f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sbmptn

Ketika Anakku ‘Gagal’ SBMPTN

Melihat kebahagiaan teman-teman berbagi kabar ananda diterima SBMPTN, mengingatkan saya atas pengalaman tahun lalu. Ketika pengumuman yang sama berdampak pada hati yang sedih dan kecewa, karena anakku sendiri belum lolos dari kompetisi memperebutkan satu kursi di PTN pilihannya.

Tambah sedih lagi karena – kala itu – pengumuman SBMPTN menjadi satu-satunya harapan untuk bisa kuliah di PTN, karena sebelumnya belum lolos juga melalui jalur lain.

Beragam pikiran berkecamuk di kepala, ditambah lagi kondisi awal pandemi yang membatasi usaha keluar rumah untuk ‘cari’ alternatif kampus lain. Duuuhh… mau ngapain anakku ya, kalau nggak kuliah? Apa mau kuliah di PTS dulu, trus nyoba SBMPTN lagi tahun depan? Apa mau kerja dulu, khawatir malah ndak mau kuliah.

Akhirnya, saya, suami dan ananda bicara dari hati ke hati. Dialog tentang apa rencana dia kalo tidak diterima SBMPTN ini, dan apa harapan Umi-Abi ke dia. Semua dibicarakan terbuka. Tadinya memang saya menyarankan untuk pilih jurusan yang dia benar-benar senang. Kuliah ndak boleh setengah-setengah, karena biaya untuk kuliah juga tidak murah.

*

Anakku bilang ingin kerja dulu sambil nunggu tahun depan. Kebetulan sebagai lulusan SMK, dia sudah punya beberapa sertifikat ketrampilan resmi dari BNSP dan sertifikat TOEIC yang cukup untuk bekal cari kerja. Saya sebagai emak sudah deg-degan, karena biasanya kalau sudah pegang uang, jadi males kuliah. Makanya, Emak berusaha negosiasi, gimana kalau tetap kuliah di PTS yang dia sudah diterima juga (tapi belum bayar) disambi kerja? Supaya ‘vibe’ kuliah tetep dirasakan. Dia setuju.

Setelah diskusi panjang malam itu, keesokan harinya anakku bilang bahwa Ujian Mandiri salah satu PTN akan diadakan akhir pekan itu. Memang tinggal satu UM lagi yang belum dilaksanakan, karena tidak ada kepastian sebelumnya di masa pandemi ini.

Baca Juga  Tantangan Anak: Mengikuti Orang Tua yang Hidup Berpindah-pindah

Saya dan suami tetap doakan yang terbaik, tanpa ekspektasi tinggi sebagaimana SBMPTN sebelumnya. Toh kalau ujian ini belum berhasil (lagi), kita sudah menyepakati plan B buat dia. Jadilah ananda mengerjakan ujian UM online tanpa beban. Saya pun tidak ada beban dan tetap mendoakan, pasrah yang terbaik untuk ananda.

Dan, di suatu pagi selang 3 hari dari ujian itu tiba-tiba anakku teriak, “Umiii… Umiii… ini beneran gak?”

Saya pun kaget, bergegas mendatangi anakku yang saat itu sedang berada di teras rumah dengan laptop di tangan. Di sana tertera nama dan nomor pendaftarannya dengan keterangan DITERIMA.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Sujud syukur pastinya. Allah ternyata punya rencana terbaik untuk kami.

Jadi temans, ketika saat ini ananda belum berhasil melewati ‘saringan’ SBMPTN, sebenarnya bukan sebuah ‘pertanda’ bahwa masa depannya tidak secerah teman-temannya yang lolos.  SBMPTN bukan satu-satunya ‘cara’ untuk masuk PTN berkualitas, karena saat ini beragam jalur masuk juga tersedia untuk masuk PTN. Namun yang lebih penting lagi, SBMPTN juga bukan satu-satunya sarana Ananda untuk menjelang masa depannya yang gemilang.

*

Saat ini PTS berkualitas setara PTN semakin banyak dan berkembang. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) telah bekerja keras untuk menentukan kualitas PT melalui akreditasi. Sehingga kualitas satu program studi dengan akreditasi A di sebuah PTS akan setara dengan prodi yang sama di PTN dengan akreditasi yang sama.

Perlu dipahami juga, bahwa kesuksesan dan keberhasilan Ananda sebenarnya tidak ditentukan dari tempat kuliahnya saja, tapi lebih pada motivasi Ananda mengembangkan diri dan memanfaatkan segala kesempatan yang terbuka lebar di masa kuliahnya nanti. Apalagi, ke depan, ketika kampus telah menjalankan  program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, para mahasiswa akan mendapatkan kesempatan untuk belajar di kampus lain, tidak hanya di dalam negeri tapi juga merasakan kuliah di luar negeri selama satu semester!

Baca Juga  Metode Hukuman bagi Anak Menurut Islam

Jadi ayah – bunda Rahmania, InsyaAllah ada rencana-rencana lebih indah di depan. Paradigma kita sebagai orang tua juga perlu diubah. Saat ini profesi-profesi baru bermunculan seiring dengan perkembangan teknologi dan kreativitas. Sehingga, mencarikan lingkungan yang mendorong Ananda untuk bisa mengeksplorasi potensi dirinya dan mengasah kreativitasnya menurut saya lebih penting, dibanding hanya ‘sekedar’ PTN atau PTS saja.

Kecewa boleh, tapi ndak usah lama-lama ya? Segera bikin plan A, plan B dan seterusnya. Jangan lupa full support untuk ananda, jangan menyalahkan apalagi membandingkan dengan temannya yang berhasil hari ini. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. So, don’t judge your kids from what he or she is done today! Karena di luar sana sebenarnya berbagai alternatif keberhasilan untuk Ananda masih terbuka lebar.

Insyaallah tetap berbaik sangka kepada Allah, dan percayalah, seperti nasihat orang tua dulu,  “Tiap anak itu membawa rejekinya sendiri-sendiri”.  Sehingga tidaklah tepat jika kemudian kita ‘menyamakan’ Ananda dengan saudaranya atau temannya yang sudah lebih berhasil saat ini.

Tetap semangat ya!

Tamantirto, 14 Juni 2021

Bagikan
Post a Comment