f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
stunting

Kenali Stunting Sejak Dini dan Cara Pencegahannya

Mengenal Stunting

Di era sekarang, isu terkait kesehatan anak masih menjadi permasalahan serius. Beberapa masalah pada kesehatan anak seperti gizi kurang, gizi lebih, penyakit infeksi, gangguan mental, hingga kekerasan pada anak  masih dialami beberapa anak di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, permasalahan gizi tersebut tidak hanya berdampak di masa kini, tapi juga di masa mendatang.

Salah satu permasalahan kesehatan pada anak yang masih menjadi fokus global hingga saat ini adalah masalah stunting. Istilah stunting mungkin masih terdengar tabu di telinga sebagian Masyarakat. Padahal, masalah kesehatan satu ini cukup umum terjadi di Indonesia. Stunting sendiri merupakan keadaan tubuh pendek akibat kekurangan gizi dalam jangka  panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak yang mana kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun). Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, tetapi kondisi stunting baru terlihat setelah bayi berusia 2 tahun.

Berdasarkan laporan dari World Health Organization (WHO)pada tahun 2017, prevalensi stunting di wilayah Asia Tenggara mencapai 25,7 persen. Jika dilihat di Indonesia menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018;, prevalensi stunting mencapai 30,8 persen di mana prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai 42,6 persen dan terendah di DKI Jakarta sebesar 17,7 persen. Bandingkan dengan prevalensi secara global maupun prevalensi di Asia Tenggara, prevalensi stunting di Indonesia tergolong tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan stunting di Indonesia masih menjadi permasalahan serius yang perlu segera dicarikan solusinya.

Mengetahui penyebab Stunting

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada anak. Berdasar faktor gizi, asupan protein yang kurang saat kehamilan serta kekurangan asupan zat besi dan seng menjadi penyebab terjadinya stunting pada anak. Kurangnya pemberian ASI ekslusif juga menjadi penyebab terjadinya stunting. Dari faktor sosiodemografi; rendahnya pengetahuan ibu terkait gizi, tingkat pendidikan ibu yang rendah, serta rendahnya pendapatan keluarga menjadi faktor risiko terjadinya stunting. Berdasarkan hal tersebut, permasalahan stunting pada anak menjadi permasalahan yang kompleks. Oleh sebab itu, upaya pencegahan stunting hendaknya dilakukan secara komprehensif mulai dari sebelum kehamilan, saat hamil, hingga setelah anak lahir

Baca Juga  Pola Hidup Sehat dengan Mendengarkan Alarm Tubuh

Stunting yang telah terjadi bila tidak diimbangi dengan catch-up growth (tumbuh kejar) mengakibatkan menurunnya pertumbuhan. Masalah stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan, kematian, dan hambatan pada pertumbuhan baik motorik maupun mental. Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up growth yang tidak memadai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan optimal. Hal tersebut mengungkapkan bahwa kelompok balita yang lahir dengan berat badan normal dapat mengalami stunting bila pemenuhan kebutuhan selanjutnya tidak terpenuhi dengan baik (Kemenkes 2013). Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun. Stunting memiliki gejala-gejala berikut ini, misalnya:

  • Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
  • Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda atau kecil untuk usianya
  • Berat badan rendah untuk anak seusianya
  • Pertumbuhan tulang tertunda
  • Menurunnya fungsi kognitif pada anak
Mencegah Stunting

Keluarga yang berkualitas menghasilkan generasi sehat. Stunting pada balita terjadi karena unsur terkecil, yaitu keluarga dan lingkungan masyarakat sebagai unsur yang lebih luas. Lingkungan keluarga berpengaruh terhadap asupan makanan, baik pada ibu dan balita. Lingkungan terkecil ini juga menstimulasi munculnya faktor risiko lain yang secara langsung berdampak pada terjadinya stunting, seperti penyakit infeksi dan pola asuh.

Islam secara lugas mengatur konsep makanan halal dan thayyib dalam QS. al-Maidah: 88 yang artinya;  “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya’’. Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar mereka makan rezeki yang halal dan baik. “Halal” di sini mengandung pengertian, halal bendanya dan halal cara memperolehnya.

Baca Juga  Tips Mengatur Porsi Makan Saat Diet

Sedangkan “baik” adalah dari segi kemanfaatannya, yaitu yang mengandung manfaat dan maslahat bagi tubuh, mengandung gizi, vitamin, protein dan sebagainya. Prinsip “halal dan baik” ini hendaknya senantiasa menjadi perhatian dalam menentukan makanan dan minuman yang akan menjadi konsumsi untuk diri sendiri dan untuk keluarga; karena makanan dan minuman itu tidak hanya berpengaruh terhadap jasmani, melainkan juga terhadap rohani.

Oleh karena itu, baiknya melakukan upaya pencegahan sedini mungkin di lingkungan keluarga. Pada usia 1.000 hari pertama kehidupan, dengan cara  meningkatkan asupan nutrisi ibu hamil dengan makan-makanan bergizi. Zat besi dan asam folat adalah kombinasi nutrisi penting yang harus dipenuhi saat hamil untuk mencegah stunting pada saat anak dilahirkan. Selain itu, ibu hamil juga perlu suplemen khusus. Umumnya, tenaga medis akan merekomendasikan suplemen yang mengandung asam folat, yodium, zat besi, kalsium, dan DHA.

Kemudian pada saat bayi telah lahir, dianjurkan untuk mengonsumsi protein yang memiliki peranan penting dalam tubuh di antaranya, untuk membentuk sel  baru, membantu sel pada organ tubuh menjalankan fungsinya dan mengatur pertumbuhan tulang. Contoh sumber protein hewani yang untuk makanan anak meliputi daging, telur, susu, ikan, seafood dan produk hasil olahannya.

Sedangkan sumber protein nabati (tumbuhan) meliputi kedelai, kacang-kacangan dan produk hasil olahannya seperti tempe, tahu, dan susu kedelai, selanjutnya  anak juga butuh mengonsumsi zat besi yang penting untuk menunjang perkembangan otot, otak, sistem kekebalan tubuh, serta mencegah anemia. Misalnya, sumber zat besi hewani badalah hati ayam, daging sapi, dan ikan. Lalu, sumber zat besi lainya adalah dari sayuran hijau seperti bayam dan suplemen zat besi .

Bersamaan dengan upaya pencegahan dari lingkungan keluarga. Saat ini, Pemerintah pun sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan stunting. Mulai dari suplementasi zat besi pada remaja putri, program ASI ekslusif, hingga suplementasi makanan pendamping ASI (MPASI). Namun, faktanya prevalensi stunting di Indonesia masih tetap tinggi.

Baca Juga  Manfaatkan Bumbu Dapur untuk Kesehatan

Oleh karena itu, perlu kerja sama dari berbagai pihak untuk ikut terlibat di dalam gerakan pencegahan stunting. Jika melakukan pencegahan stunting sedini mungkin. Maka masalah stunting yang begitu kompleks  perlahan dapat teratasi untuk generasi masa depan Indonesia yang sehat dan lebih baik.

Bagikan
Comments
  • Elvara

    Terima kasih pencerahannya kak

    November 4, 2021
  • Indira

    Terimakasih Sharingnya kak. Bermanfaat sekali

    November 4, 2021
  • Musthofa

    Keren kak, lanjutkan, ciptakan sejarah dengan menulis

    Februari 7, 2025
Post a Comment