Lewat Tengah Malam (Bagian 1)
Dari dulu hingga sekarang, jagat lelembut atau dunia ghaib masih dan akan tetap terus eksis serta mendapatkan citra mengerikan di mata banyak orang. Manusia dengan segala keterbatasannya selalu penasaran dan ingin mencari tahu lebih dalam perihal dunia yang tak kasat mata itu. Walau pada akhirnya kita akan lari tunggang langgang ketika dihadapkan oleh wujud aslinya.
Sifat “mereka” pun beragam, dalam Kisah Tanah Jawa: Jagat Lelembut (2019), menjelaskan bahwa, di antara mereka ada yang bersifat jahat (60%), baik (25%), netral (10%), dan sisanya tak diketahui (5%). Selain itu, golongan lelembut juga bisa dijabarkan lagi menjadi tiga alam. Lelembut yang menghuni daratan, lautan, dan langit. Semakin tua sosoknya, maka ia akan memiliki kemampuan tinggi dan cenderung menjauhi alam manusia.
Demikian pengantar pada tulisan yang akan menceritakan kisah tentang pengalaman mistis saya dan beberapa kawan yang nama dan lokasi saya samarkan demi kepentingan dan kenyamanan bersama.
Dan mari kita mulai kisahnya…
***
Mencuci baju adalah aktivitas paling esensial di pondok setelah bersekolah, mengaji, dan makan. Waktu mencuci baju setiap santri pun berbeda-beda, namun yang paling umum mencuci saat waktu luang, tepat di hari libur, atau usai sekolah.
Sembilan tahun silam, malam itu tepat pukul 23.00 WIB, saya dan kawan saya Filza sedang asyik mencuci baju. Suasana malam itu terasa cukup bersahabat, gemintang di atas mengantung sempurna tanpa tertutup awan gulita. Salah seorang kakak kelas dari Departemen Keamanan pun hanya berpesan agar segera tidur usai beraktivitas.
Kala itu, hanya dua orang saja yang mencuci baju, selain itu santri lain hanya ke kamar mandi sekadar untuk buang air kecil. Untuk memecah kesunyian malam, kami pun berbincang ngalor-ngidul tentang apa saja yang terlintas di pikiran. Tidak ada firasat buruk yang terlintas di pikiran, fokus kami hanya tertuju pada cucian.
Hampir sejam kami berkutat pada busa dan noda-noda pakaian membandel. Aktivitas mencuci pun selesai, kini saatnya kembali ke asrama untuk menjemur pakaian. Sebelum itu, kami harus mengambil hanger dulu di kamar. Di sana, kami mendapati teman-teman sekamar sudah terbuai dalam mimpi-mimpi. Seberes mengambil hanger, kami pun menuju teras belakang asrama tempat menjemur baju.
***
Sebenarnya teras belakang itu berbentuk letter L, karenanya di sana adalah salah satu spot favorit saya dan santri lainnya untuk sekadar menghirup sejuknya udara pedesaan, memandangi hamparan sawah yang terbentang dari ujung selatan hingga ujung utara sembari mengawasi kalau-kalau ada santri nakal yang suka mencuri hanger.
Di asrama saya, hilangnya hanger saat pakaian masih dalam keadaan basah adalah hal yang lumrah dan biasa saja, dulunya. Berbeda dengan masa sekarang di mana sistem keamanannya jauh lebih ketat. Kesadaran akan perubahan ke arah yang lebih baik pada setiap pribadi santri membikin keamanan pesantren mudah dikendalikan.
Hanger sudah di tangan, waktunya untuk membawa cucian ke belakang.
Sebagai gambaran, model jemuran di asrama kami boleh dikatakan sangat berbahaya untuk santri baru SLTP. Pasalnya, jemuran itu memang terbuat dari kayu, hanya saja kayu-kayu yang melintang dari selatan ke ujung letter L itu menggantung. Kayu jemuran itu terbagi menjadi dua bagian, atas dan bawah.
Para santri tidak perlu naik pagar yang tingginya seperut orang dewasa dengan lebar permukaan sekira 15-20 cm itu, hanya untuk menjemur baju. Namun jika kayu bagian bawah sudah full, maka mau tak mau santri harus naik pagar (dengan posisi berdiri) untuk menjemur pakaian di kayu bagian atas. Jika santri lengah atau goyah sedikit, maka dapat dipastikan santri itu akan jatuh dari lantai dua asrama. Namun hingga sekarang, tidak ada santri yang jatuh dari situ.
