f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mendidik anak

Belajar dari Kesalahan dalam Mendidik Anak

Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang lemah dan selalu melakukan kesalahan. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah, Rasulullah Saw bersabda “Setiap anak keturunan adam itu melakukan kesalahan dan sebaik-sebaik yang bersalah adalah mereka yang seantiasa bertaubat”.

Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang mempunyai potensi untuk belajar; sehingga ketika manusia melakukan kesalahan hendaknya ia menyadari kesalahannya, memohon ampunan, berusaha untuk memperbaikinya dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

Anak adalah amanat yang Allah berikan kepada orang tua dan akan diminta pertanggungjawaban atasnya. Melalaikan amanat merupakan sikap khianat dan kesalahan dalam beragama. Ketika orang tua berbuat baik pada anak dan berusungguh-sungguh mendidik mereka adalah bentuk pelaksaan suatu amanat. Mempelajari bagaimana cara mendidik anak yang sesuai dengan pola asuh Islam dapat menjaga amanat yang telah Allah berikan dengan baik.

Para ulama selain memberikan arahan dan nasehat juga memberikan peringatan-peringatan dari kesalahan dan keburukan. Dengan mengetahui apa saja bentuk-bentuk kesalahan, kejelekkan dan keburukan, kita dapat mengetahui apa saja hal-hal yang seharusnya kita hindari. Oleh karena itu, berikut kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak yang perlu kita dihindari.

Pertama, Mendidik Anak Tanpa Ilmu

Pendidikan itu adalah ibadah. Dan suatu ibadah tidak akan baik hasilnya, tidak akan lurus caranya dan mendapat rida Allah Swt tanpa dasar ilmu. Dalam mengamalkan suatu ibadah harus mengetahui jalan, metode dan ilmunya. Begitu juga dengan orang tua yang mendidik anaknya, harus tahu jelas tujuan, metode dan ilmunya.

Sebagimana seorang petani, mereka tahu struktur tanah dan bagaimana cara merawat tanaman yang mereka tanam agar dapat tumbuh subur. Hal ini tidak dapat petani lakukan tanpa tahu ilmu dan metodenya.

Baca Juga  Pola Asuh Keliru: Orang Tua Selalu Benar
Kedua, Tidak Pernah Berdoa Memohon Keturunan yang Shalih

Manusia sebagai makhluk yang lemah, selalu melakukan kesalahan dan hanya Allah yang dapat memberikan pertolongan, karunia, hidayah, serta taufik-Nya. Sehingga menjadikan manusia sebagai makhluk yang selalu membutuhkan Allah.

Usaha manusia sebagai mahkhuk yang lemah adalah dengan memohon dan berumunajat  kepada Allah agar memperoleh keturunan yang shalih dan shalihah. Karena doa merupakan faktor tertinggi demi mencapai keturunan yang shalih.

Ketiga, Tidak Memilih Pasangan yang Shalih

Adab mendidik anak dan hak anak adalah dengan memberikan anak sosok ayah/ibu yang shalih. Seorang istri yang shalihah akan menjadi menjadi ustadzah dan murobbiyah untuk anak-anaknya. Seorang lelaki yang shalih sebagai kepala sekolah dalam sekolah kecilnya akan membawa rumah tangga tersebut ke arah mana apakah bertujuan untuk mencapai rida Allah atau sebaliknya.

Keempat, Tidak Memberikan Nama yang Baik pada Anak

Memberikan nama yang baik merupakan hak anak yang harus ditunaikan. Dalam kitab berjudul Zadul Ma’ad oleh Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah ‘nama itu memberikan pengaruh terhadap yang diberikan nama dan sesuatu yang diberikan nama itu juga dipengaruhi oleh namanya baik atau buruk’.

Oleh karena itu, berikanlah anak nama-nama yang mempunyai arti yang baik, nama-nama yang Allah cintai. Seperti Abdullah, Abdurrahman dan nama-nama para sahabat/sahabiyah. Hindarkanlah nama-nama orang kafir dan nama-nama yang berasal dari bahasa-bahasa yang tidak diketahui artinya.

