Dilan, Yang Berat itu Puasa, Bukan Rindu
Oleh : Hendra Hari Wahyudi *
Perintah untuk berpuasa sudah jelas di dalam Al Qur’an yakni diperuntukan bagi orang yang beriman, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Maka, kewajiban puasa tersebut bagi orang yang beriman, lalu kenapa masih banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulnya sering kali kita dapati tidak berpuasa (Ramadan) yang bersembunyi di balik tirai warung? Apakah mereka (yang tidak puasa) tidak beriman?
Puasa dan Iman
Dalam hadits yang menjelaskan tentang iman, Islam dan ihsan, Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda,
حَدِيْثُ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النبي ص م بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ : مَاالْاِيْمَانُ؟ قَالَ : الْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنُ بِالله وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلقَائِهِ وَبِرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالبَعْثِ،قَالَ:مَاالْاِسْلاَمُ؟ قَالَ: الْاِسْلاَمُ اَنْ تَعْبُدَاللهَ وَلَاتُشْرِكْ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّـلَاةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ: مَاالْاِحْسَانُ؟ قَالَ : اَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَأِنهُ يَرَاكَ. قَالَ: مَتَى السَّـاعَةُ؟ قَالَ: مَااْلمسْـئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّـائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ اَشْرَاطِهَا، اِذَا وَلَدَتِ الاَمَةُ رَبَّهَا، وَاِذَاَ تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْاِبِلِ الْبَهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لَايَعْلَمُهُنَّ اِلّااللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ ص م اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السّـاعَةِ،الآية. ثُمَّ اَدْبَرَ. فَقَلَ: رُدُّوْهُ، فَلَمْ يَرَوْا شَيْئاً.فَقَلَ: هَذاَ جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ.
Hadits Abu Hurairah ra. Dimana ia berkata : “pada suatu hari Nabi SAW. Berada di tengah-tengah para sahabat, lalu ada seseorang datang kepada beliau lantas bertanya : “Apakah iman itu?”. Beliau menjawab : “Iman adalah kamu percaya kepada Allah dan malaikatNya, percaya dengan adanya pertemuan denganNya, dan dengan adanya rasul-rasulNya, dan kamu percaya dengan adanya hari kebangkitan (setelah mati)”. Ia bertanya : “Apakah Ispadalam itu?”. Beliau menjawab : “Islam yaitu kamu yang menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan ramadan”. Ia bertanya : “Apakah Ihsan itu?”. Beliau menjawab : “kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya, dan jika kamu tidak bisa (seakan-akan) melihatNya maka (beryakinlah) bahwa sesungguhnya Allah melihat kamu”. Ia bertanya : “Kapan hari kiamat itu?”. Beliau menjawab : “Orang yang ditanya tentang hari kiamat itu tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Akan tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya (yaitu)apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, apabila pengembala unta dan ternak berlomba-lomba dalam bangunan; dalam lima hal tidak mengetahuinya kecuali Allah”. Kemudian Nabi SAW. Membaca ayat (yang artinya) : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal”. Orang yang bertanya itu lantas pergi , lalu beliau bersabda : “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka”. (HR Bukhari; Muslim).
Dalam hadits panjang di atas, Rasulullah menyampaikan bahwa “Islam yaitu kamu yang menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan Ramadan”. Maka, menjalankan ibadah puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam.
Jadi jelas, bahwa menjalankan puasa adalah salah satu wujud dari keimanan kita, di mana hukum menjalankan puasa adalah wajib dan kewajiban bagi orang yang beriman untuk melaksanakannya (QS. Al Baqarah: 183). Terkecuali jika memang uzur sesuai hukum syar’i, di mana boleh meninggalkan puasa dengan wajib mengganti di lain hari (QS. Al Baqarah: 185), atau membayar fidyah. Lalu bagi mereka yang mengaku beriman tapi tidak puasa bagaimana? Biar mereka tanyakan pada diri mereka sendiri, dan biar Allah yang menilai.
