Lingkungan Mengajar, Anak-Anak Memutuskan
Ada dua siswa SMA berdialog terkait cita-citanya, sebut saja Illiyyin dan Mukhlis. Si Illiyyin ingin jadi pengusaha, sementara si Mukhlis bukanya mendukung justru menggembosi.
“Susah lho dadi pengusaha,” kata Mukhlis.
“Pokoknya aku ingin jadi pengusaha, titik,” tegas Illiyyin.
Si Illiyyin begitu kuat keinginannya untuk jadi pengusaha sehingga tidak terpengaruh oleh hasutan Mukhlis, sementara Mukhlis mempunyai mindset bahwa menjadi pengusaha itu susah. Entah anasir kehidupan di lingkungan yang mana yang telah mengajarnya.
***
Pola pikir anak akan berkembang seiring dengan bertambahnya usia dan meningkatnya informasi yang mereka terima. Dalam hal ini, lingkungan mempunyai peran yang penting. Mereka akan banyak mendapat “input” dari lingkungan di mana mereka tengah tumbuh berkembang. Dengan panca indranya mereka membaca dan mengenali berbagai hal (bacaan) yang ada dari lingkungan.
Ini merupakan pintu awal berbagai data masuk pada diri anak-anak. Lebih lanjut data-data yang masuk tersebut akan digodok oleh pikiran (pikir), kemauan (sir) dan daya ciptanya (cipto) yang dapat membentuk pola pikir dan perilakunya. Jadi apa yang mempengaruhi perkembangan pola pikir anak adalah faktor ekternal (lingkungan) dan faktor internal (diri pribadi).
Adalah tugas orang tua untuk memilihkan lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan fisik dan psikis anak-anak, terlebih lagi di era globalisasi yang seakan tidak ada sekat lagi.
Digenggamannya berbagai informasi dapat diakses. Teman bermain juga perlu mendapat perhatian, anak-anak sering begitu terbuka dengan teman karibnya. Mereka bisa berkomunikasi dua arah, saling berbagi dan saling mempengaruhi, tidak saja pengaruh yang positif tetapi bisa juga negatif.
Terkait berteman, Ibrahim Al Fiqi menganjurkan, “Jauhi orang-orang yang mencoba meremehkan ambisi Anda, sementara orang-orang hebat membuat Anda merasa bahwa Anda bisa menjadi salah satu dari mereka”
Secara umum anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan keluarga, teman-teman bermain, sekolah dan lebih luas lagi lingkungan dunia maya. Lingkungan tersebut sedikit-banyak akan mempengaruhi pola pikir dan berdampak pula terhadap pilihan cita-citanya.
Manakah lingkungan yang lebih dominan berpengaruh pada pola pikir? Lingkungan yang paling berkesan mendalam sampai masuk ke alam bawah sadar, akan dominan berpengaruh pada pola pikir.
***
Terkait pilihan bidang minat sekolah, ada suatu kejadian yang membuat saya tertantang dengan ilmu kimia. Saat masih SD, saya dapati ada mas-mas SMA kesulitan akan pelajaran kimia.
Saya tanya,”demitan (sulit) mana kimia atau matematika?”
“Demitan kimia,” jawab mas-mas SMA.
Kejadian ini hanya sesaat (secara kuantitas) tetapi begitu membekas (secara kualitas) pada diri saya hingga membuat penasaran pada pelajaran kimia. Sejak saat itu, saya berhasrat pada pelajaran kimia, yang akhirnya mendorong untuk masuk SMA hingga kuliah di jurusan kimia.
Di masyarakat kita sering terlihat berbagai dinasti; dinasti politik, dinasti pengusaha, dinasti dokter, dinasti guru dan dinasti yang lainnya. Ada dinasti yang kian popular dan menguat, ada juga yang mulai pudar dan melemah.
Jika generasi penerusnya menikmati kegiatan pendahulunya, maka mereka cederung tertarik meneruskan bahkan mengembangkannya. Sebaliknya jika mereka merasa tersiksa atas kegiatan dari existing dinasti, maka mereka akan mencari suasana baru di dinasti yang berbeda atau membuat dinasti baru.
Secara umum, mereka akan cenderung seperti atau bahkan anti pati dari lingkungan (dinasti) di mana mereka tumbuh. Perihal ini bisa tergantung pada bacaan apa yang tersaji di lingkungan dan bagaimana mereka merespon atau mensuasanai.
