Feby Putri, Penyanyi Cover yang Naik Kelas
Oleh: Muhammad Fathi Djunaedy*
Semenjak pandemi corona, mengharuskan kita beraktifitas di rumah aja. Saya merasa jauh dari rumah ke dua saya yaitu kedai kopi. Saya kangen betul bercengkarama dan ngopi bersama kawan-kawan seperghibahan. Jikalau kata Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Nah, kesempatan untuk ngopi juga salah satu kemewahan itu, bukan yang terakhir, mungkin urutan ke 23. Bebaslah, mau urutan berapa.
Ngopi di kedai kopi biasanya ditemani dengan alunan musik folk dari band-band indie macam Fourtwenty, Stars and Rabbit atau solois Pamungkas, yang diputar oleh pihak kedai. Tak absen juga lagu-lagu coveran. Satu yang jadi favorit saya adalah lagu coveran yang dibawakan oleh Feby Putri.
Suara Feby itu nyaman banget di kuping, merdu dan otentik. Suara yang kalau ikut audisi ajang pencarian X Factor, sudah pasti dapat komentar klise dari juri. “Suara kamu tuh berkarakter banget, tanpa kita liat kamu nyanyi, kita udah tahu, pasti itu suara kamu”. Tipe pita suara yang jarang berinteraksi dengan gorengan dan sambel bawang di pecel lele.
Suara Feby inipun qiroahable, terdengar enak untuk baca Al Qur’an. Kalau di kampus, Feby sudah pasti langganan ikut lomba MTQ, juga kalau ada acara seminar, bakal jadi pengisi hiburan nyanyi merangkap pembaca kalam ilahi. Pokoknya Feby andalanku.
Berawal dari Instagram Lalu Meledak di Youtube.
Lahir tepat pada dua dekade yang lalu, 5 Februari 2000 di Kota Makassar, dengan nama lengkap Feby Putri Nilam Cahyani. Feby saat ini sedang melanjutkan studi S1-nya di Kota Jakarta. Dalam sebuah wawancara di youtube, ia berujar bahwa awal mula mengcover lagu sejak di bangku SMP, sekira tahun 2014, dan diupload di instagram, masih dengan durasi 15 detik. Tapi tidak terlalu aktif pada masa itu.
Mulai gencar saat masuk SMA, ia mendapat atensi besar dari netizen saat mengcover lagu “Ramadhan Kareem” dengan nada lagu “Love Yourself” milik Justin Bieber. Kalau tidak salah di tahun 2016. Benar-benar berkah ramadhan, follower instagramnya yang awalnya hanya ratusan, kemudian melonjak ke puluhan ribu, ratusan ribu hingga kini menyentuh angka 2,2 juta.
Memang buah dari konsistensinya, karena semenjak mengcover lagu ramadhan kareem, ia semakin rajin mengupload coveran lagu di akun instagramnya, beberapa yang mencuri perhatian dan viral adalah saat mengcover lagunya Armada yang berjudul “Harusnya Aku” dan beberapa lagu hits milik bung Fiersa Besari.
Setelah menuai buah yang manis di instagram, dan mendapat label selebgram. Feby lalu merambah ke youtube, membuat channelnya sendiri pada awal tahun 2019. Meskipun sebelumnya dia memang sudah sering muncul di youtube, berkolaborasi dengan penyanyi cover lainnya, atau video-videonya yang di instagram, diupload oleh orang lain.
Channel youtube dengan brand Feby Putri itu, kini sudah mengklaim subscriber sebanyak 2,27 juta. Lagu-lagu yang dicover juga selalu enak dengan konsep khas, ia memetik ukulele kesayangannya. Pengerjaannya pun tampak serius, istilahnya itu proper bangetlah. Views yang dituai pun gila-gilaan, selalu tembus jutaan views. Tiga besarnya ada cover lagu “Celengan Rindu” milik Fiersa Besari sebanyak 47 juta views, disusul cover lagu Budi Doremi berjudul “Tolong” dengan jumlah views sebanyak 17 juta, dan di urutan ke tiga ada cover lagu kepunyaan The Overtunes feat Monita Tahalea berjudul “Jangan Hanya Bicara”, dengan jumlah penonton di angka 9,6 juta. Ih mantap betul, gak ada obatnya.
Lagu “Halu” Sebagai Pembuktian
Memiliki lagu sendiri, adalah salah satu impian para musisi. Itulah yang ingin dicapai oleh Feby. Setelah lima tahun berkarya lewat jalan cover lagu. Feby akhirnya mampu merilis lagu pribadinya, pada tanggal 22 Agustus 2019, dengan judul “Halu”. Lagu yang diciptakannya sendiri. Sebuah batu loncatan bagi Feby untuk unjuk karya dan eksistensi di belantika musik Indonesia.