Kelima, Tidak Mengajarkan Anak Aqidah dan Iman yang Shahih

Terdapat dalam penggalan hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah Saw bersabda “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan salat ketika mereka berumur tujuh tahun…”.

Menurut ustaz Abu Salma Muhammad, hukum perintah hadis tersebut wajib untuk orang tua. Maka ketika anak masih berusia di bawah tujuan tahun, orang tua harus membangun hati dan jiwa anak terlebih dahulu, sehingga nantinya anak dapat beribadah dengan penuh kesungguhan.

Baca Juga  Keluarga: Madrasah Pertama dan Utama bagi Anak

Ajarkan aqidah yang shahih walaupun mereka masih kecil karena dengan belajar aqidah akan menumbuhkan fitrah anak yang sesungguhnya. Terpeliharanya fitrah anak yaitu dengan wahyu Al-Qur’an dan Sunnah, dengan terjaganya fitrah dapat menumbuhkan dan menguatkan pondasi anak ketika telah dewasa.

Keenam, Tidak Mengajarkan Anak Adab

Dengan adab, anak akan memahami ilmu. Pengajaran adab itu bukan berarti harus dengan cara paksaan. Para orang tua harus teliti dan analisis terkait bagiamana pendekatan yang terhadap anaknya; dan bagaimana agar anak-anak itu senang belajar adab karena telah tumbuh rasa cinta mereka kepada Allah.

Oleh karena itu, ketika mengajarkan adab pada anak ajarakanlah dengan lemah lembut, mencontohkannya. mengamalkannya, mengulang-ulang dan terus menerus agar membangun keistiqomaan kepada anak, berdoa kepada Allah serta bersabar atasnya.

Ketujuh, Tidak Hikmah dalam Mendidik Anak

Menurut Syaikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah hikmah berarti mengharuskan kita melakukan sesuatu yang benar. Sebelum melakukan sesuatu harus mengetahui terlebih dahulu apakah itu adalah sesuatu yang benar atau tidak, mengetahui ilmunya, melakukannya dengan metode yang benar dan waktu yang tepat orang yang kita didik. Dalam mendidik anak selain mengetahui ilmunya dan metodenya juga harus mengetahui waktu. Pelaksanaan hikmah ini dilakukan dengan ilmu, namun dengan ilmu belum tentu menjadikan seseorang itu hikmah, sehingga kita juga harus memiliki hilmu yaitu kesantunan dan kelemahlembutan.

Kedelapan, Mendidik Anak dengan Tergesa-gesa

Menurut Imam Al-Bhaidhawi tarbiyah itu mengantarkan sesuatu dengan tahapan demi tahapan sampai pada optimalnya. Imam Al-Raqghib Al-Asfahani juga mengatakan tarbiyah itu adalah mengantarkan sesuatu sampai pada kesempurnaannya dengan sedikit-sedikit.

Terdapat tahapan-tahapan yang seringkali dilupakan oleh orangtua padahal sesungguhnya Allah Swt itu melihat proses dibandingkan hasilnya, sedangkan orang tua lebih mengutamakan hasil dibandingkan dengan prosesnya.

Baca Juga  Mengenang Bapakku
Kesembilan, Tidak Lemah Lembut dan Santun dalam Mendidik Anak

Orang tua terkadang tidak santun dan lemah lembut ketika mendidik anak-anaknya, padahal hal tersebut akan menjauhkan anak dari diri mereka. Mendidik anak dengan kasar justru yang dicontoh oleh anak adalah sikap-sikap kasar orangtuanya. Akhrinya, orang tua bukannya mendapatkan kebaikan pada anaknya. Namun, anak malah menyerap keburukan-keburukan orangtuanya.

…

Demikianlah, kesalahan-kesalahan yang perlu kita hindari dalam mendidik anak yang telah dipaparkan. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan rahmat, karunia, hidayah, serta taufik-Nya kepada kita semua. Sehingga kita dapat terus belajar memperbaiki diri; menjadikan kita sebagai pribadi yang cerdas wawas diri; memberikan ampunan atas setiap kesalahan yang telah kita lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja serta menjadikan anak dan keturunan kita termasuk kedalam orang-orang yang shalih dan shalihah.

Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Bagikan
Post a Comment