berlebihan, misalnya bagaimana nanti anak-istri makan kalau saya kena PHK. Atau bagaimana nanti bayar kontrakan. Atau, yang juga sempat saya pikirkan, bagaimana kalau mertua tahu kalau saya, sang menantu kena PHK?
Jujur, pikiran-pikiran itu mengganggu. Sungguh membuat saya malah bersuuzon. Toh berpikir begitu tidak akan mengembalikan keadaan, bukan? Makanya, begitu saya tahu saya kena PHK karena korona ini, saya hanya bilang ‘hore’. Saya meyakinkan diri sendiri bahwa keadaan saya bakal lebih baik setelah ini. Kendati saya belum tahu bagaimana caranya.
Bagi saya, ‘hore’ adalah ekspresi syukur atau ‘hore’ itu, bisa dikatakan kata lain ‘alhamdulillah’. Prinsip saya, kejadian apa pun yang menimpa saya, baik yang mengenakkan maupun menggembirakan saya mesti menyikapinya dengan santuy. Gembira. Tak perlu cemasan.
Pikiran saya sederhana, ya cari pekerjaan lain. Atau, ya sudah buka usaha atau apalah begitu. Yang penting kompor gas bisa tetap menyala. Yang penting cicilan bisa tetap lancar dibayar. Yang penting tak murung terlalu lama, yang malah membuat hidup tak produktif. Asal mau berusaha, tentu jalan itu terbuka, bukan?
Sedari Dini Bersiap untuk Di-PHK
Saya tahu, siapa pun yang kena PHK bukanlah kabar menggembirakan bagi mereka. Ia justru menyedihkan. Terutama bagi mereka yang selama ini mengandalkan gaji bulanan sebagai kebutuhan utama sehari-hari. Mereka pasti akan merasa terpukul dengan keadaan ini. Saya berdoa semoga mereka baik-baik saja.
Lalu, bagaimana jika saya katakan ‘hore’ kepada orang-orang atau teman dekat yang kena PHK saat pandemi ini? Mungkin saja, tapi saya pilih-pilih orang. Kalau orang itu asyik dan enak diajak bercanda, tentu saya akan katakan ‘hore’, bahkan lebih sadis dari sekadar ‘hore’.
Kalau orang itu tak mudah diajak bercanda alias orangnya ‘serius’, tentu saya akan berpura-pura bersimpati dan pasti saya akan meluncurkan kata-kata klise. Misalnya,”O, gitu? Sabar, ya. Semoga kamu dapat pekerjaan yang lebih baik …” Atau ungkapan lain yang memotivasi.
Ya, begitulah. PHK yang saya alami bukanlah kehendak saya. Pun barangkali bukan kemauan perusahaan. Perusahaan melakukan ini dengan terpaksa karena sudah tak mampu lagi menggaji karyawan karena kerugian sejak covid-19 mewabah di negeri ini.
Makanya, pada saat saya menjalani Work From Home sekitar sebulan, saya kadang-kadang berpikir bahwa begini rasanya jika bekerja freelance. Saya pun menganggap WFH adalah sarana berlatih sebelum saya benar-benar ‘keluar’ dari perusahaan.
Dan itu benar-benar kejadian! Hari ini saya benar-benar istirahat dari hiruk-pikuk pekerjaan kantor. Saat ini saya hanya menikmati betapa indahnya menghirup udara kebebasan, sembari ikut kursus ini-itu berbasis online guna menambah skill dan kemampuan yang saya minati.
PHK itu Solusi atau Musibah?
Pada akhirnya semua kembali pada diri masing-masing. Kalau PHK ini adalah hal biasa, tentu kita pun tak terlalu ‘menuhankan’ perusahaan, yang selama ini telah membantu karyawan dan keluarganya untuk keberlangsungan hidup.
Bagi yang ‘menuhankan’ perusahaan, itu yang bahaya. PHK adalah petir di siang bolong, barangkali. Mereka tidak siap dengan kenyataan. Mereka bahkan berharap inginnya di perusahaan sampai pensiun. Seolah-olah tak ada lagi penghasilan selain bekerja di perusahaan.
Namun, siapa yang tahu, tiba-tiba sebelum lebaran perusahaan mem-PHK Anda? Pun siapa yang memprediksi bahwa tersebab koronalah ekonomi Indonesia, bahkan dunia morat-marit? Kejadian ini, murni di luar prediksi banyak orang.
Intinya, PHK itu, ya biasa saja. Biasa, karena terutama di masa pandemi ini, sebagian perusahaan memang mem-PHK banyak karyawan. Itu mereka lakukan bukan tanpa sebab. Tak ada asap bila tak ada api, begitulah istilahnya. Pelajari dulu sebabnya. Bila masuk akal, kenapa kita menolak?
Pun PHK juga bukan aib, juga bukan kejelekan, sehingga misalnya harus ditutup-tutupi. Ia murni bukan kehendak kita. Keadaanlah yang membuat PHK ada, saya tetap optimis dan saya tetap senang-senang saja, kok. Kalau saya biasa-biasa saja saat kena PHK, kata teman saya, kenapa Anda ikut-ikutan?
*) Cecep Hasannudin, pedagang buku online (@kutu_buka)
