Mengeluh di Media Sosial: Bystander Effect Menanti
Semakin berkembangnya media sosial, maka semakin bertambah intensitas kita dalam berselancar di dunia maya. Konsep dari media sosial adalah dengan berjejaring sosial bersama orang dengan cara saling follow. Dengan itu maka kita dapat melihat semua aktivitas dan unggahan orang yang kita follow.
Media Sosial dan Keluh Kesah
Setiap orang dapat menggunakan media sosial dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menggunakannya untuk mencari informasi terkini, guna bertujuan menghasilkan karya, ada juga yang memanfaatkan sebagai tempat untuk berkeluh kesah. Media sosial juga bisa menjadi tempat kita untuk bebas berekspresi dan menjadi diri kita sendiri. Bahkan cakupannya cukup luas karena orang yang berbeda pulau dan negara dengan kita pun tetap bisa untuk menjalin komunikasi.
Selain untuk berkomunikasi seringkali kita menempatkan media sosial menjadi tempat untuk berkeluh kesah. Mengeluh adalah salah satu cara pelepasan stress terhadap tekanan yang sedang dialami. Kita mengeluh untuk menceritakan masalah yang menggangu hati dan pikiran agar kita dapat merasa lebih lega. Selain kita merasa lega usai mengeluh di media sosial, kita juga merasa bahwa orang lain tidak akan terganggu dengan keluhan kita. Tidak jarang juga kita berharap orang lain akan peduli dan bersimpati dengan kita. Namun apakah itu merupakan cara yang benar untuk melepaskan emosi yang kita rasakan?
Bystander Effect: Dampak Negatif Media Sosial
Bystander effect adalah fenomena sosial di bidang psikologi di mana semakin besar jumlah orang yang menyaksikan dan berada di tempat kejadian, justru semakin kecil orang-orang tersebut akan membantu orang tersebut. Hal ini menyebabkan ketika melihat seseorang dalam kesulitan ia hanya akan memerhatikan dan tidak berbuat apa-apa karena beranggapan bahwa akan ada orang lain juga yang hadir dan akan membantu orang yang sedang dalam kesulitan tersebut.
Bystander effect ini secara jelas menunjukan bahwa kehadiran orang dalam jumlah yang banyak juga dapat menghambat perilaku membantu seseorang. Kita mengambil contoh dalam kehidupan nyata ketika ada orang jatuh di tempat umum. Menurut hasil riset jika hanya ada kehadiran 1 orang dalam kejadian tersebut maka 85% kemungkinan untuk menolong sangatlah besar karena ia berpikir bahwa ia satu-satunya yang bisa menolong.
Psikologis Khalayak Ramai
Namun, jika ada beberapa orang yang ada dalam kejadian tersebut maka kemungkinan 31% orang menolong. Hal ini menunjukan sebagian besar subjek tidak mau repot-repot untuk membantu karena merasa sudah ada yang membantu. Kebanyakan hanya merasa cemas tapi tidak ada reaksi. Dan nahasnya jika semakin banyak kehadiran orang maka kemungkinan melakukan pertolongan semakin kecil.
Ketika kita mengeluh dan menceritakan persoalan kita di media sosial sebenarnya followers kita tidak akan membantu melainkan hanya melihat saja. Alasan kebanyakan orang untuk mengeluh di media sosial karena ingin memvalidasi perasaannya. Tujuannya untuk apa? Pertama, ingin orang lain mengakui dan menyadari kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Kedua, mereka ingin mencari pertolongan karena merasa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang dapat menolongnya. Dan yang ketiga karena ketidakmampuan mereka dalam mengekspresikan emosi diri.
Berdasarkan hasil riset, mengeluh di media sosial memang akan membuat kita lega sementara namun faktanya setelahnya pengguna malah dapat merasa lebih marah karena hal-hal yang mereka inginkan belum tentu akan mereka dapatkan. Seperti kita berharap followers kita akan memberikan dukungan positif tapi bisa jadi mereka malahan akan menghujat dan mencibir. Dan hal ini juga akan menyebabkan privasi diri yang terganggu sehingga sering kali menimbulkan kecemasan bagi pengguna.
Solusi Keluhan
Lantas pertanyaannya ketika kita mempunyai permasalahan kita harus menceritakan kekalutan ini dengan siapa? Bercerita dengan keluarga dan orang terdekat merupakan pilihan yang lebih baik daripada kita mengeluh di media sosial. Namun, perlu digaris bawahi juga orang yang kita jadikan tempat cerita merupakan orang yang mengerti keadaan kita dan dapat menjaga kerahasiaan.
Kita sebagai makhluk sosial memiliki kemampuan memberikan support system. Sudah menjadi keharusan untuk memberikan kita sumber informasi dan dukungan sosial. Namun sayangnya tidak semua orang memiliki lingkungan yang dapat dijadikan support system yang baik. Bagi kalian yang mungkin sedang berusaha dan tidak bisa mendapatkan dukungan sosial dari orang sekitar tidak perlu ragu dan takut untuk segara mencari bantuan profesional.
Mungkin masih banyak masyarakat umum yang beranggapan bahwa pergi ke psikolog berarti gila. Padahal pandangan tersebut salah besar dan pergi ke psikolog juga bukanlah sebuah aib. Perlu kita sadari bahwa memang tidak semua permasalahan dapat kita selesaikan sendiri. Sehingga dengan mencari bantuan profesional akan mempermudah kita untuk memetakan permasalahan yang kita alami dan mendapatkan sejumlah saran untuk kita dapat keluar dari kondisi permasalahan tersebut. Dengan keputusan kita untuk mencari bantuan profesional sudah merupakan langkah awal kita untuk menyelamatkan diri kita sendiri.
Editor: RF Wulan

