f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pelakor

Relevankah Diksi Pelakor?

Agaknya ada usulan untuk menggunakan diksi “orang ketiga” dibanding pelakor dalam fenomena yang sedang hangat ini. Mari kita narasikan dengan tiga subjek yakni perempuan jomblo, laki-laki (suami) dan istrinya. Perempuan jomblo menyukai suami orang dan suami tersebut menyukai perempuan jomblo di samping dia memiliki istri. Logikanya, kedua subjek inilah yang bermain api.

Tulisan ini tidak sedang membela salah satu pihak dan meminggirkan pihak lain. Kita tidak sedang berbicara perihal hak bahagia atau hak mencintai. Kalau bicaranya tentang hak bahagia, ketiga subjek tadi punya hak bahagia begitu juga dalam hak mencintai sebagai hak individu.

Kalau pernah denger “cinta tidak pernah salah”, karena “rasa cinta” memang bisa tumbuh baik terhadap lawan jenis pun kerabat. Maka dari itu mendapatkan pembenarannya bahwa “cinta tidak pernah salah”.

Di sini juga tidak bicara tentang kuat lemahnya keimanan yang mana banyak orang berpendapat “kalau imannya kuat (perempuan) tidak akan terpikat dengan laki-laki beristri”. Perempuan sebagai subjek yang disalahkan karena dihadapkan dengan sahnya hubungan suami beristri tadi.

Dalam konsep yang meyakini bolehnya poligami, laki-laki mendapat alasan yang diterima pada umumnya. Padahal bergantung pada perjanjian masing-masing keluarga, apakah istri pertamanya membolehkan atau tidak. Ada konsep “konsensus” dari kedua belah pihak.

***

Kembali pada istilah pelakor. Berasal dari singkatan “PeLakOr” itu sendiri yaitu Perebut Laki Orang. Siapa yang menjadi subjek perebut? Perempuan. Dalam konteks perempuan berstatus jomblo dekat dengan seorang laki-laki berkeluarga. Umumnya, yang terlihat merebut adalah perempuan jomblonya, karena laki-laki sudah memiliki istri dalam ikatan yang sah. Dengan mudah orang biasanya bilang “perempuan jomblo gatelan karena suka sama lelaki beristri..”

Baca Juga  Gen Z Tolak Pelecehan Seksual

Lalu, bagaimana dengan laki-laki beristri? Apakah dengan alasan poligami perilaku demikian diindahkan? Dengan mudah, saya menjadi netizen “lelaki beristri udah jelas punya istri kok ya sengaja menumbuhkan cinta pada perempuan jomblo?” Itu logika sangat sederhana. Sehingga istilah perselingkuhan disematkan.

Perselingkuhan dalam KBBI berasal dari kata selingkuh yang memiliki arti “suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur”. Selingkuh itu sendiri perilaku yang tidak disematkan pada jenis kelamin tertentu. Selingkuh di sini bisa dilakukan oleh subjek yang berstatus dan tidak berstatus. Jadi, ketika kita menilai fenomena tersebut sebagai “perselingkuhan”, jelas yang bermain adalah kedua belah pihak. Entah siapa yang memulai, namun permulaannya berbalas. Nah, karena sifatnya yang “saling” di antara kedua belah pihak, diksi “pelakor” tak lagi relevan.

Bagikan
Post a Comment