f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Perempuan, Khalifah di Meja Makan

Oleh: David Efendi*

Semula judulnya “Menjaga Bumi dari Meja Makan, tulisan ini tidak bermaksud menggeser urusan perempuan menjadi hanya urusan di dapur dan meja makan. Namun potret menunjukkan bahwa dapur dan meja makan lebih banyak diperankan oleh perempuan.

Bulan puasa, orang bilang, perempuan akan sibuk menyiapkan menu berbuka puasa untuk keluarga dan komunitasnya. Ini bukan isu domestifikasi perempuan, tetapi tulisan ini sedang mencari kekuatan terbaiknya perempuan di dalam menjaga bumi yang diamanahkan Allah kepada ummat manusia.

Memimpin meja makan itu adalah bentuk paling nyata dari kekhalifahan manusia (perempuan).

Dalam banyak hal, wajah muram dan segar bumi ini ditentukan dari dapur kita, dari rupa warna meja makan yang diciptakan sehari-hari.

Kalau begitu, siapa yang paling ‘berkuasa’ menciptakan wajah meja makan itu? Sebagian manusia dalam kultur masyarakat kita barangkali akan menjawab: istri, ibu, pembantu rumah tangga. Atau bisa jadi majikan yang memberi petunjuk atas semua itu, bisa jadi ada dalih lainnya: iklan media yang mempengaruhi semua itu.

Ada pula jawaban yang agak jauh, semua ini gara-gara pemerintah yang tidak membangun sektor pangan lokal lebih serius sehingga kemasan tak ramah lingkungan membanjiri rumah, sehingga jejak ekologis dan jejak karbon yang diproduksi manusia semakin tak tertahankan oleh kemampuan bumi.

Di banyak perbincangan diskusi ekoliterasi kalangan muda-mudi Muhammadiyah, atau juga di luar itu, mengungkap ada dakwaan sangat keras, bahwa sumber keruskaan ekologi adalah karena perempuan. Segawat itu kah?

Dalihnya, perempuan menggunakan banyak peralatan, perlengkapan, dan kebutuhan. Misalnya peralatan kecantikan, kebersihan, mandi, dan asumsi yang tak terhindarkan adalah perempuan dianggap penentu wajah tidak ramah lingkungan dalam dapur.

Sedangkan dapur adalah pusat pangan, pusat jenis kemasan dan alat makan yang jika mengabaikan aspek lingkungan berakibat pada kehancuran alam, tentu karena limbah yang diciptakannya.

Perempuan yang lebih banyak dan/atau berkecimpung pada meja makan dan dapur tidak selalu berkonotasi negatif. Mereka adalah pemimpin, karena mereka, persoalan lingkungan teratasi. Hal itu dilihat dari, Pertama, perempuan yang dianggap membawa ‘kehancuran alam’ itu juga melekat dalam dirinya penawar racun ekosida (pembunuhan lingkungan hidup). Hanya dengan sedikit pengetahuan ekologi perempuan akan bisa melipatgandakan energi terbaiknya untuk menyelamatkan lingkungan dari dapur, dari meja makannya.

Kedua, banyak sekali aktifis dan intelektual ekologi yang ‘moncer’ adalah perempuan. Kita bisa sebutkan  mulai dari Rachel Carson, Wangari Maathai (Penerima Nobel karena gerakan Sabuk Hijau), Greta Thunberg (remaja yang menggerakkan jutaan manusia untuk keadilan iklim), di Indonesia, ada Aleta Baun, aktifis ekofeminisme, Dewi Candraningrum, Siti Mutmainah,  Siti Nurbaya, “Kartini Kendeng”, dan masih banyak lagi.

Tentu saja dari keluarga besar Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah yang menekuni pembangunan keluarga Sakinah akan melekat praktik hidup ramah lingkungan. Hal itu bisa dilihat dari panduan keluarga sakinah, pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Fikih Air, dan seterusnya yang akrab di kalangan Muhammadiyah.

Baca Juga  Perempuan sebagai Rumah Cinta

Tapi ada benarnya, you are what you eat! Kalau kita memakan apa saja tanpa peduli dari mana asal makanan, bagaimana kemasannya, apa kandungan di dalamnya, bagaimana diolah, bagaimana jejak karbonnya, maka ada bahaya besar yang dibangun dari meja makan: bahaya kerusakan lingkungan dan distabilisasi ekologi yang tak terhindarkan.

Beberapa kota mulai kesulitan mengurus sampah plastiknya, sungai, pantai, danau semua udah penuh sesak dengan sampah plastik. Jakarta dan Yogyakarta sudah darurat sampah (laporan harian Kompas, 2019). Tak kalah gilanya juga, banyak sampah sisa makanan yang luar biasa di tengah banyaknya manusia yang justru tidak bisa makan di republik ini.

Beberapa media melaporkan Indonesia adalah penghasil sampah sisa makanan terbesar kedua di dunia (The Economist Intellegence unit, 2016).  Karenanya, agenda mendesak kita perlu mencari pahlawan lingkungan yang dilahirkan dari dapur dan meja makan. Kita sendiri bisa melahirkannya, pahlawan-pahlawan penyelamat lingkungan itu.

