f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ditinggalkan

Ketika Cinta Berujung Ditinggalkan, Balaslah!

Pernahkah merasa ditinggalkan, diabaikan, dan saat butuh sandaran semua orang tiba-tiba menghilang? Kau mungkin merasa dunia sedang tidak adil dan semesta tidak berpihak untuk kebahagiaanmu. Kau seorang diri menderita, sementara dunia tetap baik-baik saja. Hei, tenang! Engkau tidak sendirian. Ada aku yang setia menjadi teman ceritamu.

“Menikah itu seru, lho! Banyak senengnya.” Kalimat yang sering diucapkan pengantin baru kepadaku. Sebenarnya bukan hanya oleh pengantin baru, tetapi pengantin yang sudah puluhan tahun membina rumah tangga pun menyampaikan nasehat serupa. Menurutmu apa aku percaya? Tentu saja percaya. Jika tidak banyak serunya, menikah tidak akan menjadi sunnah yang berlimpah pahala. Betul apa betul?

Hanya saja, untuk sampai pada titik bernama pernikahan memerlukan proses yang tidak sebentar. Salah satu syarat pernikahan adalah harus ada kedua calon pengantin. Lelaki dan perempuan yang akan menyatu usahasakan sudah saling mengenal. Masa iya, mau duduk bersama di kursi pelaminan, tetapi tidak kenal, lucu.

***

Berbicara tentang pilihan, sering kali diri harus berdebat dengan hati. Logika menerima tetapi hati menolak atau sebaliknya. Mungkin beberapa peristiwa ini ada yang serupa dengan kisahmu. Mungkin juga engkau akan lanjut membacanya untuk menertawakan diri bahwa ternyata banyak yang lebih pahit dari kisahmu.

Perkara menentukan pilihan, jatuh cinta, kemudian ditinggalkan adalah satu paket dengan kecewa dan luka. Maka izinkan aku menyajikan sedikit cerita ini, semoga mampu menjadi penawar luka yang meradang di hati.

Kisah pertama, ketika hati memilih sahabat sendiri, tetapi garis takdir tidak merestui. Sudah merasa cocok dan tahu karakter masing-masing. Sering pergi bersama, makan bersama, curhat juga nyaman, dan dia selalu ada. Hatimu sudah terlanjur nyaman, hanya tinggal menunggu waktu dia datang melamar. Namun, dia justru datang memberi selembar undangan untuk pernikahannya dengan orang lain. Sebel nggak, sih?

Baca Juga  Dari Taaruf Transaksional ke Taaruf Fungsional

Sudah sedih ditinggal nikah masih saja ada teman yang bilang, “Kamu datang kan ke nikahan dia? Aku nitip, ya.”. Gimana rasanya datang ke acara pernikahan sahabat yang sangat kamu sayang? It’s okey. Ikhlaskan. Asal sahabat bahagia, aku juga bahagia. (Ketahuan hobongnya ya, hehehe)

***

Kisah kedua, diri ditinggal dia ketika sedang sayang-sayangnya. Sudah lama pacaran, sudah sering bilang sayang, setiap hari selalu berkirim pesan kemudian dia menghilang. Biasa? Ah, aku tidak percaya. Pasti rasanya dunia ini berantakan. Hatimu apakah begitu juga? Semoga tidak.

Cukup dongkol saja, ketika belum ada seminggu putus sudah lihat si dia jalan sama orang. Sudah, kalau ada yang begitu segera aja melupakannya. Yakinlah, hatimu lebih berhaga tanpa dia. Masih mau bilang pacaran itu menyenangkan?

Iya menyenangkan, tapi kalau sudah nikah, katanya. Aku juga belum ngerasain, Rahmania. Hanya saja, tidak ada salahnya kita belajar dari kisah orang lain.

Rahmania, sekarang kita lanjut kisah ketiga. Ditinggalkan ketika sedang berusaha menerima. Pahit banget, ya.. Saat sedang berusaha menerima kehadiran orang asing dengan segala kurang dan lebihnya, ternyata di saat itu juga ditinggalkan. Makanya jangan mudah jatuh cinta pada langkah pertama. Kisah ini tentang perjalanan taaruf yang tidak berujung khitbah.