Dinasti politik kekuasaan di Indonesia sering berlangsung turun-menurun. Ini terjadi mulai tingkat pedesaan hingga pemerintahan pusat. Di pedesaan misalnya, dikenal “keluarga lurah” di mana kakek moyangnya adalah lurah.
Di tingkat pemerintahan yang lebih tinggi ada; Soekarno – Megawati, Soeharto – Tommy Soeharto, Susilo Bambang Yudoyono – Agus Harimurti Yudoyono, Joko Widodo – Gibran Rakabuming Raka dan seterusnya. Semoga mereka itu meruskan dinastinya karena benar-benar bahagia dan menikmati jalan perjuangan yang diambil oleh pendahulunya, jangan sampai karena terpaksa mengejar cita-cita pendahulunya.
***
Dinasti Sampoerna, perusahaan rokok raksasa ini berawal dari industri rumah tangga pada tahun 1913 di Surabaya, yang dibangun oleh generasi pertamanya Liem Seeng Tee. Pada tahun 1959 Aga Sampoerna, generasi kedua melanjutkan bisnis Sampoerna. Generasi ketiga Putra Sampoerna mengambil alih kepemimpinan pada tahun 1978. Pada 15 Agustus 1990, perseroan mencatatkan saham di pasar modal Indonesia.
Kemudian pada 2001, Michael Sampoerna didapuk menjadi pemimpin Sampoerna yang merupakan generasi keempat. Pada 2005, perusahaan rokok Philips Morris International Inc. mengakuisisi sekitar 40 persen saham HM Sampoerna, Tbk. Kemudian Philip Morris Indonesia menambah kepemilikan saham di PT HM Sampoerna, Tbk. menjadi 97 persen pada Mei 2005. Hingga saat ini alasan keluarga Sampoerna melakukan penjualan tersebut tidak diketahui dengan jelas, berakhirlah dinasti rokoknya berpindah kepemilikan.
Suatu Ketika datang teman SMA bermain ke kantor, dari ngobrol dia mau resign dari pekerjaan lamanya, sebagai karyawan pabrik yang sudah dijalani puluhan tahun. Yang membuat saya kaget, sudah diputuskan untuk keluar tetapi belum ada plan A, B dan C untuk pekerjaan selanjutnya. Dari diskusi singkat dia inginnya wiraswasta, sudah jenuh kerja ikut orang di pabrik. Akhirnya saya bantu membuat pilihan plan A, B dan C.
- Plan A ingin buka rumah makan karena istrinya pandai memasak.
- Plan B, membuka laundry. Ada teman usaha laundry sukses siap membantu.
- Plan C, kembali lagi kerja di pabrik.
Selanjutnya dia membicarakan dengan istrinya terkait plan A, B, C tersebut. Istrinya menolak plan A dan menyetujui plan B, dengan alasan jualan makanan beresiko. Setelah saya telusuri ternyata mertuanya punya rumah makan dan si istri sepertinya tidak happy melihat kegiatan orang tuanya. Demikianlah lingkungan akan berpengaruh pada pemikiran dan kenyakinan orang-orang di sekitarnya.
***
Satu kisah yang sangat popular antara Nabi Musa AS dan Musa Samiri. Dua Musa bayi hidup di lingkungan yang berbeda, Musa AS hidup di lingkungan kerajaan Fir’aun yang mengaku Tuhan dan Samiri ditinggal sendirian di gua dengan malaikat Jibril AS sebagai pemeliharanya.
Setelah dewasa Musa AS menjadi seorang Utusan Allah yang diperintahkan untuk mengajak Fir’aun ke agama Tauhid. Sementara Samiri menjadi bagian dari pengikut Nabi Musa AS yang berhasil selamat dari kejaran Fir’aun, yang pada akhirnya justru menyesatkan Bani Israil untuk menyembah patung emas anak sapi.
Dari berbagai kisah tersebut di atas, bagaimana lingkungan memberikan pelajaran pada umat manusia dari masa kanak-kanak hingga masa tua. Sehingga, tidak ada hukum yang berlaku mutlak, jika sudah berikhtiar memberikan lingkungan kehidupan yang baik, pasti melahirkan anak-anak dengan pola pikir yang baik. Tugas orang tua berikhtiar memberikan suasana dan lingkungan kehidupan yang baik agar bedampak baik, selebihnya berserah diri kepada yang Maha Kuasa.
Wallahu a’lam bishawab
Pengusaha