Pahlawan Meja Makan

Perempuan adalah pahlawan dalam banyak urusan. Di tengah krisis ekonomi dan pandemi perempuan paling keras memperoleh dampaknya dalam keluarga. Dalam urusan pengendalian sampah atau limbah rumah tangga/dapur, perempuan yang paling memungkinkan mengupayakannya.

Termasuk perempuan juga yang bisa mengerem pilihan produk ramah lingkungan, yang akan disajikan di meja makan keluarga. Walau posisi ibu rumah tangga memiliki tantangan berat, mereka ‘penentu atau decision maker’, influencer urusan makanan dan perabotan rumah.

Tahun 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyarankan pemilahan sampah harus dilakukan melalui rumah tangga. Ini karena 62 % sampah yang ada di Indonesia berasal dari rumah tangga. Artinya, cara memutus bongkah raksasa sampah paling radikal ya dari meja makan.

Sebab, dari dapur rumah dan meja makan menghasilkan sampah sisa makanan sebanyak 44 %. Sisanya adalah plastik 15 %, kertas 13 %, kain atau tekstil 3 %, logam 2 %, karet atau kulit 2 %, kaca 2 % dan lainnya 8 %.

Pertanyaanya bisakah kuasa perempuan atas meja makan itu dapat berdaya di tengah ekspansi bisnis makanan dan barang yang tidak ramah lingkungan? Beberapa penulis dan pemerhati lingkungan berusaha memberikan jawaban yang kontekstual dimulai dari kekuatan pemahaman Islam dan penguatan-pengetahuan, serta praktik ekologi  atau yang disebut sebagai Pendidikan ekoliterasi

Kenapa Islam? Secara umum, umat Islam adalah penghuni planet bumi dalam skala besar, yang menerima akibat terburuk apabila terdapat kerusakan dalam lingkungan, termasuk saat terjadinya pandemi ini.

Untuk itu, ada dua urusan mendesak yang perlu diperkuat untuk menjadikan pahlawan meja makan memiliki kekuatan bertahan yang prima dan berkelanjutan.

Pertama, menjadikan Islam sebagai agama konservasi yaitu agama yang terus berusaha menjadi rahmat bagi lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan menurut Islam sangat penting diinternalisasi kepada ummat Islam terlebih penguasa dapur.

Baca Juga  Hadist Ini Perbandingan Akal Laki-laki dan Perempuan ?

Di dalam buku Green Deen: Inspirasi Islam dalam Menjaga dan mengelola Alam, Ibrahim Abdul-Matin (2010) menjelaskan, terdapat 6 prinsip Islam yang akan menolong bumi yaitu: tawhid, ayat, amanah, khalifah, ‘adl, mizan.

Sementara dalam buku Fachruddin M. Mangunjaya (2019), Konservasi dalam Islam: tauhid, al-khalq, al mizan, fitrah, khalifah, al istishah (kemaslahatan). Muhammadiyah juga memiliki pedoman beragam dalam konteks Fiqh al Biah misalnya Fikih Air, teologi lingkungan, Fikih Kebencanaan dan Agraria.

Semua pembahasan hasanah Islam dalam urusan lingkungan hidup ini membenarkan bahwa Islam itu sesungguhnya agama yang “berenergi surga” yaitu agama yang memuliakan air, tenaga matahari, angin, agama yang pro konservasi tanah.

Penguasa Meja makan dengan demikian akan memiliki kesadaran ekologis baru dengan elan vital baru yang ditopang oleh kesadaran qur-ani: “manusia dilarang untuk membuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak suka terhadap orang-orang yang membuat kerusakan (QS. Al-Baqarah: 11), “…manusia memiliki tugas sebagai khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30), “makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan” (Al-A’raf ayat 31).

Menjadi khalifah tidak perlu yang abstrak, itu bisa dimulai dari dapur dan meja makan.

Dari meja makan itulah lahirlah bentuk kesalehan aktual, yaitu kesalehan ekologis. Kesalehan yang menggambarkan perilaku manusia yang mampu menjaga, melestarikan, mengelola, memperbaiki, dan mendayagunakan lingkungan secara adil, melakukan konservasi untuk kemaslahatan manusia dan non manusia.

Bulan puasa juga memberi pelajaran bagi kita agar menerapkan praktik konservasi sekaligus emansipasi/advokasi lingkungan hidup, karena ada kendali untuk mengkonsumsi yang tidak bijak, konsumsi yang berakibat nyampah. Dengan demikian, Islam benar benar sebagai agama konservasi.

Kedua, pendidikan ekoliterasi di meja makan. Ada banyak sekali pengetahuan lingkungan yang dapat menolong kehidupan manusia itu sendiri. Setidaknya para penjaga meja makan dan menteri urusan dapur itu (baik laki-laki maupun perempuan) mengetahui dua hal yaitu jejak ekologis dan jejak karbon (ecological footprint).