Sudah paham bukan jika proses taaruf ini tidak sekali jadi? Misal nih, sudah dikenalin dengan seseorang dan ternyata hati kamu merasa cocok, keluarga juga sudah merestui, tetapi di salah satu kesempatan dia mundur. Memutuskan untuk tidak lanjut taaruf. Bagaimana perasaanmu?

Sedih banget, ditinggalin dia yang baik hati. Hey, jangan berprasangka buruk dulu. Belum tentu dia jahat. Dia hanya memandang dunia lebih luas dan paham kau akan mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya. Maka bukalah pintu maaf, lapangkan hatimu, dan bersyukurlah. Dunia sedang tidak menertawakanmu.

Baca Juga  Refleksi Konsep Kufu’ dalam Pernikahan

Apakah hatimu masih bersedih? Coba tarik nafas, tahan, dan kemudian hembuskan perlahan. Ulangi sampai tiga kali kemudian baca istighfar.

****

Kisah keempat, sekaligus kisah penutup perihal kehilangan sebelum pernikahan. Ditinggalkan dia ketika berjuang pada komitmen. Prosesi lamaran sudah dilakukan, tahun pelaksanaan pernikahan juga sudah dipilih, biaya pernikahan telah disiapkan. Hanya tinggal menunggu kesepakatan hari di mana calon pengantin akan melangsungkan akad nikah. Namun, sekuat apapun hati diikat, jika catatan langit tidak mempertemukan untuk berjodoh, maka tidak akan pernah bersatu.

Sesungguhnya, Allah yang membolak-balikkan hati. Jangan bersedih dan tetaplah tabah. Sudah saatnya engkau bangkit dari segala luka yang terlampau dalam. Engkau tidak sendiri, maka jangan mencoba mengakhiri hidup dengan menebas nadi.

Sini, bangkit bersama dan menata hari. Relakan dia yang telah pergi dan meninggalkan duri di hati. Tidak masalah engkau membersihkan ladang hatimu seorang diri, itu lebih baik daripada terus menangis dan duri semakin menusuk hati. Let’s move on!

“Engaku tidak harus berdiam diri setelah disakiti.” Kalimat ini ajaib bagiku. Pernah seorang teman menyampaikan , bahwa aku tidak boleh terlalu baik dengan membiarkan orang-orang tertawa setelah meninggalkan luka. Memaafkan memang harus, tetapi ‘balas dendam’ tetap dilaksanakan. Buat dia menyesal karena pernah meninggalkanmu. Beri dia pelajaran agar lebih menghargai perasaan orang-orang yang mencintainya. Sejak saat itu aku selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Jika engkau tidak tahu harus memulainya dari mana, mulailah dari niat dan menghargai diri sendiri. Mulailah berprestasi dalam bidang yang kau jalani. Ingatlah bahwa prestasi tidak selalu berbentuk profil. Prestasi tidak selalu terbukti dengan dengan medali. Capaian-capaian yang engkau peroleh selalu lebih baik dari capaian sebelumnya, itulah prestasi.

Baca Juga  Beda Visi dan Misi Berujung Perceraian, Banyak Terjadi!
***

Beberapa hari lalu aku membaca status whatsapp seorang dokter yang juga dosen. Sebuah kutipan sederhana yang membuatku berinisiatif untuk menuliskan kisah-kisah ini. “Ketika si dia meninggalkanmu, bermutasilah menjadi cantik, semakin baik dan berprestasi.”

Selamat mencintai diri sendiri dan pikat mereka dengan engkau menjadi pribadi yang lebih baik berhias bintang-bintang prestasi. Tetaplah bahagia, setidaknya belajarlah dari virus corona yang terus bermutasi menjadi lebih kuat ketikan mendapat perlawanan dahsyat dari manusia.

Bagikan
Comments
  • Evi

    Teruslah berprasangka baik pada dirimu dan tentunya pada Penciptamu. Karena semua yang terjadi Atas Izin Allah

    Desember 29, 2020
  • Nice story…

    Desember 29, 2020
  • Yudha Kusumawati

    MashaAllah keren mbak umi..suka…..

    Desember 29, 2020
  • Siap kak. Makasih selalu mengingatkan

    Desember 29, 2020
Post a Comment