f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
siyar

Dea, Anakku

Hariku selalu hampa. Semenjak kepergian mantan suami membawa Dea, anakku. Ah, andaikan boleh memilih, aku tak ingin mengingat, jika pernah menjalin asmara dengan laki-laki itu. Bagaimana tidak? Orang yang dahulu mengatakan sangat menyayangi keluarga itu tega memisahkan ibu dan anaknya.

Satu hal yang tak pernah sesal kala mengenal mantan suamiku adalah hadirnya Dea, putri kecilku. Namun, kini kehidupan terasa buram, pikiran pun runyam. Tak ada siapapun di sisiku. Aku sendiri. Sepi.

“Mas, hari ini ulang tahunku, aku ingin bertemu Dea.”

“Ku mohon, Mas … izinkan Dea bertemu dengan ibunya.”

“Tolong biarkan kami bertemu, Mas … kumohon.”

Kesekian kalinya aku mengemis kepada Mas Devran, mantan suamiku. Yakin tak ada jawaban. Gawai aku letakan sembarangan. Berusaha terpejam sampai ke alam bawah sadar. Berharap mimpi itu membawaku bertemu Dea.

‘drret’

Gawaiku bergetar, pertanda ada pesan masuk.

“K esini lah besok pagi, tunggu saja di depan pintu rumahku” Balasan Pesan dari mas Devran membuat tak sabar menanti esok pagi.

“Iya, terima kasih, Mas”

Tak lupa aku ucapkan terima kasih kepada mantan suamiku, meskipun sebenarnya ada rasa tidak rela, seharusnya dia yang minta maaf kepadaku, tak perlu aku berterima kasih kepadanya. Ah, sudahlah cukup meminta belas kasihan darinya. Besok akan aku bawa Dea kembali ke pelukanku.

*

Seperti yang dijanjikan Mas Devran, aku sudah berada di depan pintu rumah besar miliknya. Tepat jam enam pagi.

‘Tok … tok … tok …’

Aku mengetuk pintu, tapi nihil. Tak ada jawaban dari sang pemilik rumah. Apa aku diperdaya lagi olehnya?

Dea … anakku … ibu rindu ….

Pintu terbuka perlahan demi perlahan, malaikat kecilku tersenyum di baliknya. Tak mampu mengeluarkan kata, aku langsung memeluknya. Usianya baru menginjak enam tahun, tapi putriku sudah dituntut untuk menjadi wanita dewasa. Ini pertemuan pertamaku dengan Dea, setelah Mas Devran merebut paksa gadis kecil ini, delapan bulan yang lalu.

Baca Juga  Pekan Pertama Adam Belajar Puasa

“Maafkan ibu, ya, Sayang.” Air mata yang tadi aku perintahkan untuk tidak keluar, akhirnya tak mampu dibendung lagi.

“Ibu jangan nangis … Ibu nggak perlu minta maaf … Ibu nggak salah ko ….” Dea mencium kedua pipiku, sebelumnya dia hapus genangan air mata yang membasahi wajah.

Aku memeluk erat Dea dalam pelukan, tak ingin kembali berpisah dengannya.

“Aduh, sakit Bu.” Dea meringis kesakitan. Ternyata pelukanku mengenai luka lebam di badannya.

“Sayang, kamu nggak papa kan?”

Dea mengangguk lemah. Segera aku gendong tubuh mungilnya. Berniat mencari bantuan medis, tapi pintu gerbang rumah Mas Devran terkunci gembok.

“Mau ke mana kamu wanita jalang?!” Tiba-tiba saja Mas Devran berada di belakangku.

“Harusnya aku yang nanya, kamu apakan Dea, hah?” tanyaku sinis.

“Dasar gila! Siapa suruh kamu ke Pengadilan Agama?!” bentak Mas Devran. Ia menarik jilbab panjangku. Tenaganya yang sangat kuat membuat diri ini terjatuh bersama Dea dalam pelukan.

“Dea, kamu anak ibu … dan kamu adalah anak yang kuat,” bisikku di telinga Dea. Ia hanya mengangguk pasrah.

*

Satu bulan berlalu semenjak kejadian di ulang tahunku. Aku tak ingat apapun setelah terjatuh bersama Dea dalam pelukan. Entah apa yang sudah dilakukan Mas Devran. Setelah membuka mata, aku sudah berada di dalam kamar rawat inap.

Sampai saat ini Mas Devran tak kunjung memberikan izin untukku bertemu dengan Dea, anakku. Pernikahan di usia dini bagiku hanya manis di awal saja. Kata cinta pun menguap bersamaan dengan KDRT yang membelengguku. Ternyata lima tahun pacaran bukan waktu yang cukup untuk saling mengenal pasangan.

