Duka Palestina, Dunia Jangan Sekadar Gimik
Sungguh mengejutkan, di tengah bulan Ramadhan yang penuh berkah bagi umat Islam dunia hingga menjelang hari kemenangan yaitu Idul Fitri. Eskalasi konflik Israel- Palestina kembali memuncak. Serangan kaum zionis Israel terhadap warga yang tengah beribadah di kompleks Masjid Al-aqsa berlangsung brutal. Bentrokan terjadi menjelang Pawai Bendera Hari Yerusalem oleh kalangan nasionalis Yahudi sebagai peringatan perebutan Israel atas Yerusalem Timur.
Kaum zionis malakukan penggusuran dan pengusiran paksa atas 36 keluarga Palestina di wilayah Syeikh Jarrah. Sebuah kawasan rumah bagi kota tua dan situs-situs suci dalam perang pada tahun 1967. Dan juga area perumahan warga Palestina yang terancam terakuisisi oleh pengadilan Israel.
Kondisi ini tentu membuat rakyat Palestina tidak tinggal diam. Upaya protes serta menggalang kekuatan atas ancaman penggusuran dilakukan oleh warga sebagai bentuk solidaritas. Pasalnya, jika Yerusalem Timur terakuisisi maka penggusuran akan semakin merambah ke wilayah lain. Lebih mengejutkan lagi, PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan merespons hal itu “dengan kekerasan”.
Padahal dalam resolusi Dewan Keamanan PBB, hukum humaniter internasional, dan khususnya Konvensi Jenewa IV tahun 1949, bahwa pengusiran paksa dan tindakan kekerasan tersebut berpotensi menyebabkan ketegangan dan instabilitas di kawasan. Rivalitas konflik berakibat fatal menyebabkan lebih dari 65 orang terluka dan menewaskan setidaknya 20 warga sipil termasuk 9 anak-anak akibat dari bentrokan antara warga Palestina dengan kepolisian. Rakyat Palestina mendapat tembakan peluru karet, gas air mata, dan granat, hingga merembet ke dalam masjid.
Sekedar Gimik Belaka
Konflik Palestina-Israel memang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Hingga semacam, masyarakat global merasa biasa saja menyaksikan korban jiwa yang berjatuhan, ledakan bom yang tiada henti, dentuman senjata, lumuran darah berserakkan di Jalur Gaza.
Sebuah pertanyaan, lantas pantaskah kita menyebutkan dunia saat ini kehabisan ide untuk resolusi konflik Israel-Palestina? Komunitas internasional telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan antara Israel-Palestina tersebut. Perjanjian bilateral, multilateral, menyelenggarakan forum-forum internasional bertajuk penyelesaian konflik Israel-Palestina pun telah berlangsung.
Namun yang kita ketemui hanya gimik berupa pernyataan kecaman dan seruan. Dunia, komunitas internasional bahkan negara-negara dengan mayoritas umat Islam juga nampaknya hanya mengeluarkan jargon-jargon seperti “mengutuk Israel”, “Pray for Al-Aqsa”, “stand for Palestina”, “We are Palestina” dan sebagainya. Seperti tidak ada resolusi paling kongkret dalam menyelesaikan konflik.
Di sisi lain, eksistensi organisasi Islam dunia yang lahir sebagai respons atas ulah zionisme Israel pun patut kita pertanyakan. Kita tahu bersama, kumpulan organisasi Islam antarbangsa yang terdiri dari puluhan negara islam telah terbentuk. Misalnya, Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang pada prinsipnya sebagai ikhtiar untuk melindungi tempat-tempat suci umat Islam, menghapus diskriminasi dan kolonialisme. Dan hampir setiap tahun dalam konferensi tingkat tinggi OKI, wacana penyelesaian konflik Israel-Palestina selalu menjadi agenda utama.
***
Bahkan ironisnya lagi, perselisihan antara anggota OKI juga sering terjadi. Masing-masing negara anggota OKI nampaknya terbelenggu dan cenderung mementingkan kepentingan nasional daripada komitmen dan kemitraan pada penyelesaian konflik. Sisi lain, yang menjadi penghambat adalah hubungan erat negara anggota dengan AS dan Israel.
Benar, konflik Israel- Palestina sangatlah kompleks. Ada yang berpendapat bahwa terdapat banyak pihak yang terlibat sehingga konflik sulit terselesaikan. Mulai dari negara-negara jazirah Arab sendiri hingga negara super power yang memiliki hak veto di DK PBB. Belakangan mengemuka adalah dukungan Amerika Serikat pada Israel yang tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, politik, dan intelejen saja. Namun juga pada bidang militer. Semua telah dijelaskan panjang lebar oleh para pakar. Yang terpenting saat ini adalah kepentingan kolektif untuk menyelesaikan konflik.
Yang terbaru sebagaimana menyeruak mewarnai lini masa media, telah berlangsung pertemuan tertutup DK PBB atas permintaan Tunisia, Norwegia dan Tiongkok dalam tempo tiga hari (10/5). Hasil pertemuan tersebut berisi seruan mereka apda Israel untuk menghentikan aktivitas perluasan permukiman serta penggusuran dan pengusiran warga Palestina, termasuk di Jerusalem Timur. DK PBB juga mengungkapkan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di tepi Barat dan Jerusalem Timur. Sekjen PBB, Antonio Guterres menyatakan, “Aparat keamanan Israel harus bisa menahan diri dan mengkaliberasi ulang penggunaan kekerasan yang mereka lakukan”. Namun hasil pertemuan tersebut tidak dirilis.
***
Semua upaya itu sama sekali belum berdapak signifikan. Hasilnya sama, konflik berlangsung tiada henti. Menyedihkan lagi, kekerasan atas warga Palestina berlangsung selama Ramadhan dan menjelang hari kemenangan (Idul Fitri). Kiranya Israel harus mengentikan kekerasan, penggusuran Palestina, dan menghormati hukum internasional.
Kita tentunya sangat berharap bahwa seluruh masyarakat global, DK PBB, serta komunitas internasional manapun harus bersikap kongkret atas kekerasan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhamadiyah Malang. Aktif sebagai anggota di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang Komisariat FISIP UMM.
