f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sabar

Kejutan di Balik Puasa dan Sabar

Mayoritas kita masih sering berkata bahwa ‘sabar ada batasnya’. Sebagai makhluk yang mudah berkeluh kesah (QS. al-Ma’ārij [70]: 19-21) dan penuh kelemahan (QS. al-Nisā` [4]: 28), hal ini wajar terbersit dalam benak kita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sabar memiliki dua arti; tahan menghadap cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu.

Sementara itu, dalam Mu’jam Maqāyīs al-Lughah/3, Ibn Faris menuliskan tiga makna kata yang tersusun dari huruf shād – bā’ – rā’ ini; menahan, sesuatu yang paling atas, dan sejenis bebatuan. Ketiga makna ini jika menjadi perhatian maka kita akan menemukan keterkaitan antara satu dengan yang lain. Sesuatu akan memiliki daya tahan yang bagus jika ia memiliki sifat keras seperti batu. Jika sudah demikian kekuatan dan fungsinya, keberadaannya akan diperhitungkan. Dalam bahasa lain, ia menjadi sesuatu yang paling atas.

Al-shabru yu’īnu kulla ‘amal (sabar membantu setiap pekerjaan). Demikian kurang lebih pepatah Arab berkata. Memang, dengan kesabaran sebuah proses atau usaha yang berat akan terselesaikan. Kesabaran ini bisa muncul melalui banyak hal. Di antaranya adalah kesadaran bahwa yang Allah nilai dari sebuah usaha adalah bagaimana proses demi proses sebuah usaha. Tancapkan dalam benak, bahwa peluh keringat dan keluh pikiran yang dikeluarkan tidak sia-sia (QS. al-Nisā` [4]: 40).

***

Jikalau masih terasa berat, ingatlah bahwa Allah menyiapkan pahala yang tidak terhingga bagi hamba-Nya yang bersabar (QS. al-Zumar [39]: 10). Berbeda dengan pahala membaca al-Qur’an yang per hurufnya bernilai sepuluh kebaikan. Pahala membaca sholawat atas Nabi Muhammad atau kebaikan yang kita kerjakan yang bernilai 10 kali lipat. Jika tiga amal salih ini terlihat jelas nominal pahalanya, bersabar tidak demikian. Pahala yang tersedia untuknya tidak terhingga. Sebuah reward yang sangat prestise.

Baca Juga  Berpuasa Ramadan Saat Meng-ASI-hi, Apa Bisa?

Sisi menarik dari sifat yang kadarnya hanya diketahui oleh pelakunya ini adalah, ia terlibat dalam berbagai aspek kehidupan kita. Baik dalam menghadapi cobaan, melakukan ketaatan, atau bahkan saat berjuang menjauhi kemaksiatan sebagaimana tutur Imam al-Ghazali. Dalam hubungannya dengan yang pertama, sifat sabar penting peranannya. Ia mutlak kita butuhkan agar kehidupan tetap berjalan. Dan inilah yang paling sering teringat dan terucapkan oleh kita manakala mendapat cobaan; ‘yang sabar ya…’. 

Kemudian mengenai hubungannya dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, sifat sabar juga memiliki peran penting. Tanpanya seseorang akan mudah menyerah saat melakukan ketaatan. Membaca al-Qur’an satu juz sekali duduk yang bagi sebagian orang terasa ringan, bagi mereka yang memiliki sedikit kesabaran akan terasa berat. Karena memang demikianlah kebaikan, sekecil apapun akan nampak jelas sisi pahitnya.

Sebaliknya, sekecil apapun kemaksiatan yang menjadi larangan Allah, akan nampak besar sisi nikmatnya. Jika tidak memiliki sifat kendali berupa sabar, kita akan terjerumus ke dalamnya. Saking besar dan pentingnya sifat ini, Allah menyandingkan sabar dengan salat, suatu ibadah yang paling agung. Dalam QS. al-Baqarah [2]: 45 Allah menyuruh kita untuk memohon pertolongan melalui salat dan sabar.

***

“Bulan Ramadan adalah bulan kesabaran”. Kurang lebih demikian ungkapan Nabi dalam sebuah hadis riwayat Imam Baihaki dan Ibnu Khuzaimah dari Sahabat Salman al-Farisi. Ungkapan unik ini juga ternukil dari Mbah Hasyim Asy’ari – pendiri jam’iyyah Nahdatul Ulama – dalam salah satu karyanya yang berjudul Audlah al-Bayān fī mā Yata’allaqu bi Wazhā`if Ramadlān.

Sesuai dengan maknanya, puasa memang membutuhkan kesabaran yang ekstra. Ia membuat sesuatu yang mubah – makan, minum, dan menggauli istri – menjadi sebuah pantangan. Menjauhi sesuatu yang haram merupakan hal yang wajar. Tapi jika yang harus dijauhi adalah sesuatu yang pada dasarnya mubah dan bahkan mengandung manfaat atau kenikmatan, ini menjadi tantangan tersendiri.

Baca Juga  Makna Ibadah Haji dalam kehidupan

Saat Bulan Ramadan, puasa bukanlah sesuatu yang berat mengingat posisinya yang berstatus wajib dan mengikat. Mau tidak mau seseorang harus melaksanakannya. Lain halnya jika hal ini disangkutkan dengan puasa sunnah yang sifatnya sukarela dan tidak mengingat. Seseorang bisa memilih antara melaksanakan atau meninggalkannya. Banyak sekali jenis puasa sunnah yang tersebut dalam Kitab al-Mausū’ah al-Fiqhiyyah jilid 28.

Ada puasa ‘āsyūrā`, puasa ‘arafah, puasa Senin-Kamis, puasa ayyām bīdl, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa bulan Rajab, puasa bulan Sya’ban, dan lainnya. Pada bulan syawal ini paling tidak ada empat jenis puasa sunnah yang bisa dikerjakan seseorang. Ada puasa syawal enam hari yang pelaksanaannya tidak harus berurutan, puasa Senin Kamis, puasa dawud, dan puasa ayyām bīdl (tanggal 13,14,15).

***

Di siang hari, mereka yang saat ini menjalankan puasa sunnah harus bersabar menahan diri dari sesuatu yang sifatnya mubah semisal makan, minum, dan berhubungan suami istri. Selain statusnya yang mubah, orang sekitar yang makan minum karena tidak tahu kalau ada yang berpuasa juga turut memperberat. Belum lagi, kondisi cuaca yang kian hari semakin panas, pekerjaan yang menguras tenaga dan keringat.

Dari sini, puasa menjadi satu ibadah tersendiri yang lihai dalam melatih kesabaran. Baik dari sisi menjalankan ketatan, menjauhi larangan, maupun menghadapi cobaan (baca: kondisi cuaca dan resiko pekerjaan). Sehingga tidak mengherankan jika dalam sebuah hadis qudsi Allah menegaskan bahwa puasa adalah untukku dan Aku-lah yang akan memberikan (menyerahkan) pahalanya. (HR. Imam Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah). Tidak hanya puasa wajib tapi juga puasa sunnah. Wallāhu a’lam..

Bagikan
Post a Comment