Jejak ekologis, berfungsi untuk menganalisa perbandingan kebutuhan manusia terhadap alam dengan kemampuan alam untuk meregenerasi sumberdayanya. Sumberdaya alam itu memiliki keterbatasan. Sedangkan jejak ekologis diukur dengan menganalisa jumlah dari lahan produktif darat dan laut yang dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi yang diperlukan manusia.

Dalam metode penghitungan jejak ekologis, semua bentuk sumber daya alam dikonversi dalam sebuah satuan pengukuran yang disebut global hektar (gha). Sedangkan jejak karbon merupakan perangkat analisis untuk mengukur dan mengomunikasikan dampak pemanfaatan sumber daya pada lingkungan. Komponen yang dianalisis adalah penggunaan energi langsung misalnya air, listrik, material dan limbah, pangan, transport personal, pakaian, dan bangunan.

Baik jejak ekologis dan jejak karbon, kedua pengetahuan ini berguna menjadikan alat kontrol dan pengerem untuk tidak membabi buta dalam gaya konsumsi. Karena, semua yang kita lakukan selalu memberikan dampak bagi lingkungan dan kita juga harus siap jika lingkungan mengamuk akibat salah kelola ulah manusia.

Baca Juga  Darurat Reproduksi di Tengah Bencana

Penguasa dapur didukung untuk mengkonsumsi pangan yang sedikit memberikan limbah dan juga penggunaan energi bersih (sedikit emisi yang akan menjadi gas rumah kaca dan berakibat pada perubahan iklim).

Manusia harus punya welas asih, adil, amanah, kepada keberlanjutan ekosistem kehidupan yang merupakan anugerah yang harus dimakmurkan. Bumi adalah masjid, seru Ibrahim Abdul-Matin, seorang praktisi agama hijau asal Amerika, sehingga harus dijaga kesuciannya dari kotoran akibat ambisi kita.

Zaman ini, dalam kegairahan yang dibangkitkan oleh kekuatan ilmu dan teknik,  manusia modern telah menciptakan sistem produksi yang memperkosa alam dan membangun jenis masyarakat yang merusak manusia. (Schumacher, 1984).

Mengadopsi gagasan Joseph Pieper (1955), Schumacher menekankan bahwa kehidupan beradab yang sebenarnya harus dibangun dari tiga prinsip: justitia, firtitudo, temperantia.  Katakanlah ketiga prinsip itu dapat dipayungi dengan kata “kebijaksanaan” atau prudence.

Kebijaksanaan berarti kerja keras menterjemahkan pengetahuan mengenai kebenaran jadi keputusan keputusan yang berhubungan dengan realitas (hal. 279). Kali ini, kebijakan itu adalah kebajikan yang berusaka memperbaiki planet dimulai dari dapur dan meja makan. Bukankah itu sangat empiris dan realistis?

Revolusi dari Meja Makan

Seorang pemimpin meja makan atau khalifah itu tugasnya berat. Para pengikutnya pun harus punya kesadaran paripurna akan akibat yang ditimbulkan apabila abai terhadap keamanan lingkungan: bisa dibayangkan kota yang banjir sampah, penyakit, bau busuk dimana-mana, pemanasan suhu udara, dan hilangnya sumber air.

Setiap penghuni meja makan dapat berkontribusi untuk konsumi bijak dan ekologis. Gerakan lingkungan yang masif dimulai dari dapur, barangkali dimulai dari kita dan perempuan muda berkemajuan lainnya untuk memulai berperan atas keselamatan bumi. Sangat sulit mengandalkan pemimpin negara untuk meakukan itu semua.

Islam merupakan agama reflektif juga agama aktual, dan puasa memberi kesempatan lebih mendalam untuk melakukan refleksi atas praktik ekologi yang selama ini dilakoni.

Bukanlah Islam yang sebenarnya, jika tidak menjadi bagian yang menyelesaikan masalah-masalah yang ada, Bukanlah puasa yang sebenarnya, jika puasa tidak punya dimensi pembelaan terhadap kemaslahatan lingkungan hidup.

Meja makan adalah kunci semua perbaikan itu. Bagaimana cara mewujudkannya? Laki dan perempuan saling urun daya untuk menegakkan keadilan lingkungan yang menjadi fondasi bagi kemaslahatan semua makhluk hidup untuk bertahan di bumi.

Pahlawan meja makan itu adalah khalifah yang nyata yang dibutuhkan planet bumi hari ini. Khalifah itulah yang ditugasi mencegah beragam ekspansi iklan dan kekuatan gaya hidup yang mengeroyok pikiran, yang mendesak-desakkan bujukannya untuk merusak bumi dari meja makan.

Revolusi itu kini ada di tangan para penguasa meja makan. Que sera, sera!.

*Penulis dan Kader Hijau Muhammadiyah

Bagikan
Comments
  • Mul

    Pepak tenan, Prof David

    Mei 5, 2020
Post a Comment