f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sulit

Sukar, Sulit, Susah

Memang sulit menjawab pertanyaan yang sukar. Saya sering berada dalam situasi yang pelik, karena dipaksa untuk menjawab pertanyaan yang rumit. Paling sering terjadi adalah ketika mahasiswa bertanya secara pribadi ke nomor WA saya. ‘Pak, saya minta maaf tidak dapat mengerjakan soal di Google classroom (GCR) karena sinyal saya jelek. Bagaimana ya, Pak?” Ini salah satu pertanyaan yang biasa saya terima selama masa pandemi ini. Masalahnya, mahasiswa itu tidak memperkenalkan diri. Dari prodi mana, siapa namanya, dan kelas apa. Dalam satu hari, saya dapat mengajar tiga kelas dengan dua program studi. Belum selesai menjawab pertanyaan ini, ada lagi yang bertanya di salah satu Grup WA. “Pak, setelah Zoom meeting tadi apakah masih ada tugas lagi untuk hari ini?” Atau bertanya, apakah soal di GCR yang saya berikan dapat terjawab dalam bahasa Indonesia. Padahal saya mengajar bahasa Inggris.

Tentu saja semua pertanyaan itu tidak membuat saya bersusah hati. Saya menanggapi dengan ringan-ringan saja. Sejak awal mengajar, saya memang harus memberikan ilmu tambahan berupa etika berkomunikasi. Ada ada saja kelakuan mahasiswa yang tidak menjaga etika berkomunikasi ini. Kasus paling sering yaitu mahasiswa lama yang terpaksa bergabung di kelas semester awal, sehingga terlambat bergabung di Grup WA karena tidak mempunyai nomor kontak teman sekelas. Hal yang cukup mengesalkan adalah jika keterlambatan tersebut memasuki masa pertemuan ke 5, karena dalam aturan semestinya mahasiswa tidak boleh mengikuti ujian semester jika tidak hadir tiga kali. Kalau sudah demikian, saya menyarankan mahasiswa menghubungi Dekan atau Kaprodi saja. Saya tidak dapat menjawab pertanyaan apakah dia boleh masuk atau tidak di kelas saya. Ini termasuk pertanyaan yang sulit.

Baca Juga  Fatimah dan Ali : Inspirasi Kisah Cinta dalam Diam
***

Saya memang termasuk tenaga pendidik yang berat hati memberi nilai jelek pada anak didik. Saya bersedia dipanggil dengan panggilan “Mr. A Lee” sebagai kode bahwa saya gemar memberi nilai A. Selain inisial nama saya memang adalah A, dan selalu tertantang untuk mendapat nilai A, saya menaruh doa di dalam nilai yang saya berikan. “Saya beri nilai A sekalipun, belum tentu kalian sukses, apalagi saya beri nilai D,” begitu saya berseloroh. Lee itu kode bahwa saya adalah pengagum Bruce Lee dan Jet Lee. Saya sulit mengedipkan mata jika sudah melihat atraksi kedua tokoh silat ala Tiongkok ini. Gerakan mereka memang cukup rumit dan sulit ditiru. Saya sering gagal mencoba gerakan mereka.

Memang tidak semua orang pandai berkomunikasi melalui sosial media. Saya pernah mendapat japri orang yang baru dikenal, tanpa pengantar langsung meminta informasi lowongan kerja. Pertanyaan ini membuat runyam suasana, karena menjadikan saya susah. Saya berada dalam dilema. Pada dasarnya, saya tidak senang memberikan jawaban yang mengecewakan, namun apa daya memang permintaan itu tidak dapat saya kabulkan. Saya berbisik dalam hati, jika kita sulit mendapatkan pekerjaan, maka itu berarti kita harus menciptakannya. Kalimat inipun tak kuasa saya ucapkan kepada teman yang baru kenal tadi. Saya khawatir dia tidak dapat menerima.

***

Mungkin ini salah satu perbedaan dengan Putri Jasmine, isteri saya. Baginya, pertanyaan semacam itu dapat terjawab dengan mudah. Untuk apa merasa susah, jawab saja apa adanya, begitu katanya. Justru yang dianggap mudah itu adalah perkara sulit bagi saya. Saya menghendaki agar dalam tata kalimat sang penanya semestinya ada kalimat pengantar yang sopan dan data awal ya

Baca Juga  Belajar dari Sriti

ng jelas. Jika mau meminta pekerjaan, seyogyanya menceritakan dulu apa kompetensi dan pengalaman kerjanya. Jadi saya tidak sulit mengira-ngira kemana permintaan ini akan saya arahkan. Apa sih sulitnya menyapa dengan kalimat pengantar yang sopan dan data yang cukup? Ini akan memudahkan orang menanggapi pertanyaan kita.

