Menjadi Travelling Addict yang Berfaedah
Travelling atau bahasa jalanannya adalah jalan-jalan, siapa sih yang nggak demen sama kegiatan yang satu ini? Mulai dari bocah, emak-emak beranak tiga, sampai bapak berjengggot, apa lagi kita yang masih remaja, semua mengidolakan hobi yang satu ini. Tapi sebenarnya apa sih niat kalian buat jalan ke sana ke mari? Ke sana ke mari itu sebenarnya mau ngapain sih? Sebagian dari kita mungkin menjawab pakai ilmu “jalan-jalan buat tadabbur alam.” MasyaAllah banget ini alasannya, tapi emang bener?
Anak Hits butuh foto keren
Sebenarnya yang menjadi alasan terbesar buat jalan ke sana kemari yaitu buat nyari foto keren, jujur aja sih, dari pantai satu ke pantai yang lain, gayanya itu seperti dia paling keren se-Asia Tenggara. Terus kalau sudah dapat foto keren bakal ngapain? Ya, bakal dikirim ke sosmed, buat ngasih tau orang betapa kejtehnya dia, wa bil khusus mau ngeliatin ke si doi, eaaak, ya enggak? Yaiyalah, jadi gak yakin mau tadabbur, takabbur kali. Apalagi mereka yang ngaku sebagai anak hits, kekinian dll. Foto adalah sebagian kesempurnaan jalan-jalan, dia adalah tiang perjalanan, pondasinya adalah kamera, rukunnya pemandangan, dan sebaik-baik bekal adalah bekal uang dan jajan. Itu orang mau buat perjalanan apa buat keyakinan.
Bekal terpenting yang sering terabaikan
Pembahasan kali ini, saya enggak mau ngejatuhin orang yang senang jalan-jalan. Tapi jujur saja terkadang kita sering dibuat gregetan sama anak-anak rempong bin alay yang sering ngelupain hal satu ini, apa hayo? Yap, izin orang tua. Ini adalah bekal paling dasar dari semua perjalanan kita. Persiapan kita sudah matang, dompet udah kenyang, pasukan full team, eh enggak dapat izin dari orang tua.
Bagai emas di kantong bolong sama aja boong. Tapi terkadang sebagian kita para penikmat alam masih aja nekat bela-belain jalan, alasan enggak enak sama temen lah, ini lah, itulah. Padahal Rasululllah sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “ridho Allah tergantung ridho orang tua.” Nah kalo orang tua enggak ridho kita pergi?
Think again!
Apa sebenarnya alasan orang tua kita enggak ngasih kita ke sana kemari pas liburan? Apa kita gak tau betapa rindunya orang tua kita sama anaknya yang baru pulang dari perantauan? Anak yang selalu dibanggakan oleh ibunya di depan ibu-ibu lain pas lagi belanja sayur? Mereka ingin bersama kita di waktu liburan, bersama anaknya yang baru mau jadi bujang.
Setelah sekian lama mendekam di perantauan, pas pulang malah langsung cabut sama temen-temennya, enggak mikir gimana perasaan orang tua kita sebenarnya. Padahal pas di perantauan, nangis-nangis minta pulang, rayu-rayu minta uang jajan. Ayolah kawan, coba kita berpikir sedikit dewasa. Untuk hal yang sekecil ini, tak pantas rasanya dengan umur kita sudah mulai beranjak dewasa, sedangkan pemikiran kita tak lebih dewasa dari bocah putih merah. There’s no problem in trip vacatiaon.
Kalo kata seorang ulama travelling “buat kalian yang suka keluar rumah, pergilah, hingga suatu saat hanya satu yang kau rindukan. Pulang!” Duh kurang keren apa coba kata-katanya. Tapi kita juga harus bisa mengkondisikan segala sesuatu kemana yang baik, kapan yang pas. Apalagi buat yang sering manjat-manjat gunung, ngabisin waktu liburan banyak banget. Turun gunung udah capek, enggak bisa bantu orang tua. Tenaga habis, duit habis, pas balik keperantauan dapat apaan? Dapet nyeselnya, nyesel gak bisa maksimalin waktu buat orang tua pas liburan kemarin, emang yakin liburan depan masih bisa ketemu?
Buat yang udah ada rencana di liburan ini
Jangan pernah lupakan Allah di mana pun kalian berada, jangan pernah lupain shalat dan rambu-rambu syariat. Jangan lupain bekal terpenting yang tadi kita bahas, jangan lupa bekal penunjang, uang dan karib kerabatnya. Untuk kalian yang mau nanjak gunung, jangan abaikan perlengkapan sekecil apapun dia, jangan mudah menyerah buat nyampe puncak.
Ingat, seletih apapun jalur menuju puncak, alam tak akan pernah mengecewakanmu. Dan untuk kalian lagi para pemanjat gunung, ada tips lagi, jangan pernah sekali-kali naik pakai celana jeans. Alasannya kenapa kita dilarang make celana begituan? Salah satunya karena dia bisa menyebabakan Compartment syndrome; adalah kondisi di mana sel-sel otot tidak mendapatkan supplai darah dengan baik, sehingga bisa menyebabkan terjadinya kematian sel, penurunan kerja otot. Kalo kondisi kayak gini di biarin dan berulang-ulang, pada kasus yang parah, dapat mengakibatkan kelumpuhan, kurang lebih seperti itu, selengkapnya cek embah google.
Dari pada pakai celana-celana enggak jelas kayak barusan mending pakai sarungan, satu kain beribu faedah. Jangan malu pake sarung. Kan keren kelihatannya, foto di puncak Rinjani pakai sarung, terus langsung upload kayak kebiasaan kalian itu dah. Nah bapak mana yang gak mau ngerestuin coba? Hahaha.
Untuk kita wahai penikmat alam
Untuk kita yang telah diakui atau sekedar ngaku-ngaku sebagai pecinta alam. Etika kehidupan alam harus tetap di perhatikan dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya tanggung jawab menjaga alam bukan hanya tugas para pecinta alam. Akan tetapi, jika kita saja yang telah mengikrarkan diri tak memiliki kesadaran bagaimana dengan mereka, yang kalau kita liat sendiri di tempat-tempat wisata kelakuaannya, bikin naik tensi!
Jadi untuk umat manusia pecandu jalan-jalan, jadilan pecandu yang berfaedah. Yang bermanfaat bagi sekeliling kita, bukan pecandu yang cuma bisa nyusahin sana-sini; buat lah perjalananmu adalah perjalanan yang membekas di hatimu dan membekas di cactatan amal sebagai kebaikan. Ke manapun, sejauh apapun, dengan siapapun, ingatlah, keindahan alam tercipta bukan untuk sarana maksiat, melainkan penunjang kita untuk semakin giat kita memuji Sang Penciptanya.