Aku berdiri mematung di hadapan jendela. Hujan disertai kilatan petir, menyadarkan lamunan. Cepat sekali gerimis itu bertransformasi menjadi hujan lebat. Kupejamkan mata penat setelah seharian bekerja.  Wajah Dea anakku, tak pernah hilang terlintas dalam bayangan.

Baca Juga  Berbohong dengan Kebersihan

“Selamat malam, Bu Daniar, saya dari kepolisian hanya ingin memberi kabar bahwa anak anda sekarang ada di rumah sakit, dia terjatuh dari lantai empat, sekarang kondisinya kritis.”

“Ini hanya gurauan kan, Pak?”  Tanyaku datar. Aku tak ambil pusing, bisa jadi ini hanya skandal penipuan yang memang sudah marak meracuni masyarakat.

“Silahkan Ibu menghubungi pihak kepolisian Lowokwaru untuk keterangan lebih lanjut,” ucap pria tak dikenal itu dan tanpa salam ia langsung menutup telepon.

Beruntunglah aku mempunyai seorang teman yang bekerja sebagai polisi di Polsek Lowokwaru. Meskipun tak percaya dengan perkataan pria tadi, aku tetap harus meyakinkan bahwa Dea anak semata wayangku baik-baik saja.

“Hallo.” Suara dari serbang telepon membuyarkan lamunanku tentang Dea.

 “A-aku Daniar,” ucapku terbata.

“Iya tau, nomor kontakmu udah aku simpan. Ada apa nelpon malam-malam?”

“Tolong cari nama Dea di Polsek Lowokwaru, tadi ada yang ngaku dari kepolisian nelpon. Katanya Dea jatuh dari lantai empat, sekarang kondisinya kritis.”

“Oh iya, sebentar.”

*

Harap-harap cemas aku menunggu kabar. Mondar-mandir berjalan di depan kasur yang belum sempat aku tiduri.

“Nggak ada, laporan atas nama Dea hari ini.”

“Syukurlah, terima kasih.” Aku tutup sambungan telepon setelah mengucapkan salam. Lega. Ternyata benar dugaanku. Hanya berita bohong. Ah, ada saja manusia iseng seperti itu di muka bumi ini.

Akhirnya, aku bisa merebahkan tubuh di atas kasur dengan tenang. Rasa cemas yang menyelimuti hati hilang, menguap.

‘Drett … drett … drett …’

Gawaiku bergetar. Ada panggilan masuk. Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan bisa tidur pulas malam ini.

“Hallo, selamat malam Daniar, maaf … barusan ada laporan, Dea memang terjatuh dari lantai empat apartemen milik ayahnya.”

Baca Juga  Bola Kesayangan Galang

“Di mana sekarang anakku?” Lidah ini terasa kelu. Air mataku rasanya mampu menyaingi derasnya hujan.

“Dia sekarang ada di rumah sakit, tapi sekarang Dea telah tiada.”

…

Aku tak lagi mampu berkata. Mobil segera melesat menuju rumah sakit. Gila. Aku merasa benar-benar sudah kehilanganmu akal. Tak peduli licinnya jalan raya, mobil tetap melesat dengan cepat.

*

Aku memberanikan diri memasuki ruangan jenazah. Membuka kain penutup tubuh tak bernyawa. Benar … Dea … anakku terbujur kaku. Aku rebahkan tubuhku di sisinya, memeluk tubuh mungilnya. Menangis sejadi-jadinya. Kehilangan akal. Kupukuli badan ini. Berharap semua yang terjadi hanya mimpi. Namun, percuma. Hanya sia-sia. Dea benar-benar sudah meninggal dunia. Ah, untuk apalagi aku hidup?

“Dea, maafkan ibu ya, tak bisa menjagamu,” bisikku di telinga mayat Dea.

Kabarnya berulang kali aku tak sadarkan diri. Ya, memang aku sekarang tak lagi mampu membedakan antara kenyataan dan hayalan. Bolehkah memilih untuk tidak terlahir di dunia ini? Sayangnya pilihan itu tidak ada. Dea pun tak dapat memilih seorang ayah maupun meminta seorang ibu mana yang akan melahirkannya. Nyatanya aku saja yang terlampau bodoh mau menikah dengan Mas Devran.

Kini pria keji itu berada tepat di hadapanku. Aku dengannya memang sudah sepakat menandatangani surat persetujuan, supaya Dea bisa lekas dikebumikan.

“Ini terakhir kalinya aku melihat wajahmu, enyah kau … Pergi dari sini!” teriakku tertahan. Hawa panas menyelimuti seluruh dada. Bertatap muka dengan mantan suamiku membuat hati semakin remuk.

“Sabarlah Daniar, kau tak sendirian. Ada Allah.” Aku berusaha menguatkan diri ini. Istighfar dan do’a untuk Dea tak kunjung henti kugaungkan. Di sini aku belajar menerima. Mungkin ini yang terbaik untuk Dea.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment