Tren Mode Cepat yang Merusak Lingkungan
Pertumbuhan masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain menambah kepadatan penduduk di area perkotaan, juga menambah jumlah sampah yang ada di Indonesia. Dikutip dari disasterchannel.co Indonesia merupakan negara dengan peringkat kedua penghasil sampah terbanyak di dunia. Meningkatnya jumlah sampah ini sangat memprihatinkan mengingat ketersediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terbatas. Di sisi lain, kerusakan lingkungan terus terjadi di Indonesia; salah satunya adalah habitat satwa di laut yang mulai memakan limbah-limbah sampah manusia.
Perkembangan mode di Indonesia tidak kalah cepatnya dengan perkembangan teknologi. Apalagi ada istilah yang biasa disebut fast fashion atau mode cepat, di mana perusahaan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu untuk menghasilkan ide hingga launching-nya suatu barang di pasaran. Pakaian merupakan kebutuhan primer yang digunakan untuk melindungi tubuh manusia. Namun, apakah kita perlu mengikuti setiap tren mode yang muncul? Saat ini, orang-orang lebih banyak fokus pada tren yang sedang ramai digunakan artis maupun tokoh penting daripada memperhatikan fungsi dari pakaian itu sendiri.
Dampak Mode Cepat Bagi Kehidupan
Dampak dari mengikuti perkembangan tren mode yang ada selain pola hidup konsumtif adalah menambah jumlah sampah yang ada. Apalagi pada penggunaan mode cepat yang setiap tahunnya bisa memproduksi 50-52 koleksi terbaru. Padahal desainer terkemuka dahulu hanya mengeluarkan koleksi terbaru 4 kali dalam setahun sesuai dengan iklim yang ada pada tempat tinggal mereka. Orang-orang lebih memilih untuk membeli terus-menerus baju yang produksibrand-brand ternama demi meningkatkan standar sosial yang mereka punya; tanpa memikirkan dampak apa yang timbul setelahnya.
Tergolong Murah Sehingga Diminati
Mode cepat lebih diminati konsumen karena produksinya yang tergolong murah; sebab mereka memproduksi sekaligus banyak barang-barang yang mereka keluarkan. Pilihan model yang berlimpah membuat konsumen lebih mudah memilih apa yang mereka sukai. Bukan hanya itu, perusahaan mode cepat berani membakar kelebihan produksi yang sudah tidak laku untuk dijual untuk diganti dengan model baru yang lebih terkini.
Disalin dari foto.kompas.com brand mode terkemuka di Indonesia H&M pada tahun 2017 membakar sekitar 19 ton atau setara dengan 50.000 jeans. Produk-produk perusahaan mode cepat di dunia kebanyakan membuat produknya bukan untuk digunakan dalam jangka panjang; karena mereka lebih banyak menggunakan bahan tekstil daripada mendaur ulang benang dari baju bekas seperti biasanya.
Perusahaan mode cepat biasanya menggunakan bahan poliyester yang bahan bakunya berupa minyak yang telah diekstraksi agar lebih mudah dan murah untuk dibuat. Pakaian berbahan dasar plastik dapat merusak ekosistem laut, karena jika pakaian tersebut dicuci akan melepaskan partikel mikroplastik, dan dimakan oleh ikan; lalu ikan tersebut diolah menjadi bahan makanan manusia yang berakibat tidak baik untuk kesehatan. Bahan pakaian alami seperti katun juga tidak sepenuhnya ramah lingkungan, bahan alami biasanya memakan waktu produksi yang sedikit lebih lama. Maka dari itu banyak perusahaan mode cepat yang menggunakan poliyester sebagai bahan utama pembuatan produk yang mereka hasilkan.
Pakaian Bekas Mulai Dilirik
Saat ini, banyak orang yang tertarik untuk melakukan jual beli pakaian bekas atau biasa disebut dengan thrift atau preloved. Sebelum banyak diminati masyarakat baju bekas hanya dibandrol harga 1.000-50.000 rupiah saja. Namun, saat ini banyak onlineshop yang menjual baju bekas tersebut dengan harga yang tidak masuk akal. Kita bisa menemukan akun-akun di media sosial atau e-commerce yang menjual baju bekas dengan harga tinggi. Bahkan, jika dipikir ulang harga baju bekas tersebut bisa lebih mahal daripada kita membeli baju baru di pasaran. Alih-alih menjual baju bekas untuk menghindari jumlah sampah, namun banyak pedagang yang mengambil untung setinggi-tingginya pada pakaian bekas yang mereka jual.
Untuk mengantisipasi penimbunan sampah yang semakin bertambah, khususnya dari sampah pakaian; sebaiknya pemerintah rutin memberi edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan kembali pakaian-pakaian bekas yang masih layak pakai. Karena jika dibiarkan terus menerus kegiatan konsumtif manusia akan pakaian akan merusak ekosistem alam yang ada. Membeli pakaian secukupnya juga dapat mengurangi sampah pakaian, karena jika mengikuti tren berpakaian pada umumnya secara terus-menerus akan menimbulkan pola hidup konsumtif.
Anggota Al Birru Organizer Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Yogyakarta
