Lima Langkah Menciptakan Keadaban Publik Menurut Haedar Nashir
Secara normatif Islam sangat sejajar dengan misi kekahalifahan dan misi kerisalahan Nabi Muhamamad. Dengan begitu, umat Islam mestinya menjadi sibghah kekuatan dalam menghadirkan etika keadaban publik. Etika keadaban ini tidak cukup hanya menjadi etika individual dalam Islam. Nabi pun banyak memberikan contoh bahwa akhlak tidak hanya perilaku baik dan buruk secara personal tapi harus teraktualisasikan menjadi etika kehidupan sosial.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si dalam kajian titik temu “Etika Agama dan Keadaban Publik” yang diselenggarakan oleh Nurcholish Madjid Society pada 22 Januari 2021 via Zoom Meeting. Hadir pula narasumber lainnya yaitu Ketua Umum Indonesia Conference Religion and Peace (ICRP) Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A dan Anggota Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society Yudi Lathif, Ph.D.
Hambatan Mewujudkan Keadaban
Haedar menyampaikan bahwa dalam lensa sosiologi masyarakat Indonesia yang beragama; masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun, gotong rotong, kebiasaan dan berbuat baik kepada tetangga. Hal tersebut sesungguhnya telah menampilkan etika keadaban publik yang baik, moderat dan toleran.
Namun pada perkembangan saat ini, nilai-nilai akhlak yang menjadi keadaban publik yang moderat, toleran dengan keragaman banyak terdistorsi oleh banyak hal yang bersifat cross cutting of interest (saling silang kepentingan). Sebagai contoh pada perkembangan mutakhir, pasca reformasi muncul pandangan-pandangan keagamaan yang militan dan membawa misi keprajuritan.
Haedar juga melihat bahwa pada era sekarang ini, fenomena gelora perjuangan Islam dengan aura keprajuritan semakin kuat dan menonjol. Mereka membawa slogan yang pernah diucapkan Asma’ binti Abu Bakar RA kepada anaknya, Abdullah bin Zubair RA “Isy kariman au mut syahiidan” (hiduplah sebagai orang yang mulia dan matilah sebagai orang yang mulia) tidak pada konteksnya.
Selain faktor di atas, Haedar menjelaskan bahwa konflik politik juga berperan kuat dalam mereduksi nilai-nilai keadaban yang telah dibawa Islam. Setelah kontestasi politik usai, ternyata politik masih mereproduksi konflik-konflik yang bersentuhan dengan agama.
“Merespon agenda-agenda politik sampai batas tertentu tidaklah keliru”, tambah Haedar. Namun apabila menjadikan isu tersebut sebagai arus utama akan berakibat pada agenda-agenda besar dari kekuatan arus utama seperti Muhammadiyah, NU dan banyak pihak yang membawa misi keberagamaan dalam menciptakan etika keadaban publik yang toleran menjadi tertinggal.
Menciptakan Keadaban Publik
Dalam tulisan ini, penulis merangkum beberapa PR besar kita dalam menciptakan etika keadaban publik menurut Haedar Nashir.
Pertama, membangun masyarakat ilmu. Menurut Haedar, dengan membangun masyarakat ilmu, nantinya masyarakat Indonesia menjadi semakin maju dan berpengetahuan dalam merespon persoalan umat. Kedua, menghidupkan Al Hujurat Ethics. Dalam beberapa kesempatan, Haedar kerap berpesan agar kita bisa membumikan Al Hujurat Ethics. Al Hujurat Ethics merupakan prinsip-prinsip yang didasarkan pada surat Al Hujurat sebagai panduan dalam menciptakan etika keadaban bermedia sosial dan lebih jauh lagi prinsip ini bisa dijadikan pedoman dalam berbangsa dan bernegara.
Ketiga, memperkokoh dunia pendidikan dengan nilai-nilai keadaban. Haedar menuturkan, bahwa membumikan nilai-nilai tersebut dalam dunia pendidikan akan mampu melahirkan generasi yang dalam dirinya tertanam nilai-nilai penuh keadaban. Keempat, menghidupkan institusi keluarga. “Perlu menghidupkan keluarga sebagai institusi mikro dalam komunitas bahkan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Sehingga akan lahir etika-etika, keadaban publik yang moderat dan inklusif. Jangan sampai anak kecil diajari bermusuhan dengan yang berbeda dari mereka,” ucapnya.
Kelima, membangun ruang sosial seluas mungkin. “Kunci untuk mewujudkan semua agenda di atas ada pada proses institusionalisasi,” tambahnya. Orang- orang yang memiliki misi moderat harus menciptakan ruang sosial seluas mungkin; untuk lebih mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai etik dan keadaban publik. Dan di akhir paparannya, Haedar menegaskan agar orang- orang baik tidak menjadi silent majority dan harus aktif dalam menyuarakan agenda-agenda kebaikan ini.
Sebagai umat beragama di Indonesia mari mengukuhkan ajaran yang rahmatan lil ‘alamin dengan mengutamakan spirit kebersamaan dan berta’awun (tolong-menolong) dalam membentuk keadaban publik yang inklusif, moderat dan mencerahkan .

Seorang santri dan pendidik yang senang berbagi cerita seputar keislaman dan pengalaman perempuan
