f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
utang

Utang Menyebabkan Hidup Segan, Mati Tak Mau

Beberapa hari yang lalu saat saya libur kerja, saya menghabiskan waktu di rumah saja. Lagi asyiknya saya menikmati mytime, Mak Sop (bukan nama sebenarnya), seorang pedagang pasar yang  juga tetangga jauh bertamu ke rumah. Dia dari pasar berjalan kaki sampai di rumah saya. Seperti biasa, karena kami jarang bertemu, percakapan kami adalah percakapan standar antara tamu dan tuan rumah.

Di tengah-tengah percakapan, tiba-tiba Mak Sop merasa sakit perut. Katanya asam lambungnya kumat. Rasanya sangat melilit. Saya yang melihat raut mukanya seakan ikut merasakan betapa sakit yang ia rasakan. Saya jadi ikut panik dan menawarkan untuk mengantar pulang ke rumah. Tapi dia menolak. Dia akan periksa ke Dokter Afandi (yang letaknya tak jauh dari rumah saya) sendiri, begitu katanya.

***

Sebelum pulang, dia minta tolong saya untuk meminjami uang barang seratus ribu rupiah. Kemudian, saya mengambilkan uang yang dimaksud untuk keperluannya.

Belum ada sepuluh menit Mak Sop pamitan, Mak Roh yang juga pedagang pasar bertamu ke rumah. “Wah, tumben para tetangga bertamu”, begitu gumam saya. Dia saya persilahkan masuk tidak mau. Katanya hanya sebentar saja mampir. Dia tinggalkan dagangannya karena mendengar ada orang yang mengatakan Mak Sop sedang bertamu ke rumah saya. Wah, ternyata berita di pasar lebih cepat tersebar daripada berita di internet.

Dia menanyakan, apakah Mak Sop tadi bertamu untuk meminjam uang? Saya mengiyakan, karena kasihan dia sakit perutnya kumat.

Mak Roh kemudian bercerita bahwa apa yang dilakukan Mak Sop itu adalah modus. Mak Sop sudah meminjam uang banyak pada orang dan tidak mau mengambilkan dengan berbagai alasan. Padahal dia sudah menumpuk banyak hutang di ‘bank keliling’. Sementara suaminya tidak mengetahui hal ini.

Baca Juga  Sulitnya Menagih Utang

***

Saya yang meminjami Mak sop, malah Mak Roh yang tidak terima. Mak Sop sudah keterlaluan. Tega-teganya pinjam uang sama saya, katanya. Mak Roh berjanji akan menyuruh Mak Sop untuk secepatnya mengembalikan uang saya. Dia kemudian pamit kembali ke pasar. Saya hanya mengiyakan saja dan mengucapkan terima kasih.

Memang, sebagaimana candu, utang bisa memaksa seseorang untuk bertindak di luar kapasitas keuangannya dan mengundang kekacauan di masyarakat. Bagaimanapun, budaya berutang telah menjadi masif menyerang kita dengan alasan untuk mempertahankan eksistensi, lifestyle maupun ekspansi usaha.

Orang berutang memang tidak pandang bulu, entah dia pedagang, petani atau pegawai negeri tidak bisa lepas dari transaksi utang. Hal ini bukan perkara profesi, tetapi sejauh mana kemampuan seseorang mengatur manajemen finansialnya. Dan sejauh mana dia mampu menahan godaan atas segala bentuk keinginan yang berseliweran di dunia digital.

Kehidupan di era digital , orang akan lebih mudah gelap mata ketika diiming-imingi berbagai hal yang menggiurkan melalui iklan di media sosial yang mereka akses. Mereka tentu ingin memiliki segala hal dengan cara apa pun. Termasuk berutang. Yang penting keinginannya tercapai. Soal pembayaran utang, itu urusan belakangan.

***

Orang yang terlilit utang akan terus mencari pinjaman ke mana saja dengan teknik gali lubang tutup lubang. Cara tersebut bukannya membuat utang cepat lunas, tetapi akan terus menambah utang. Untuk melunasinya, orang akan mencari utang kesana-kemari dengan beragam modus. Sama saja bohong, kan? Tagihan utang bukannya berkurang, tetapi tetap ada. Atau malah bertambah apabila jumlah yang dipinjam lebih besar daripada jumlah yang seharusnya dibayar.

