f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
aturan

Saya Sepakat Memberi Aturan Main Untuk Anak

“TV belum boleh menyala, kalau belum selesai belajar sampai waktu isya!”

Sebuah peraturan yang pernah saya jalani dengan ketat selama kurang lebih 9 tahun. Tidak pernah merasa keberatan, tapi malah memiliki dampak yang cukup signifikan—karena saya harus belajar meskipun hanya membaca lembar demi lembar kertas pelajaran yang mungkin sudah saya baca di hari sebelumnya.

Memiliki kesadaran penuh, kalau saya tidak belajar kemungkinan besar saya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik seperti teman-teman yang lain. Dengan mudah mereka memahami isi pelajaran yang Bapak atau Ibu guru sampaikan meskipun dengan metode yang membosankan itu. Berbeda dengan saya, yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami proses metamorfosis sempurna dan tidak sempurna, perbedaan tumbuh dan berkembangbiak, apa itu benda isolator dan konduktor, dan masih banyak lagi.

***

Hari ini, zaman sudah berkembang. Himpunan informasi seperti kilat, dengan cepat kita dapatkan. Manusia memiliki tuntutan untuk adaptasi, meskipun harus menghadapi jatuh bangun. Lalu, bagaimana dengan orang tua yang sedang menanamkan benih pada diri anak agar kelak menjadi anak yang santun dan pandai? Sedangkan anak-anak bisa jauh lebih tahu soal informasi yang sedang beredar.

Jika terlalu disikapi dengan keras, tidak baik. Jika terlalu disikapi dengan lembut juga tidak baik. Ah, ya yang berlebihan itu memang tidak baik.

Saya tumbuh di era yang belum gencar-gencarnya HP Android. Kalau punya HP yang ada mainan ular-ularan merupakan sebuah previlese. Oleh karenanya, ketika saya harus menjalankan aturan belajar kurang lebih 60 menit dari maghrib sampai isya, ya tidak masalah, toh itu tidak lama. Dan saya menikmati, meskipun hinggap sedikit rasa takut; kalau tidak belajar nanti kena marah.

Baca Juga  Perihal Anak di Era yang Tak Enak

Anak-anak tumbuh dari lingkungan yang melekat pada mereka. Cara orang tua mendidik, membentuk sikap, memberi pemahaman adalah hal utama yang ada dalam keluarga. Sedangkan setiap keluarga mempunyai caranya masing-masing untuk menjadikan putra putrinya seperti yang mereka harapkan. Saya tidak bisa menulis dengan detail, tujuan-tujuan merinci seperti apa yang semasing pasangan inginkan. Karena kita tumbuh dari latar keluarga yang berbeda. Cara mengaji, cara belajar, atau cara berpakaian pun bahkan berbeda.

***

Lebih dulu mendapat ancaman, mungkin tanpa punishment atau omelan saya tidak pernah mempunyai rasa takut dengan orang tua ataupun orang yang lebih tua dari saya. Ini kenapa saya setuju bahwa ancaman atau punishment itu baik untuk anak.

Hingga saya kadang berpikir, suatu hari kalau saya sudah menjadi Ibu, saya ingin mempunyai aturan yang bisa putra putri sepakati, meskipun dengan sedikit berat hati. Memang tidak ada aturan yang benar-benar enak.

Kurang lebih selama 9 tahun aturan itu saya jalankan dengan baik. Tiga tahun di SMA sampai duduk di bangku kuliah aturan itu mulai memudar. Sampai hari ini, ketika habis maghrib sudah menyalakan TV, rasa-rasanya saya menghabiskan banyak energi. Waktu saya habis percuma. Seakan saya ingin keras (lagi) dengan diri sendiri. Berdiri di atas aturan yang mungkin “kolot” itu.