Dari jemuran saja, kami sudah dilatih sejak dalam mental, konsentrasi, dan fokus. Sungguh jemuran yang sangat educateable.
***
Waktu menunjukan pukul lewat tengah malam, saya dan Filza menjemur di kayu bagian atas, itu artinya kami harus menggotong bak di pagar agar mudah menjangkau pakaian. Suasana malam kian sepi seiring dengan suara kodok dan jangkrik yang saling bersahutan. Untuk memecah itu, kami pun mengobrol tentang apa pun sembari mengusir pikiran buruk.
Awal mula menjemur, kami tidak merasakan apa-apa, normal-normal saja. Namun kenormalan itu mulai berubah tatkala kami berdua melihat batu putih yang dilemparkan begitu saja dari atas genting. Awalnya kami mengira itu ulah Azmi dkk yang memang suka usil tapi jenaka.
Whusss…byurrr! Lagi-lagi kami mendapati batu kedua di layangkan dengan cukup kuat dan semakin besar hingga mencapai sungai yang berada tepat di sisi timur pesantren. Saya merasa ada yang tidak beres malam ini, firasat saya buruk.
“Hassh.. mungkin Azmi itu yang melempar,” kata Filza dengan diksi meyakinkan. Agar tetap positif thinking, saya pun mengamininya.
Sedikit lagi kami kelar, tetiba batu ketiga melayang dari sumber yang tidak berubah; tepat di atas kami tempat menjemur dan mendarat tepat di permukaan sungai yang airnya berwarna hitam itu. Batu putih itu pun jauh lebih besar dari batu pertama dan kedua. Namun Filza tetap merasionalkan bahwa itu ulah Azmi dkk. Walaupun saya pikir batu itu berukuran sangat tidak wajar jika harus diangkut ke atas genting.
Tadinya saya mau memanggil Azmi, tapi urung saya lakukan sebab takut menganggu santri lain yang sudah tidur.
***
Usai menjemur, kami pun kembali ke kamar. Untuk menuju ke kamar, kami harus melewati kamar Al-Azhar III dan II yang lampunya telah dipadamkan seluruhnya, kecuali teras. Kesunyian malam sempurna menyelimuti pesantren kami, ditambah pohon besar yang terlampau tua yang tumbuh tepat di depan asrama kami–yang sekarang sudah ditebang–itu membikin suasana semakin mencekam, saya merasakan seperti ada yang mengawasi kami dari tiap cabangnya. Ah, mungkin itu hanya perasaan saya saja.
Usai menaruh bak di kamar dengan hati-hati melewati teman-teman yang sudah terlelap, tetiba dari kejauhan kami mendengar suara langkah kaki dan obrolan beberapa orang. Saya dan Filza saling tatap. Untuk mengobati rasa penasaran, kami pun menuju teras. Dan di sana, kami kaget bukan kepalang. Sumber suara itu bukanlah dari “mereka”, namun dari Azmi dkk yang nongol dan berjalan dari aula.
“Mi, kamu dari mana?” tanya saya penasaran.
“Dari aula ini,” katanya dengan tatapan bingung melihat muka saya dan Filza yang sama sekali berubah, tidak seperti biasanya. Alangkah terkejutnya kami mendengar pengakuan Azmi.
“Jadi tadi itu siapa sebenarnya?” tanya Filza. Saya menggelengkan kepala, tidak percaya.
Kami lalu bercerita di teras depan perihal kejadian ganjil yang baru saja kami alami saat menjemur pakaian tadi. Azmi yang terkenal garang itu nampak tegang mendengar cerita kami.
Dari nalar dan analisis kritis ala remaja tanggung perihal hal mistis yang saya dan Filza alami, kami akhirnya bermufakat bahwa kejadian yang kami alami itu berasal dari mereka yang tak kasat mata. Saya percaya bahwa “ia” memiliki energi super besar untuk sekadar memindahkan bahkan melempar batu putih itu. Dan saya meyakini bahwa “ia” tidak bersemayam di letter L. Entah di mana.

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
