Perempuan, Masa depan dan Loyalitas Pribadi
Beberapa saat lalu saya mengajak teman perempuan untuk berdiskusi seputar peran perempuan dalam kontestasi perubahan-perubahan yang ada pada saat ini. Bahwa perlu adanya peran yang masif yang dilakukan oleh perempuan dalam menjawab gerusan-gerusan yang hadir dalam setiap perkembangan. Peran perempuan dalam persoalan ekonomi sosial perlu ditingkatkan dan didorong, dengan pengetahuan yang memadai.
Kami berdiskusi cukup lama dan memberikan pandangan tentang perempuan dalam pusaran ekonomi dan sosial. Sebagian perempuan tidak lepas dari belenggu ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Misalnya dalam hal-hal yang urgent perempuan akan menunjukan kualitasnya untuk mendapatkan objek kebutuhannya tersebut.
Setiap perempuan memiliki tingkat kualitas berbeda, tentu karena masing-masing memiliki potensi yang berbeda. Seperti halnya dalam menentukan masa depan, di dunia kerja dan pendidikan. Ada yang berkerja sesuai kemampuan, adapula berkerja sesuai keadaan yang ia dapatkan, pun tidak jarang perempuan kini memilih berkarya, dalam hal lain menciptakan lapangan pekerjaan untuk perempuan lainnya, demi menyelamatkan perempuan dalam kompetisi persaingan sosial.
Di sisi lain, perempuan cenderung memiliki disiplin ilmu yang kuat, ulet dan tanggung jawab. Ini yang sering kita lihat pada perempuan dalam dunia pendidikan dan kerja. Mereka tidak menyampingkan persoalan keorganisasian yang bisa membawahi dan menambah kualitas relasi dan pola pikir.
Alasan seperti ini, sangat variatif dengan kebutuhan sebagian perempuan sekarang yang mengutamakan pendidikan untuk bisa membekali diri dalam kompetisi ekonomi dan sosial yang dimaksud. Setiap persoalan yang hadir, perempuan memiliki daya pikir yang cukup kuat untuk bisa bertahan dalam gejolak-gejolak yang akan terjadi di dunia global.
Perempuan dalam Lintasan Pendidikan
Ada tiga kategori yang saya pikirkan tentang perempuan dalam melakukan pemetaan kemampuan untuk masa depan, berdasarkan lintasan pendidikan. Yang pertama, perempuan yang lebih memilih berpendidikan untuk bisa melawan tantangan dan memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosialnya dengan pengalaman ilmu pendidikan itu sendiri.
Perempuan yang berada dalam ruang lingkup atau berlatar belakang pendidikan cenderung mampu menangkal pengaruh sosial dan tidak jarang memberikan solusi terhadap ekonomi yang ia hadapi. Bahwa dalam konteks yang lebih general, perempuan yang berada dalam ranah pendidikan dinilai cukup lebih memiliki mutu kualitas pendidikan untuk menunjang segala aktfivitasnya.
Terlepas dari itu semua, perempuan yang memilih jalan pendidikan ini saat ini semakin banyak, mampukah persaingan perempuan di perkembangan era mutakhir ini akan berakhir baik atau hanya sampai di tengah jalan? Pertanyaan seperti ini menjadi motivasi bagi perempuan yang harus mandiri dalam dunia ekonomi. Dalam artian refleksitas bahwa latar pendidikan perlu dimanfaatkan dan digunakan dengan baik, agar tidak terjadi kesia-siaan ilmu pengetahuan yang di dapatkan dari pendidikan yang di tempuh sebelumnya.
Kedua, perempuan yang memilih untuk mengesampingkan pendidikan hanya untuk berkerja terlebih dahulu. Yang sering kita lihat perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan wajib 12 tahun dan memilih untuk berkerja. Bahwa sangat banyak sekali perempuan yang rela tidak kuliah atau belum melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, hanya karena faktor ekonomi dan perspektif sosial yang harus ia hadapi terlebih dahulu, untuk meraih masa depan.
Perempuan yang lebih memilih bekerja karena ada peluang kala itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak bisa dipungkiri itu semua tentang loyalitasnya. Bahkan banyak sekali teman-teman saya pun memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan tinggi karena beberapa alasan seperti di atas yaitu masalah latar belakang ekonomi, adapun memiliki alasan tidak bisa jauh dari orangtuanya, dan itu wajar bagi saya.
Memperhatikan Pendidikan Perempuan
Oleh karena itu, sangat patut diperhatikan pendidikan perempuan yang berkeinginan melanjutkan sekolah tinggi dalam mewujudkan cita-citanya dan keluarganya. Hal inilah yang menjadi nilai positif juga, di mana perempuan yang memilih berkerja dan tidak berkuliah cenderung lebih kaya pengalaman di dunia kerja.
Ketiga, perempuan yang menghabiskan masa pendidikan tingginya sembari berkerja. Kata teman saya dalam diskusi tersebut, dia tidak bisa membebankan segala hal pada orang tua atau orang sekitarnya. Ia memilih untuk mandiri dalam pendidikan dan pekerjaan.
Bagi sebagian besar, poin ketiga ini menjadi suatu bentuk keputusan yang sangat baik. Bahwa pendidikan adalah urusan pribadi dan hak segala manusia, dan pekerjaan yang ia tempuh dalam berpendidikan merupakan salah satu indikator terbaik menjawab keresahan orang tua dan masyarakat banyak. Itulah yang harus menjadi dasar-dasar pembangunan nilai kehidupan perempuan.
Banyak sekali teman-teman saya yang harus rela membanting tulang demi kehidupan ekonomi sosial pribadinya. Bagi saya, Kolektifitas perempuan dalam sub ketiga ini mampu menjawab yang dinamakan kesetaraan gender.
Sebuah kesadaran yang menjadi transformasi pengetahuan dan menjawab perempuan pun bisa. Ucap dia dalam diskusi tersebut. Cukup tersentuh ketika berbicara tentang perempuan dalam memperjuangkan nilai kehidupannya dimata sosial hingga pada kebutuhan ekonomisnya.
Bahkan kadangkala banyak persepsi tentang ketidakmampuan perempuan, tapi di sini saya menyadari akan nilai kehidupan, bahwa hidup bukan tentang laki-laki dan perempuan. Tetapi hidup itu, tentang kooperatif dalam bersosial.
Akhir dalam diskusi tersebut ia menyempilkan kesimpulan “Perempuan kini tidak harus kita cemasi bersama, bukan karena ia perempuan. Tapi, perlu kita sadari bersama tentang perempuan pada sisi paradigma yang lebih berakal “.

Riset Pengembangan Keilmuan IMM ITB Ahmad Dahlan Karawaci & Pegiat Literasi Media

Noor isa
Mantap bang, terus berkarya bang.
Salam, isa , manajemen ITB AHMAD DAHLAN.