Yang Lebih Berat dari Rindu itu Puasa
Jika Dilan bilang “Jangan rindu, Berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja“, maka saya (ayahnya Dylan) ingin bilang “Dilan, yang berat itu puasa, bukan rindu,”. Meski benar, rindu kepada orang yang kita sayang itu berat, apalagi di tengah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), physical distancing, social distancing dan himbauan untuk di rumah aja, tapi sebenarnya menjalankan ibadah puasa itu lebih berat daripada rindu. Pun pula tak bermaksud membandingkan puasa dan rindu, karena ini jelas hal yang berbeda. Namun menjalankan puasa bisa dibilang berat, karena puasa tidak hanya tentang tidak makan dan minum, tapi juga menahan amarah dan hawa nafsu, termasuk mungkin menahan rindu, hehehe. Dan ini yang terkadang terasa berat kita lakukan, meski mungkin tidak sampai membatalkan puasa, tapi pastinya mengurangi nilai dan pahala dari puasa kita jika kita tidak bisa menahan amarah ataupun hawa nafsu.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy)
Hanya lapar dan dahaga saja yang kita dapat, jika ketika berpuasa kita masih suka ngomongin aib orang, nyinyir di medsos, berkata atau komentar (di medsos) yang kurang manfaat, atau mungkin berpuasa untuk yang lain (bukan karena Allah). Mungkin hal ini berat, mungkin juga kita nggak (akan) kuat. Hal ini wajar karena kita sebagai manusia mempunyai hawa nafsu ataupun amarah yang kadang tidak bisa kita kendalikan, namun satu-satunya yang bisa menjadi benteng dari itu semua adalah iman kita, sehingga ketika terbesit ingin berlaku atau berucap kurang baik, kita bisa menahan dan ingat kalau kita sedang berpuasa. Maka, kita akan kuat menjalankan ibadah puasa, meski terasa berat dan banyak cobaannya. Dan rindu memang berat, tapi menjalankan ibadah dengan berbagai macam ujiannya pasti lebih berat.
Puasa, Ibadah Privat yang Berat
Godaan selanjutnya mungkin bukan soal makanan atau es yang terlihat segar di siang hari, namun ada lagi ujian yang bisa dibilang cukup berat selain menahan amarah dan hawa nafsu. Yakni ‘mencatat‘ amal baiknya sendiri di media sosial yang seakan tidak ingin ‘merepotkan’ malaikat dalam mencatat, walaupun pastinya malaikat tak akan lupa dalam mencatat setiap amal yang kita perbuat.
Semisal kita memposting di media sosial dengan caption “Habis tadarusan nih gaes!“, atau ibadah lainnya yang terkadang disertai dengan foto sebagai pelengkapnya. Hal ini jika dilihat dari sisi positifnya mungkin bisa menjadi syi’ar, tapi juga bisa menjadi riya’ (pamer).
Ayahanda Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, pernah mengingatkan pada acara Tabligh Akbar Milad 107 Muhammadiyah di Lamongan (15/12/2019), yang kebetulan saya hadir dan menulis isi pidatonya di pwmu.co.
Beliau menyampaikan, “Orang yang shaleh itu tidak perlu menunjukan dirinya shaleh. Ya bagus kalau mau shalat tahajud, tapi nggak usah terlalu sering (update) WhatsApp. Seakan-akan menunjukan dirinya sedang tahajud. Sebenarnya tahajud wilayah paling pribadi. Tapi alasannya ngajak orang supaya bertahajud, ya baik. Tapi, hilangkan rasa untuk memberitahu bahwa saya sedang bertahajud.”.
Terkadang, rasa ingin memberitahu bahwa sedang beribadah itu yang mungkin akan mengurangi bahkan menggugurkan nilai (pahala) ibadah kita. Padahal Allah sudah memperingatkan dalam firmanNya yang berbunyi,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa : 142).
Bukankah ibadah itu privasi, yang tidak untuk dipublikasi? Kadang kita juga merasa ikhlas ketika beramal, tapi juga masih sering kita perlihatkan. Bukan kah yang namanya ikhlas itu tidak perlu diumumkan? Kalau masih diumumkan (di medsos) itu bukan ikhlas, tapi iklan. Nah, kembali ke puasa, puasa adalah ibadah yang paling privat (rahasia), karena yang tau hanya kita dan Allah saja.
Ibadah puasa yang dari tujuannya adalah untuk meningkatkan ketaqwaan tersebut, bisa dibilang ibadah puasa adalah ibadah yang paling rahasia. Dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).
Makanya ibadah puasa adalah ibadah yang paling berat, kita mungkin nggak akan kuat, kecuali bagi yang benar-benar kuat imannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang kuat imannya, sehingga mampu menahan lapar, dahaga, amarah, dan hawa nafsu. Dan semoga pula kita bisa beribadah dengan menahan diri untuk tidak memposting (mempublikasikannya) di media sosial agar kita terhindar dari sifat riya’ (pamer), bukankah menahan diri termasuk salah satu arti puasa? Biarlah malaikat yang mencatat amal ibadah kita, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kita niatkan dan apa yang kita kerjakan. (*)
Wallahu A’lam
*) Hendra Hari Wahyudi : guru, jurnalis, kader Muhammadiyah dan penikmat sepakbola asal Lamongan.

Guru, jurnalis, kader Muhammadiyah dan penikmat sepakbola asal Lamongan.