Single debutnya itu mendapat respons yang segar dari netizen, jika patokannya adalah jumlah viewers, lagu “Halu” viewersnya ugal-ugalan, hingga kini di youtube sudah tembus 20 juta penonton. Yang lebih dahsyat, di platform spotify, lagu “Halu” sudah menyentuh 46 juta listeners, bukan main sodara-sodara. Jadwal manggung off air pun dimana-mana dan hampir setiap minggu ada. Live performancenya menarik, tidak mengecewakan. Kalau dikalkulasi pendapatannya dari youtube dan manggung, sudah bisa menutup biaya kuliahnya hingga wisuda kelak.
Kalau dibedah, memang lagu ““Halu” ini easy listening. Feby sudah paham benar pasar pendengarnya dan selera musik yang diterima di masyarakat. Lagu yang bertema soal patah hati, bucin, cinta bertepuk sebelah tangan, dan secret admirer, itulah beberapa tema yang laris. Nah, lagu “Halu” tentang mengangumi seseorang dalam sunyi, pokoknya relate banget buat remaja millenial. Nuansa lagunya juga mirip dengan lagu-lagu yang sering ia cover, bernuansa melow dan sendu. Sebuah ramuan yang sudah familiar dengan telinga para pendengarnya.
Bagi saya pencapaian Feby ini cukup fenomenal. Ia adalah musisi produk dunia digital, berkarya secara organik tanpa gimmick dan kontroversi. Tentu berat dengan titel penyanyi cover youtube, karena anggapan pesimis yang bersliweran, bahwa penyanyi cover kesulitan membuat lagu sendiri yang hits. Feby lewat single “Halu” bisa menepis semua itu. Kredit lebih saya berikan, karena semuanya dikerjakan secara independen. Perlu dicatat, Feby tidak punya privelege jebolan ajang pencarian bakat nyanyi di TV, dan timnya pun tidak berada dalam naungan label musik yang besar.
Peduli dengan Isu Mental Health dan Disabilitas
Mengutip potongan sajak mashyur milik WS Rendra berjudul Sajak Sebatang Lisong, “apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan”. Oke, mungkin terdengar agak berat, tapi ini yang saya lihat sedang diupayakan juga oleh Feby.
Anggapan awal saya saat mendengar lagu “Halu”, kesannya hanya sebuah lagu cinta baper anak muda. Hanya saja masing-masing punya interpretasi dan pemaknaan pada sebuah karya. Anggapan saya berubah saat menonton video klip lagu “Halu” di youtube. Si pembuat video klip, menerjemahkan lagu “Halu” menjadi visual tentang kisah pengidap skizofrenia, sebuah gangguan proses berpikir, yang sulit membedakan antara halusinasi dengan kenyataan.
Saya kutip dari deskripsi video tersebut bahwasannya Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi skizofrenia di Indonesia sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia. Persentase hasil dari video klip “Halu” ini digunakan untuk membantu penderita skizofrenia. Feby berpesan, mari menjadi generasi yang menggantikan stigma kesehatan mental dengan dukungan kesehatan mental.
Feby lalu melanjutkan kampanye sosialnya pada video klip single keduanya yang berjudul Usik, rilis pada 18 Maret 2020. Dalam deskripsi video klip itu, dikatakan bahwa Feby Putri dan tim melakukan riset bersama Teman Tuli di beberapa daerah dan ibu kota mengenai “Bullying & Hak Kesetaraan”. Berdasarkan data Communication Service for The Deaf estimasi pengguna bahasa isyarat di Indonesia sendiri mencapai di bawah 10.000 orang. Sebanyak 98% Teman Tuli di dunia tidak mendapatkan pendidikan dalam Bahasa Isyarat dan 70% Teman Tuli di seluruh dunia tidak mendapatkan pekerjaan. Video klip lagu Usik dedikasikan kepada Teman Tuli yang berjuang dalam pergerakan tentang Budaya Tuli dan Kesetaraan Hak yang sama dengan masyarakat dengar. Sungguh mulia dek Feby.
****
Karir Feby Putri adalah perpaduan antara bakat yang dipoles dengan ketekunan serta konsistensi, tak lupa pula attitude yang baik, serta branding dan strategi marketing jempolan. Feby bisa menjadi pengingat dan inspirasi buat siapapun yang sedang berkarya lewat mengcover lagu, untuk jangan terlalu nyaman dengan dunia itu saja, harus berani untuk berkarya membuat lagu sendiri. Feby yang berangkat dari penyanyi cover, membuktikan mampu membuat lagu sendiri menjadi hits dan viral, tanpa perlu bikin gimmick mengcover lagunya sendiri.
*)Penulis adalah penikmat musik apa saja. Lagu favoritnya adalah lagu “Mars Muhammadiyah”.
