Apakah Salah Membaca Buku Self Improvement?
Kebanyakan orang berusaha untuk meningkatkan kualitas diri dengan membeli produk-produk pengembangan diri atau ‘self-improvement’. Menurut Forbes, 94% generasi milenial paham pentingnya self-improvement. Mereka bahkan rela menghabiskan uang atau menginvestasikannya demi membeli produk self-improvement supaya membantu menjadi pribadi yang lebih baik.
Buku, salah satu produknya. Self-improvement masuk genre buku yang populer dan laris terjual di beberapa toko buku. Tidak sedikit orang merasa terbantu dengan buku ini, jadi lebih produktif misalnya. Namun, ada yang berasumsi kalau buku self-improvement ‘sampah’. Apakah itu benar? Dampak negatifnya apa sih kok sampai dibilang ‘sampah’ ?
Sisi Negatif Buku Self-improvement
Saya setuju kalau buku self-improvement itu ’sampah’, dengan syarat dalam beberapa kondisi. Misal, semata-mata ikutan trend, bukannya sesuai kebutuhan. Ada beberapa orang yang beli buku cuma untuk memenuhi kebutuhan instastory. Cuma sekadar unggah quotes motivasi, nampak sudah ber-progres, tapi aslinya tidak melakukan apa-apa yang mendukung perkembangannya alias omong kosong belaka. Bagi saya, tidak ada salahnya lho membaca buku ini (asal menggunakannya dengan bijak).
Ibarat pisau bermata dua, buku-buku ini bisa sangat membantu menyelesaikan permasalahan kita dan memberikan solusi nyata. Namun, akan menjadi masalah kalau kita telanjur banyak membaca buku tersebut tanpa menerapkannya hingga akhirnya hanya menjadi placebo effect alias sugesti kalau produk ini bisa berefek pada diri kita.
Membaca buku self-improvement juga dapat menyebabkan Ilussion of Progress. Di mana, seseorang merasa seolah-olah telah berproses dan berkembang, realitanya tidak melakukan apapun yang mengembangkan potensi mereka. Mengapa? Saat membaca buku self-improvement, otak kita melepas zat kimia alami bernama dopamine yang membuat kita merasa bahagia dan lebih baik.
Dapat terpancingnya dopamine karena dalam buku itu mengandung kata-kata motivasional yang mampu memacu semangat dan kepercayaan kita. Dopamine ini juga yang membuat kita ketagihan membaca buku self-improvement.
Lalu, bagaimana bisa timbul ilusi telah berubah jadi lebih baik? Ilusi ini timbul akibat adanya dopamine seeking behaviour, saat kita suka dengan self-improvement mulai ketagihan dan merasa mendapat reward dari kalimat yang mendukung kita. Seakan-akan kita telah mendapat imbalan dari melakukan sesuatu yang besar.
Masalah Lain Buku Self-improvement: Sudah Banyak Baca Bukunya, Tapi Kok Tetep Nggak Berubah, Ya?
Dilansir dari kanal YouTube Satu Persen, seseorang dianggap berhasil berubah apabila telah melalui enam tahapan dari konsep ‘The Stages of Change Model’ yang diperkenalkan oleh Prochaska dan DiClemente pada akhir 1970 untuk metode psikoterapi. Teori ini menggambarkan berhasilnya seseorang mengadopsi suatu perilaku setelah melalui enam tahapan: pra kontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, dan relapse (kambuh). Membeli buku-buku self-improvement artinya berada di tahap persiapan saja.
Buku sebatas memberikan informasi kepada kita; belum sampai pada tahap merealisasikan informasi. Ketimbang persiapan, aksi tak kalah pentingnya. Kita perlu aksi jika ingin ada perubahan dalam diri kita. Misal, ada orang ingin sukses. Belilah ia buku How to Build Succesful Habits. Dalamnya, dijelaskan ada sepuluh cara untuk membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik untuk hidup sukses.
Namun, jangan berhenti sampai membaca saja. Segera terapkan cara-caranya serta imbangi dengan kerja keras. Buku hanya sebagai sumber motivasi dan salah satu pendukung kesuksesan. Masih ada hal lain yang menunjang kesuksesan seperti usaha dan privilige.
Cara Memilih Buku Self-Improvement
Meski buku-buku self-improvement ada sisi negatifnya, bukan berarti semua buku berlabel self-improvement harus kita hindari. Dikutip dari psychologytoday.com, Susan Krauss Whitbourne, Ph.D, mengungkap beberapa cara untuk memilih buku self-improvement yang tepat.
Pertama, lihat latar belakang penulisnya terlebih dahulu. Periksalah penulis buku yang akan kamu beli itu sudah teruji atau belum pengetahuannya. Kemudian berpengalaman nggak pada topik pembahasan yang ada di bukunya? Misalnya penulis merupakan seorang profesor di bidang psikologi atau disiplin ilmu lain yang ada keterkaitannya, maka akan lebih disarankan memilih buku tersebut.
Kedua, periksa tahun penerbitan. Karena pengetahuan berkembang, buku juga bisa kadaluarsa. Semakin baru tahun terbitnya, maka semakin direkomendasikan.
Ketiga, pandanglah buku sebagai terapis. Idealnya penulisan buku self-improvement adalah yang berdasarkan prinsip terapi yang profesional. Jadi, nggak dibuat asal-asalan. Buku self-improvement semakin baik, jika pembahasannya relate dan mudah Rahmania pahami.
Keempat, perhatikan kualitas penulisan bukunya. Hindari buku yang membahas hal-hal yang sudah diketahui banyak orang. Kalimat yang berbunyi “Kalau kamu ingin menjadi lebih baik, kamu harus berusaha sungguh-sungguh” adalah contoh hal yang jelas dan semua orang mengetahuinya. Kamu bisa lihat beberapa review buku self-improvement di google ataupun media sosial untuk cari tahu gaya penulisan bukunya.
Kelima, pikirkan matang-matang buku itu bisa membantu memotivasi untuk berubah atau tidak. Sekiranya, yakinkanlah dulu dirimu apakah bisa mempercayai nasihat dan rekomendasi dalam buku itu. Tidak ada gunanya kalau kita sudah ragu bahkan meremehkan topik atau penulisnya dari awal.
Terakhir, berpikir kritis saat membaca. Artinya jangan telan mentah-mentah isi buku yang kamu baca. Tidak peduli seberapa laku terjualnya di toko-toko buku, kalau menurut Rahmania kurang cocok, ya nggak usah diterapin.
Intinya, buku hanyalah sebagai sumber informasi. Baik atau tidaknya buku self improvement itu tergantung penggunanya. Di samping bisa membantu menyelesaikan permasalahan, buku-buku itu dapat menjadi bumerang kalau tidak disertai dengan aksi. Kecanduan membaca buku self-improvement juga tidak baik, yang baik adalah memilih bacaan secukupnya sesuai kebutuhan pengembangan diri kita.
Arini Khimaya Alaa’ atau bisa kamu panggil Maya.
Sedang menempuh studi S1 Psikologi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Instagram @khimaya.a

Imaji
Tetap semangat, terus menulis dan menulis untuk melatih menjadi bijaksana