f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pahlawan walidah fatmawati

Siti Walidah dan Fatmawati : Pahlawan Perempuan dari Muhammadiyah

Hari pahlawan pada 10 November selalu menjadi momentum untuk mengenang kembali jasa para pahlawan. Saat ini, laki-laki masih mendominasi kisah kepahlawanan. Gambaran pahlawan adalah laki-laki yang gagah berani, menggunakan senjata, melawan penjajah, untuk merebut kemerdekaan. Sebenarnya kisah para pahlawan perempuan juga sudah mulai banyak, namun kisah tersebut masih kurang. Baik secara jumlah maupun variasi. Sampai 2020 ini, ada 191 orang yang menjadi pahlawan nasional Indonesia, namun hanya 17 di antaranya yang perempuan atau 9 persen.

Muhammadiyah sebagai organisasi yang usianya lebih tua dari Republik Indonesia tentu memiliki sumbangsih terhadap perjalanan bangsa ini. Kader-kader Muhammadiyah banyak yang mewakafkan hidupnya demi tercapainya kemerdekaan Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan. Ada dua pahlawan perempuan nasional yang merupakan kader Muhammadiyah, yaitu Siti Walidah dan Fatmawati

Siti Walidah

Siti Walidah atau lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan adalah anak dari pasangan H. Muhammad Fadlil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahimm dan Nyai Mas. Lahir di Yogyakarta pada 1872. Siti Wakidah menjalani masa kecilnya untuk belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab agama berbahasa Arab-Jawa. Walidah memang pandai mengaji sejak kecil berkat ajaran langsung ayahnya, seorang ulama terpandang di kampungnya.

Walidah tidak memiliki kesempatan menempuh pendidikan formal, karena masyarakat memandang sekolah milik Belanda itu haram. Segala hal produksi barat adalah haram, termasuk sekolah-sekolah Belanda. Palagi pada saat itu paham untuk meminggirkan perempuan masih sangat dominan. Masyarakat sekitar Kauman Yogyakarta menganggap bahwa mengenyam pendidikan formal telah melanggar adat pada masa itu.

Meski tak bisa sekolah, Siti Walidah tak pernah berkecil hati. Ia terbiasa menyibukkan diri di rumah dengan mengaji atau membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Rumah merupakan madrasah kecil bagi Siti Walidah. Walidah juga tak pernah kekurangan teman karena ia pandai bergaul. Setiap hari rumahnya selalu ramai anak-anak yang ingin belajar mengaji kepada ayahnya. Anak-anak perempuan mengikuti pengajian dengan duduk di lantai di dalam rumah. Sementara anak laki-laki duduk di muka rumah.

Baca Juga  Setiap Suami-Istri Perlu ‘Kencan’
Walidah, Sopo Tresno, ‘Aisyiyah

Pada tahun 1889 Walidah menikah dengan Ahmad Dahlan dan dari pernikahan itu mereka memiliki enam anak. Walidah mulai mendampinginya membuka Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah di Kampung Kauman. Dalam waktu enam bulan, madrasah ini berkembang pesat dan memiliki murid sebanyak 62 orang. Namun, Walidah merasa sedih saat melihat kondisi para buruh batik perempuan di Kampung Kauman.

Sebagian besar dari mereka tidak memiliki pengetahuan agama dan tidak bisa membaca. Walidahpun ingin membina mereka. Di sore hari Siti Walidah mengumpulkan para perempuan buruh batik di rumahnya. Ia mengajari mereka mengaji dan membaca. Tak hanya buruh batik yang turut bergabung menyimak pelajaran dari Walidah, para ibu-ibu pembantu rumah tangga dan istri juragan juga mendapatkab pelajaran yang sama, meski waktunya berbeda-beda.

Gerakan ini kemudian bernama Sopo Tresno. Melalui Sopo Tresno ini ia berpandangan bahwa perempuan harus terbebas dari jeratan mitos yang mengatakan bahwa perempuan tak lebih dari konco wingking (teman belakang) laki-laki. Pada 1917, atas usul Haji Fakhruddin, nama Sopo Tresno berubah menjadi ‘Aisyiyah.

Setelah KH. Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923, Walidah tetap melanjutkan perjuangannya. Dikutip dari Suara ‘Aisyiyah, Walidah beberapa kali mendatangi cabang Aisyiyah hingga luar kota. Kunjungannya ke Batur, ia lewati menggunakan kuda, walaupun usianya telah menginjak 55 tahun. Beliau tetap menjalani aktivitasnya, meski sang suami telah tiada, sampai ia mulai sering jatuh sakit pada 1939.

Pada 10 November 1971, Presiden Soeharto melalui Surat Keppres No 42/TK/1971 menetapkan Nyai Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional.

Fatmawati

Fatmawati adalah anak Hassandin, tokoh Muhammadiyah militan di Bengkulu. Ibu Fatmawati—Siti Jubaidah aktif di dalam ‘Aisyiyah guna memberikan ketrampilan atau mengajar baca tulis pada perempuan. Seperti kedua orang tuanya, Fatmawati pun berkhidmat untuk menghidupkan pergerakan Muhammadiyah. Pada 1938, Fatmawati yang terpaksa berhenti sekolah dasar tingkat 5 dan tetap giat dalam organisasi Nasyi’atul ‘Aisyiyah.

Baca Juga  Nursing Day: Rufaidah Perawat Perempuan Berdaya

Fatmawati binti Hassandin tidak hanya berjasa dalam menjahit Sang Saka, bendera Merah Putih pertama Republik Indonesia. Dia adalah seorang ibu negara yang menemani perjuangan suaminya, Soekarno Sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia.

Saat Fatmawati menginjak usia 17 tahun, Soekarno memberanikan diri melamar Fatmawati. Mendengar lamaran Soekarno, Fatmawati menjawab bahwa sebagai perempuan Muhammadiyah, Fatmawati tidak mau dipoligami. Maka pada tahun 1943 pernikahan melalui wali pun terlaksana antara Fatmawati yang berada di Bengkulu dengan Soekarno yang berada di Jakarta.

Ujian berat Fatmawati dan Soekarno justru dimulai setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia diuji secara berat di tengah-tengah peperangan hingga selesainya Agresi Militer II pada akhir tahun 1948.

Setelah kelahiran anak kelimanya, Mohammad Guruh Soekarno Putra, Fatmawati berpisah dengan Soekarno. Fatmawati setia pada janjinya bahwa perempuan Muhammadiyah tidak mau dipoligami. Setelah beercerai dengan Soekarno, Fatmawati terus berkiprah bagi pengembangan dakwah Muhammadiyah sampa akhir hayatnya. Dari pernikahan dengan Soekarno, ia dikaruniai lima anak,

Atas jasanya terhadap revolusi kemerdekaan, 4 November 2000 Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid melalui Keppres Nomor 118/TK/2000 menetapkan Fatmawati sebagai Pahlawan Nasional.

Referensi

Afandi. 2021. Fatmawati, Tokoh ‘Aisyiyah dan Pahlawan Nasional. https://muhammadiyah.or.id/fatmawati-tokoh-aisyiyah-dan-pahlawan-nasional/ diakses pada 9 November 2021

Ardanareswari, Indira. 2019. Nyai Ahmad Dahlan : Memimpin Muhammadiyah sebagai Seorang Ibu. https://tirto.id/dvs6 dikases pada 9 Novmeber 2021

Bagikan
Post a Comment