Lalu, bagaimana dengan fitrah anak yang suka bermain? Yang lagi seneng-senengnya bermain di luar bersama teman-temannya dengan menghabiskan banyak waktu? Bayangkan usia mereka 8-12 tahun, bermain adalah rumah mereka untuk tertawa bahkan salah satu jembatan untuk bertumbuh.

Bayangkan, ketika mereka pulang bermain ada yang sandalnya hilang sebelah lalu takut untuk bilang ke Ibu. Bajunya kotor karena saos yang tidak sengaja tumpah, sampai di rumah menangis karena berkelahi, ada yang tidak sabar bercerita karena mendapat hadiah dari ciki atau bau keringat khas mereka—yang kelak akan kita rindukan.

Baca Juga  10 Trik Bacakan Anak Buku Tanpa Baper!
***

Untuk hal ini, saya juga tumbuh dengan sebuah peraturan. Tepatnya semua aturan terbentuk ketika saya mulai duduk di bangku SD; boleh bermain, tapi jam 15.00 WIB harus ada di rumah. Persis, ketika saya bisa bermain dengan puas di luar dan pernah pulang melebihi batas saya kena marah. Rasanya tidak enak sekali.

Bukan marah dengan suara yang keras. Tapi, lebih kepada kesadaran penuh saya bahwa segala bentuk kemarahan meskipun didiamkan alias silent treatment itu tidak enak sama sekali. Dari kecil pola pikir saya seperti ini. Ini tumbuh karena saya pernah pulang tidak tepat waktu dan mendapatkan hadiah omelan.

Siklus orang marah atau marahan saling diam, lalu baikan yang membutuhkan usaha meskipun dengan Ibu sendiri. Kalau butuh apa-apa harus ngomong sama Ibu padahal baru marahan. Bagi saya itu sangat melelahkan. Daripada harus menghadapi situasi seperti itu, saya memilih untuk pulang tepat waktu. Kebiasaan itu tumbuh. Melekat.

Kira-kira sudah menjelang pukul 15.00 WIB, saya memilih menyudahi permainan yang lagi seru-serunya. Memilih pulang lebih awal dari yang lainnya.

Sebagian besar anak pasti juga mempunyai jam malam. Hal ini sudah menjadi rahasia umum. Begitu juga dengan saya.

***

Ketika SMA kelas XI, saya ingat betul teman-teman saya mengajak untuk pergi ke Pasar Malam. Saya menjadi yang pertama di-bully, “Emang Syifa boleh keluar? Nanti dicariin lagi.” Agar saya mendapat izin, mereka saya suruh datang ke rumah dan pulangnya juga harus mengantar saya. Otomatis, omelan itu berkurang meskipun teman-teman. sudah mengantar Lucu memang.

Itu semua tumbuh sampai hari ini, 3 tahun setelah saya lulus kuliah. Saya adalah orang pertama yang disuruh pulang lebih dulu atau saya kerap dijadikan alasan pulang lebih awal ketika kumpul dengan teman-teman. “Udah jam segini (menunjuk pukul 21.00 WIB) dicariin ndak, Syif?”

Baca Juga  Sebaiknya Tak Mengglorifikasi Hantu pada Anak

Atau misalnya pulangnya molor, teman saya nego, “Pulangnya nanti aja ya, Syif, kuantar pulang wes!” “Sini, minta nomor orang rumah, tak bilang ke mereka.” Lobi melobi pun berjalan. Betapa aturan lama membentuk kebiasaan-kebiasaan sampai hari ini. Itulah mengapa aturan yang kesannya kaku itu mempunyai pengaruh yang kuat.

***

Dengan tegas saya sepakat dengan peraturan yang dibentuk orangtua; baik yang konon berlebihan sampai membuat tetangga membicarakan bagaimana keluarga tersebut mendidik ataupun segala hal yang sudah dianggap lazim.

Saya percaya, semua orangtua hanya ingin kelak putra putrinya tumbuh menjadi pribadi yang santun. Ingat; kita tumbuh dari lingkungan yang berbeda.

Bagikan
Post a Comment