Harusnya mencicil hutang sedikit demi sedikit. Jika mengalami kendala dalam membayar, beri tahu kreditur agar pihaknya mau memberikan keringanan.

Baca Juga  Ambisi Kita pada Ketinggian

Membayarkan utang adalah kewajiban pada orang atau pihak yang meminjamkan uang dengan cepat atau lambat . Jika tidak segera membayar, utang akan semakin menumpuk. Apalagi bila utang sudah menjadi gaya hidup.

Selain itu, orang lain juga akan kehilangan kepercayaan. Sehingga, mereka tidak akan pernah meminjamkan uangnya lagi ketika suatu saat kita membutuhkan pinjaman. Tentu saja kita sendiri yang rugi.

Tetapi, bagi orang yang menganggap bahwa berutang tidak lagi menjadi beban, bahkan menjadi gaya hidup. Maka yang terjadi adalah setiap bangun tidur, sebuah pertanyaan untuk diri sendiri adalah hari ini saya akan meminjam uang pada siapa, ya?

***

Apabila sudah tidak ada lagi orang yang bisa meminjami, maka dia akan sangat mudah tergoda dengan iming-iming pinjaman online. Ya, Perkembangan teknologi digital yang sudah menguasai otak kita setiap hari, terbukti mampu mempermudah seluruh aktivitas masyarakat. Mulai dari komunikasi, interaksi, berbelanja kebutuhan sehari-hari, hingga melakukan hal-hal yang berhubungan dengan finansial dengan menggunakan layanan pinjaman online melalui penyedia dana dari perusahaan fintech.

Kehadiran pinjaman online saat ini sangat mudah mencaplok orang yang sedang mengalami permasalahan finansial. Tidak perlu sibuk untuk meminjam uang kepada teman dekat, bank, koperasi simpan pinjam atau dengan cara menggadaikan barang. Namun, dapat dilakukan hanya dengan duduk manis di depan komputer atau dengan menggunakan smartphone, maka permasalahan finansial dapat teratasi.

Pinjaman online prosesnya mudah dan cepat. Pengajuannya juga tidak memiliki persyaratan yang rumit. Yang diminta hanya berupa data-data pribadi dan nomor rekening.

Namun kemudahan yang diberikan melalui pinjaman online, masyarakat tentunya tetap harus ekstra hati-hati. Jika tidak berhati-hati, tentu akan terjebak pada pinjaman yang nantinya akan berakhir pada kerugian yang lebih besar. Lebih-lebih pinjaman online ilegal.

Baca Juga  Kebebasan Pergaulan yang Merenggut Masa Depan

***

Orang yang membutuhkan uang, tentu tidak pernah berpikir jernih. Yang penting bisa mendapatkan utang. Hal ini sama saja dengan bunuh diri. Ketika dia tidak mampu membayar sesuai dengan tenggat waktu yang tentukan, maka utangnya akan berlipat ganda. Dia akan terus mendapatkan penagihan yang tidak beretika, seperti teror dan intimidasi sampai mati.

Toh, ternyata masyarakat Indonesia begitu banyak yang terjebak dengan pinjaman online ini.  Susahnya minta ampun untuk keluar dari perangkap pihak peminjam. Serasa darahnya terus dihisap sampai tetes terakhir. Nyatanya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak tahun 2019 saja menerima aduan sejumlah 19.711 .

Sudah banyak korban akibat terlilit utang pinjaman online. Sejak 2019 sedikitnya ada 9 kasus bunuh diri akibat berurusan dengan pinjaman ilegal. Kasus ini terjadi di banyak daerah dengan latar belakang korban yang beragam. Meski demikian, alasannya sama. Mereka tak lagi kuat menahan beban teror dari pinjaman ilegal.

Khawatirnya, akan ada pepatah baru di negeri ini, ”Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan hutang.” Ngeri…

Editor: Akbar Mawlana

Bagikan
Post a Comment