f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendekatan

Pentinya Studi Pendekatan Islam : Pendekatan Sejarah (Bagian 1)

Seiring perkembangan zaman, kehadiran agama dan keagamaan pun pasti akhirnya menuai banyak tantangan dalam konteks keduawian atau profan, dan juga lebih daripada itu dalam konteks kehadiran agama di tengah-tengah perkembangan sosial, ekonomi dan politik, juga kultur-budaya yang sangat beragam.

Keberagaman itu menjadi pelumas ataupun pendorong kepada para pemikir Islam untuk kembali memikirkan konteks pemikiran keagamaan dalam konstelasi pemikiran; yang sifatnya sangat dinamis, terbuka dan terus-menerus terdorong untuk tetap aktif memproduksi pemikiran-pemikiran yang baru. Sederhananya dibutuhkan suatu metode yang itu melalui pendekatan interdisipliner.

Sebagaimana yang kita tahu, studi keislaman pun muncul dan berkembang akibat dorongan persoalan-persoalan dunia, yang artinya bagaimana pemikiraan keagamaan kembali memahami dunia yang sangat dinamis. Kemudian, dalam hal inilah keagamaan sudah tidak lagi dipahami hanya sebatas normativitas teks yang itu sifatnya doktrinal teologis. Mengapa demikian? Apabila pemahaman seperti ini masih dipertahankan dalam konteks pemikiran kegamaan, tidak lain adalah jatuhnya nalar keagamaan pada kemandegan pemikiraan kegamaan; di mana dunia sudah mulai memikirkan sesuatu yang sifatnya lebih terbuka.

Hal ini bukan bertujuan untuk membentuk determinasi agama pada diskursus global; tetapi pemikiran keagamaan tentunya juga menjadi subjek utuh di dalam diskursus global. Mengkaji dan mendekati Islam dalam kajian keagamaan tentunya tidak lagi bertumpu pada satu pandangan, tetapi interdisipliner yang melalui pendekatan sejarah, antropologi, teologis, sosiologi, psikologi, filosofis, dan ekonomi. Di sisi yang lain hal inilah yang mendorong para akademisi ataupun intelektual pemikir Islam untuk segera mengembangkan khazanah intelektual dalam kajian-kajian seperti ini, untuk mencoba melihat satu fenomena keagamaan dari banyak sisi.

Pendekatan Historis dalam Studi Islam

Secara definisi, istilah sejarah itu berasal dari bahasa Arab syajarah yang itu berartikan pohon. Dalam konotasi tertentu, ini di pahami sebagai suatu rangkaian kejadian yang itu tidak hanya disebabkan pada satu hal. Bahwa sejarah menyangkut tentang suatu hal di baliknya. Dalam perkembangannya pun sejarah dipahami sebagai sesuatu hal yang mempunyai makna yang sama dengan Tarikh (Arab),  istoria (Yunani)[1]. Historia atau getschichte (German) dengan sederhana ini berarti menyangkut pada kejadian-kejadian yang itu terjadi di masa silam.

Baca Juga  Pentinya Studi Pendekatan Islam : Pendekatan Sejarah (Bagian 2)

Dengan memaknai lebih arti dalam kata historis, para sejarawan terdahulu pun menafsirkan itu dalam konteks yang lebih luas dan beragam. Edward Freeman misalnya ia mengartikan bahwa historis adalah suatu kejadian politik di masa lampau (historis is past politics), Sementara Ernest Bernheim mengatakan bahwa historis adalah suatu ilmu yang menandakan perkembangan manusia  sebagai upaya mereka sebagai makhluk sosial[2].

Lalu menurut Hasan, bahwa historis atau Tarikh  adalah suatu seni yang membahas tentang kejadian-kejadian waktu dari segi spesifikasi dan penentuan waktunya, tema-nya, manusia dan waktu,permasalahannya adalah keadaan yang menguraikan bagian-bagian ruang lingkup sesuatu yang terjadi pada manusia dalam suatu waktu.[3]

Sejarah : Subjektif dan Objektif

Sejarawan Indonesia, seperti Sartono Kartodirdjo (1993: 14-15) dalam Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, membagi pengertian sejarah pada pengertian subjektif dan objektif[4]. Pertama, Sejarah dalam arti subjektif adalah suatu konstruk, yakni bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita. Uraian atau cerita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah, baik proses maupun struktur; Kedua, Sejarah dalam arti objektif adalah menunjuk kejadian atau peristiwa itu sendiri, yakni proses sejarah dalam aktualitasnya. Kejadian yang sekali terjadi tidak dapat diulang atau terulang lagi.

Tentunya keseluruhan dari macam metode pendekatan studi Islam itu selalu menuai polemik,;seperti contoh, apakah tidak ada kemungkinan dalam upaya tersebut hal ini bisa menarik pembahasan keluar dari konteks keagamaannya. Sebenarnya, anggapan seperti ini bisa dijawab dengan sederhana, bahwa senyatanya dala pendekatan sejarah seseorang diajak untuk masuk ke dalam suatu keadaan yang sebenarnya terjadi, tidak hanya melihat suatu keadaan.

Baca Juga  Heresy and Politics: Hijab Sebagai Simbol Perempuan Merdeka

Dari sinilah maka kita tidak akan menemukan seseorang memahami bahwa akan keluar dari pembahsan agama dari konteks historisnya. Karena itu pemahaman yang keluar dari konteks historisnya akhirnya bisa menemukan kubangan kesesatan; dan di sinilah pentingnya memahami konteks historis tersebut secara menyeluruh.

Sejarah keislaman tentunya bukan hanya sebatas sejarah yang nir-nilai atau tanpa makna dan nilai-nilai di dalamnya.Upaya untuk membaca asbab al-nuzul adalah tujuan dari pendekatan sejarah. Maka dengan ilmu inilah, kita dapat memetik suatu makna ataupun memahami sejarah secara utuh dan mampu menangkap segala nilai yang masih tersingkap di balik suatu kejadian.

Bersambung …

[1] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 1.

[2] Nasution, Harun Tradisi Baru. hal. 119

[3] Hasan Usman, Metode Penelitian Sejarah, hal. 46

[4] M. Yatimin Abdullah, Op. Cit, hal. 58

Bagikan
Post a Comment