Saya sudah tiga hari ini merasa ‘kurang enak badan’, terutama sejak mendapat booster vaksin ketiga hari Kamis lalu. Hari ini sebenarnya saya akan melanjutkan ‘bed rest‘ saya, namun panggilan dari Ayunda Arma, isteri Kanda Agus Sulistya Dunda, telah memberikan sedikit energi untuk bersama isteri dan anak saya berkunjung ke rumah mereka di Pondok Palagan Permai, Sleman. Kami menikmati Soto Pak Sholeh di Stadion Kridosono lalu kembali ke rumah Mas Agus. Sesuai permintaan saya, Mbak Arma menyeduh kopi Aroma yang sungguh nikmat nian. Pembicaraan kami mengalir ke seputar webinar pelatihan komunikasi branding yang saya bangun berdua dengan Puteri Jasmine. Sudah hampir lima bulan kegiatan ini berlangsung, dan alhamdulillah telah berhasil membuat komunitas grup WA. Banyak kepala sekolah, humas, dan pimpinan yayasan yang aktif bergabung. Tidak sukar menghimpun orang-orang berdedikasi tinggi seperti mereka ini, hanya memang sedikit membutuhkan waktu untuk sampai pada tingkat kohesif yang tinggi.

***

Tidak ada hal sukar untuk dilaksanakan asalkan hal itu terjangkau dalam kemampuan kita. Setiap gagasan untuk membangun hal yang besar harus sesuai dengan keterbatasan, namun keterbatasan tidak boleh menghambat gagasan besar kita. Saya selalu mengingatkan nilai penting differensiasi sebagai jalan tengah untuk membangun komunikasi branding. Keunikan tidak menuntut biaya besar, ini bukanlah hal yang sukar untuk dimengerti, meskipun barangkali sulit untuk diwujudkan.

Baca Juga  Indahnya Kehilangan dan Keikhlasan
Be inspired, but don’t copy.

Sebenarnya tidak sulit untuk mencari gagasan besar. Ini dapat dengan banyak cara, misalnya dengan mengamati atau merasakan langsung (pengalaman pribadi) atau dengan melihat dan  mendengar kisah atau karya oranglain dan berdiskusi dengan mereka.

Bagi mereka yang berjiwa terbuka, adalah mudah untuk menggali inspirasi darimana saja. Setelah mengendap dalam alam bawah sadar, mulailah menciptakan ide orisinalitas kita sendiri. Belajar dari karya orang lain terutama karya yang sudah sukses (best practice) bahkan sangat dianjurkan. Namun yang perlu kita jaga adalah semangat untuk menciptakan sesuatu yang baru dari apa yang sudah orang lain buat tersebut.

Jika kita tidak sulit untuk membuat sesuatu yang baru, maka kita mempunyai nilai differensiasi. Semakin tinggi orisinalitas karya atau ide kita, maka semakin tinggi pula nilai differensiasi yang kita miliki.

Di era kompetisi global di mana karya-karya hebat dan kreatif tidak sukar untuk diakses secara digital, kesempatan untuk belajar itu semakin terbuka lebar, dan sekaligus mempersempit  kemampuan differensiasi perusahaan, lembaga dan individu.

Maka mempertegas keunikan produk,karya dan ide kita adalah strategi utama dalam branding. Tanpa melakukan differensiasi, akan sulit untuk menciptakan branding itu. Berusahalah terus membuat differensiasi agar nilai branding anda semakin bernilai tinggi. Dan jika nilai branding anda tinggi, maka reputasi dan kepercayaan publik tidak akan sulit untuk diraih.

Bagikan
Comments
  • Dody Lazuardi

    Harus belajar care berkomunikasi yang baik nih agar lawan bicara dapet dengan mudah mengerti apa Kita sampaikan.
    Dan belajar juga cara menulis agar memindahkan isi kepala atau buah Pikiran bisa runut dan mudah dimengerti. Sukses Bro.

    November 28, 2021
Post a Comment